Wall Street Ambruk Terseret Eskalasi Konflik Timur Tengah, Dow Anjlok Lebih 400 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Tekanan di pasar keuangan global kian dalam setelah konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel terus meningkat tanpa tanda deeskalasi. Bursa saham Amerika Serikat ditutup turun tajam pada Jumat waktu AS atau Sabtu (21/3/2026) WIB. Indeks utama Wall Street mendekati fase koreksi di tengah lonjakan harga energi dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Dow Jones Industrial Average kehilangan 443,96 poin atau 0,96% ke level 45.577,47. S&P 500 turun 1,51% menjadi 6.506,48, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi lebih dalam sebesar 2,01% ke 21.647,61. Tekanan juga menghantam saham kapitalisasi kecil, dengan Russell 2000 resmi masuk wilayah koreksi setelah merosot lebih dari 10% dari puncaknya.
Baca Juga
Menlu Iran Melontarkan Ancaman “Tanpa Batas” Jika Infrastruktur Diserang Lagi oleh Israel dan AS
Pasar sempat bergerak lebih dalam ke zona koreksi pada sesi intraday, sebelum sedikit pulih menjelang penutupan. Namun arah pergerakan tetap mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap risiko eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah.
Ketegangan meningkat setelah Iran dan Israel kembali saling melancarkan serangan, termasuk terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk Persia. Laporan media AS menyebut Pentagon tengah mengirim tambahan ribuan Marinir ke kawasan tersebut, bahkan membuka kemungkinan pengerahan pasukan darat.
Situasi kian memanas setelah Irak mengumumkan force majeure atas ladang minyak yang dioperasikan perusahaan asing—langkah yang langsung memicu lonjakan harga minyak global. Brent sempat menembus US$113 per barel, sementara WTI melampaui US$98.
Lonjakan energi ini menjadi katalis utama tekanan pasar. Investor kini menghadapi kombinasi risiko: gangguan pasokan energi, inflasi yang berpotensi kembali naik, serta kemungkinan tertundanya pelonggaran kebijakan moneter oleh Federal Reserve.
“Pasar belum sepenuhnya mencerminkan risiko eskalasi ini. Jika konflik meluas dengan keterlibatan pasukan darat, tekanan bisa berlangsung berminggu-minggu,” ujar Ross Mayfield, investment strategist Baird, seperti dikutip CNBC.
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut memperburuk sentimen. Ekspektasi bahwa bank sentral akan menahan suku bunga lebih lama memicu rotasi keluar dari aset berisiko, terutama saham teknologi yang sebelumnya menjadi motor reli pasar.
Saham-saham unggulan seperti Nvidia dan Tesla masing-masing turun sekitar 3%, mencerminkan aksi ambil untung sekaligus pergeseran portofolio ke aset yang lebih defensif. Namun, bahkan sektor utilitas yang biasanya stabil tidak luput dari tekanan akibat lonjakan yield.
Secara mingguan, ini menjadi pekan keempat berturut-turut pasar saham AS mencatatkan penurunan—sinyal bahwa fase koreksi mulai terbentuk secara lebih sistematis.
Baca Juga
Wall Street Melemah Dua Hari Beruntun, Investor Cermati Arah Konflik Timur Tengah
Meski demikian, S&P 500 masih relatif lebih tahan, dengan penurunan sekitar 7% dari puncaknya. Analis menilai struktur indeks yang lebih terdiversifikasi membuatnya lebih resilien dibanding Nasdaq yang sarat saham teknologi.
“Dalam kondisi ketidakpastian tinggi seperti sekarang, koreksi 10% adalah hal yang wajar. Ini mencerminkan pasar sedang mencari titik keseimbangan baru,” kata Art Hogan dari B. Riley.
Ke depan, arah pasar akan sangat ditentukan oleh perkembangan geopolitik dan stabilitas harga energi. Setiap eskalasi di kawasan Teluk berpotensi memperpanjang volatilitas, sekaligus menahan pemulihan pasar global dalam jangka pendek.

