Wall Street Ambruk Dipicu Lonjakan Harga Minyak dan Yield Obligasi, Dow Anjlok Lebih 600 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham Amerika Serikat (AS) turun tajam pada perdagangan Rabu waktu AS atau Kamis (4/6/2026) WIB. Kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah memicu kekhawatiran bahwa inflasi akan tetap tinggi akibat konflik yang semakin memanas antara Amerika Serikat dan Iran.
Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 620,72 poin atau 1,21% ke level 50.687,07.
Indeks S&P 500 kehilangan 0,74% ke posisi 7.553,68 dan mengakhiri reli sembilan hari berturut-turut. Sementara itu, Nasdaq Composite turun 0,89% menjadi 26.853,98.
Baca Juga
Wall Street Pecah Rekor Lagi, Dow Melonjak Lebih 200 Poin, S&P 500 Tembus 7.600 Pertama Kali
Tekanan pasar muncul setelah harga minyak kembali melonjak menyusul serangan baru antara Washington dan Teheran.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,41% menjadi US$96,02 per barel, sedangkan Brent menguat 1,89% ke US$97,81 per barel.
Presiden Donald Trump mengatakan Iran telah menyetujui untuk tidak memiliki senjata nuklir, namun memperingatkan bahwa pemerintah Iran dapat sewaktu-waktu mengubah keputusan tersebut.
Ketegangan meningkat setelah militer Kuwait melaporkan sistem pertahanan udaranya mencegat sasaran udara yang dianggap mengancam. Komando Pusat AS (CENTCOM) kemudian menyatakan berhasil menggagalkan serangan rudal balistik dan drone Iran serta melancarkan serangan balasan ke Pulau Qeshm sebagai tindakan pertahanan diri.
Yield Obligasi Naik
Selain harga minyak, pasar juga dibebani lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Yield Treasury tenor 10 tahun mendekati level 4,5%, sedangkan tenor 30 tahun hampir menyentuh 5%.
Kenaikan tersebut terjadi setelah laporan tenaga kerja ADP menunjukkan kondisi pasar kerja yang tetap kuat. Data aktivitas sektor jasa juga menunjukkan ekonomi AS masih bertumbuh, meski sedikit melambat.
Menurut Shawn Snyder, analis strategi ekonomi Potomac Fund Management, pasar mulai menilai bahwa Federal Reserve akan kesulitan memangkas suku bunga apabila pertumbuhan ekonomi tetap solid.
“Apa yang Anda lihat hari ini adalah penarikan kembali atas anggapan bahwa mungkin tidak mudah untuk memangkas suku bunga ketika ekonomi tampaknya sedang berakselerasi,” kata Shawn Snyder, seperti dikutip CNBC.
Baca Juga
Inflasi Inti PCE AS Sentuh 3,3%, The Fed Diperkirakan Tetap Tahan Suku Bunga
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan The Fed masih berpotensi menaikkan suku bunga setidaknya 25 basis poin sebelum akhir tahun.
Aksi Jual Saham Teknologi
Sentimen negatif juga diperkuat aksi jual pada saham-saham teknologi dan kecerdasan buatan yang sebelumnya menjadi motor utama reli Wall Street.
Saham Nvidia dan Dell Technologies masing-masing turun lebih dari 3%, sementara Oracle merosot lebih dari 5%. Microsoft juga terkoreksi sekitar 3%.
Koreksi sektor teknologi tersebut menunjukkan investor mulai melakukan rotasi portofolio dari saham pertumbuhan menuju aset yang dianggap lebih defensif di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, inflasi energi, dan prospek suku bunga yang lebih tinggi.
Baca Juga
Trump Perketat Syarat Damai Iran, Negosiasi Nuklir Kembali Buntu
Bagi pasar global, perkembangan konflik AS-Iran kini menjadi faktor utama yang dapat menentukan arah harga minyak, inflasi dunia, serta kebijakan bank sentral dalam beberapa bulan mendatang.

