Wall Street Ambruk Dipicu ‘Sell Off’ Saham Teknologi, Dow Jones Ambles 1.800 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Pasar saham Amerika Serikat (AS) mengalami aksi jual besar-besaran pada perdagangan Kamis waktu AS atau Jumat (6/11/2026) WIB. Indeks utama Wall Street terpuruk setelah investor berbondong-bondong meninggalkan saham teknologi, terutama perusahaan yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI), di tengah kekhawatiran perlambatan pembangunan pusat data atau data center.
Tekanan jual tersebut menghapus sebagian besar keuntungan yang diraih pasar sehari sebelumnya setelah kemenangan besar Partai Demokrat dalam pemilihan sela AS atau midterm elections.
Baca Juga
Wall Street Melesat Usai Pemilu Sela AS, Dow Jones Terbang di Atas 1.600 Poin
Nasdaq Composite anjlok 5,52% dan ditutup pada 24.315,00. Penurunan tersebut membawa indeks yang didominasi saham teknologi itu memasuki wilayah koreksi atau correction territory, setelah merosot lebih dari 10% dari rekor tertinggi yang dicapai bulan lalu.
Indeks S&P 500 turun 4,36% menjadi 7.353,73. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average kehilangan 1.833,06 poin atau 3,44% dan berakhir di posisi 51.523,06.
Penurunan Dow Jones menghapus lebih dari seluruh kenaikan yang dibukukan dalam reli besar pada Rabu. Ketiga indeks utama Wall Street sekaligus mencatatkan kinerja harian terburuk sejak April 2025.
Tekanan juga melanda saham-saham berkapitalisasi kecil. Indeks Russell 2000 turun 4,5% dan turut memasuki wilayah koreksi.
Aksi jual ini menunjukkan perubahan sentimen investor yang berlangsung cepat. Setelah sebelumnya menyambut positif hasil pemilu sela AS, pasar kini justru mencermati dampak kemenangan Demokrat terhadap arah kebijakan sektor teknologi dan investasi infrastruktur AI.
Kemenangan Demokrat Picu Kekhawatiran Industri AI
Saham-saham yang berkaitan dengan perdagangan AI, khususnya produsen chip dan perusahaan pusat data, kembali mengalami tekanan.
Investor khawatir kemenangan Demokrat dalam perebutan kedua kamar Kongres, ditambah keberhasilan partai tersebut dalam sejumlah pemilihan gubernur strategis, dapat memperlambat ekspansi pusat data di AS.
Baca Juga
Demokrat Kuasai Kongres AS, Ini Strategi Trump Hadapi Tekanan Politik Pasca-Pemilu
Salah satu tokoh yang menjadi perhatian pasar adalah Senator Bernie Sanders dari Vermont, yang berafiliasi dengan kelompok Demokrat di Senat. Sanders sebelumnya menyerukan moratorium nasional terhadap pembangunan pusat data.
Dalam unggahannya di platform X pada Rabu malam, Sanders menyatakan masyarakat AS tidak menginginkan perusahaan teknologi besar merusak lingkungan, menghilangkan lapangan pekerjaan, dan mengancam masa depan umat manusia.
Pernyataan tersebut memperkuat kekhawatiran investor mengenai kemungkinan munculnya hambatan regulasi dan politik terhadap ekspansi infrastruktur AI.
Padahal, pembangunan pusat data dan investasi infrastruktur AI selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan industri teknologi sekaligus pasar saham AS.
Analis menilai perubahan sikap pemerintah dan Kongres terhadap industri tersebut berpotensi memengaruhi belanja modal perusahaan teknologi, terutama investasi untuk pusat data, semikonduktor, jaringan listrik, dan infrastruktur komputasi.
“Investor kini memilih mengurangi eksposur terhadap saham-saham terkait AI sampai memperoleh gambaran lebih jelas mengenai implikasi hasil pemilu terhadap siklus belanja modal industri tersebut,” beber Tim Holland, chief investment officer Orion, seperti dikutip CNBC.
Menurut dia, investasi AI merupakan salah satu pendorong ekonomi terbesar dalam sekitar tiga tahun terakhir. Karena itu, perubahan arah kebijakan politik terhadap sektor tersebut menjadi perhatian serius pasar.
Saham Nvidia dan Broadcom Anjlok 9%
Aksi jual paling tajam terjadi pada saham-saham semikonduktor dan perusahaan teknologi yang selama ini menjadi penerima manfaat utama ledakan investasi AI.
Saham Broadcom dan Nvidia masing-masing merosot sekitar 9%. Saham perusahaan perangkat lunak Oracle juga turun 7%.
Baca Juga
Wall Street Melemah, Investor Cermati Data Inflasi AS dan Kinerja Nvidia
Tekanan semakin besar setelah Qualcomm melaporkan kinerja keuangan yang melampaui perkiraan analis. Namun, saham perusahaan semikonduktor tersebut justru anjlok 10% setelah memberikan proyeksi laba yang lebih lemah dari ekspektasi pasar.
Dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) iShares Semiconductor atau SOXX bahkan merosot lebih dari 10%. Jika bertahan pada level tersebut, penurunan itu akan menjadi kinerja harian terburuk sejak pandemi Covid-19 merebak pada Maret 2020.
Tekanan juga meluas ke perusahaan penyedia layanan komputasi awan generasi baru atau neocloud. Saham CoreWeave turun 11%, sedangkan Nebius dan Iren masing-masing merosot sekitar 16%.
Perusahaan-perusahaan tersebut menghadapi kekhawatiran investor mengenai potensi penolakan politik dan masyarakat terhadap pembangunan pusat data di sejumlah negara bagian AS setelah hasil pemilu.
Aksi Jual Menular ke Sektor Lain
Besarnya tekanan jual pada saham teknologi akhirnya merembet ke sektor-sektor lain yang sebelumnya relatif lebih tahan terhadap gejolak pasar.
Saham perusahaan industri Caterpillar turun 5%, sedangkan JPMorgan Chase melemah 4%. Saham Boeing dan Nike masing-masing terkoreksi sekitar 3%.
Chief Investment Officer Truist Wealth, Keith Lerner, mengatakan aksi jual yang awalnya terkonsentrasi pada saham teknologi kini mulai memengaruhi pasar secara lebih luas.
Menurut dia, tekanan jual di sektor teknologi semakin besar dan mulai menciptakan efek berantai terhadap berbagai kelompok saham lainnya.
Kondisi ini menunjukkan investor tidak sekadar melakukan rotasi sektoral, tetapi juga mulai mengurangi risiko portofolio di tengah meningkatnya ketidakpastian.
Reli Pasca-Pemilu Berbalik Arah
Kondisi pasar pada Kamis berbanding terbalik dengan perdagangan Rabu (4/11/2026), ketika Wall Street mencatatkan reli besar setelah kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela.
Pada perdagangan tersebut, Dow Jones melonjak lebih dari 1.600 poin dan mencatatkan kenaikan harian terbaik sejak April 2025. S&P 500 dan Nasdaq Composite juga masing-masing menguat lebih dari 1%.
Saat itu, investor menyambut hasil pemilu dengan optimisme terhadap saham-saham yang sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi. Namun, saham terkait AI justru sudah menunjukkan tekanan. Kini, perhatian pasar bergeser dari dampak politik jangka pendek menuju prospek investasi teknologi dalam beberapa tahun mendatang.
