Wall Street Ambruk Dipicu Eskalasi Konflik AS-Iran dan Lonjakan Harga Minyak, Dow ‘Drop’ Lebih dari 400 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Pasar saham Amerika Serikat (AS) mengawali September dengan tekanan berat setelah eskalasi konflik AS-Iran. Harga minyak bergerak mendekati US$95 per barel dan kembali memicu kekhawatiran inflasi.
Pada perdagangan di Wall Street Selasa waktu AS atau Rabu (2/9/2026) WIB, Dow Jones Industrial Average turun 419,02 poin atau 0,79% menjadi 52.766,88. Indeks S&P 500 melemah 0,71% ke 7.631,47, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi lebih dalam, yakni 1,03%, menjadi 26.099,77.
Baca Juga
Serangan AS ke Iran Tekan Wall Street, Dow Anjlok Hampir 400 Poin
Penurunan Wall Street terjadi setelah Komando Pusat AS mengonfirmasi bahwa pasukan AS menyerang target IRGC di Iran. Eskalasi tersebut membuat investor kembali memperhitungkan risiko gangguan pasokan minyak dunia.
Harga minyak mentah AS melonjak 5,2% dan ditutup pada US$90,22 per barel. Minyak Brent naik 4,6% menjadi US$94,65 per barel.
Lonjakan tersebut melanjutkan kenaikan harga minyak sejak awal pekan setelah AS dan Iran kembali terlibat dalam aksi militer. Sebuah kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz juga dilaporkan terkena tiga proyektil tak dikenal pada Senin.
Presiden Donald Trump kemudian mengancam akan memberikan respons terhadap serangan Iran terhadap pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Dampak Lonjakan Harga Minyak
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian utama investor karena komoditas energi memiliki pengaruh besar terhadap inflasi. Minyak yang lebih mahal dapat meningkatkan biaya transportasi dan produksi serta pada akhirnya mendorong harga barang dan jasa.
Kekhawatiran tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara.
Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun naik ke level tertinggi sejak Januari 2025. Di Jepang, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak Agustus 1996, sedangkan yield obligasi acuan Jerman naik ke level tertinggi sejak 2011.
Kenaikan yield global mencerminkan kekhawatiran investor bahwa harga minyak yang bertahan tinggi dapat memperpanjang tekanan inflasi dan memengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral, terutama Federal Reserve.
The Fed dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan berikutnya dalam waktu sekitar dua pekan. Pasar kini semakin memperhatikan apakah kenaikan harga energi dan risiko inflasi akan membuat bank sentral AS mempertahankan suku bunga lebih tinggi atau bahkan menaikkannya.
Baca Juga
Yield Obligasi AS 10-Tahun Tembus 4,79%, Tertinggi Sejak Januari 2025
Menurut Ross Mayfield, ahli strategi investasi Baird, pasar saham secara historis kesulitan menghadapi pergerakan besar dan volatil di pasar obligasi.
“Pasar saham akan selalu kesulitan mencerna pergerakan besar dan volatil di pasar obligasi,” kata Mayfield, dikutip CNBC.
Menurut dia, tekanan dari pasar obligasi kemungkinan masih akan menjadi persoalan dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Meski demikian, Mayfield menilai data ekonomi AS sejauh ini belum menunjukkan perubahan yang cukup kuat untuk membenarkan kenaikan suku bunga pada September.
Pasar berjangka Fed Funds menunjukkan probabilitas sekitar 68% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya, berdasarkan CME FedWatch.
Namun, Mayfield masih memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada September. Ia memperkirakan bank sentral kemungkinan baru menaikkan suku bunga setidaknya sekali sebelum akhir tahun.
“Pasar saat ini mengantisipasi kenaikan suku bunga, atau setidaknya memberikan peluang lebih besar untuk kenaikan dibandingkan mempertahankan suku bunga. Saya masih berpikir mereka akan menahan suku bunga pada September, tetapi kemungkinan harus menaikkannya setidaknya sekali sebelum akhir tahun,” ujar Mayfield.
Meski begitu, ia mengingatkan bahwa banyak hal masih dapat berubah sebelum pertemuan The Fed. Salah satu data penting yang akan menjadi perhatian investor adalah laporan ketenagakerjaan AS untuk Agustus yang dijadwalkan dirilis pada Jumat.
Data tenaga kerja tersebut dapat menjadi faktor penting dalam menentukan apakah tekanan inflasi akibat kenaikan harga minyak cukup kuat untuk mengubah ekspektasi kebijakan moneter.
Selain persoalan inflasi dan suku bunga, September juga secara historis dikenal sebagai salah satu bulan yang kurang menguntungkan bagi pasar saham AS.
Dengan demikian, investor kini menghadapi kombinasi risiko yang cukup kompleks: eskalasi geopolitik AS-Iran, potensi gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz, kenaikan harga minyak, peningkatan yield obligasi, serta ketidakpastian arah kebijakan The Fed.
Baca Juga
Eskalasi Konflik AS-Iran Meningkat, Minyak Brent Dekati US$ 95 per Barel
Jika harga minyak terus bertahan di sekitar atau di atas US$90 per barel, tekanan terhadap ekspektasi inflasi dapat semakin besar. Kondisi itu berpotensi membuat pasar kembali memperhitungkan suku bunga yang lebih tinggi dan untuk waktu lebih lama.
Sebaliknya, apabila ketegangan AS-Iran mereda dan lalu lintas tanker di Selat Hormuz kembali normal, tekanan terhadap harga energi dan yield obligasi berpotensi berkurang.
Untuk saat ini, pasar masih menunggu dua indikator utama: perkembangan konflik AS-Iran dan data ketenagakerjaan AS yang akan menjadi salah satu pertimbangan penting The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga berikutnya.
