Wall Street Tertekan Harga Minyak dan Yield Obligasi AS, Dow Jones ‘Drop’ 400 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Bursa saham Amerika Serikat kembali melemah pada perdagangan Rabu waktu AS atau Kamis (10/9/2026) WIB, memperpanjang penurunan tiga hari berturut-turut. Investor menghadapi tekanan dari kenaikan yield Treasury AS dan harga minyak yang kembali menembus US$100 per barel.
Dow Jones Industrial Average turun 405,41 poin atau 0,77% menjadi 52.380,66. S&P 500 turun 0,48% ke 7.636,36, sedangkan Nasdaq Composite melemah 0,64% menjadi 26.253,34.
Baca Juga
Ketiga indeks utama Wall Street tersebut mencatat penurunan selama tiga sesi perdagangan berturut-turut. Associated Press mencatat Russell 2000 bahkan turun 1,3%, menunjukkan tekanan yang lebih besar terhadap saham-saham berkapitalisasi kecil.
Tekanan dari Yield Obligasi.
Yield Treasury 10 tahun melonjak setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana membeli kembali hingga US$6 miliar obligasi jangka panjang. Yield tersebut sempat mencapai sekitar 4,85%, level tertinggi sejak 2023.
Baca Juga
Yield Obligasi AS 10-Tahun Sentuh 4,85%, Buyback US$ 6 Miliar Tak Mampu Redam Gejolak Pasar
Kebijakan yang dirancang untuk membantu menstabilkan pasar obligasi ternyata tidak langsung menghasilkan penurunan yield.
Investor sebelumnya berharap Pemerintah akan melakukan intervensi lebih besar. Ketika angka US$6 miliar diumumkan, sebagian pelaku pasar menilai jumlah tersebut masih berada di batas bawah ekspektasi.
Kenaikan yield menjadi masalah bagi saham karena obligasi pemerintah AS memberikan alternatif investasi dengan tingkat imbal hasil yang semakin menarik. Pada saat yang sama, biaya pendanaan perusahaan meningkat dan valuasi saham, terutama saham teknologi dengan valuasi tinggi, mendapat tekanan.
Namun, masalah Wall Street tidak berhenti di pasar obligasi.
Harga minyak mentah Brent melonjak 3,36% menjadi US$101,21 per barel. WTI naik 3,25% menjadi US$96,05. Keduanya mencatat level penutupan tertinggi sejak Mei.
Lonjakan harga minyak terjadi ketika konflik Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat dan mengancam lalu lintas energi di sekitar Selat Hormuz.
Kekhawatiran pasar adalah gangguan terhadap pengiriman minyak dari kawasan Teluk akan memperketat pasokan global dan mendorong harga energi semakin tinggi.
Bagi ekonomi AS, harga minyak yang lebih mahal menciptakan persoalan ganda. Konsumen menghadapi kenaikan harga bahan bakar, sementara perusahaan menghadapi peningkatan biaya energi dan transportasi.
Lebih jauh, kenaikan harga minyak dapat memperbesar tekanan inflasi. Kondisi tersebut berpotensi membuat Federal Reserve lebih sulit menurunkan suku bunga atau bahkan meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga.
Pasar kini menunggu data inflasi AS yang akan menjadi indikator penting menjelang keputusan Federal Reserve berikutnya.
Kombinasi minyak di atas US$100 dan yield Treasury yang mendekati 5% menjadi sinyal yang tidak nyaman bagi pasar saham.
Thomas Martin dari Globalt Investments mengatakan pasar sejauh ini masih relatif bertahan meski menghadapi tekanan dari harga minyak dan suku bunga.
Namun, ia menilai sentimen investor terhadap saham dan suku bunga sama-sama berada pada level ekstrem.
“Dua hal itu tidak seharusnya bisa hidup berdampingan terlalu lama,” ujar Martin, dikutip CNBC.
Kekhawatiran lain adalah kemungkinan harga minyak bergerak menuju US$120 per barel. Jika skenario tersebut terjadi, tekanan terhadap inflasi akan semakin kuat dan pasar kemungkinan kembali memperhitungkan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Dengan demikian, perhatian investor kini terpecah antara tiga risiko utama: perang AS-Iran dan energi, lonjakan yield Treasury, serta respons Federal Reserve.
Selama ketiga risiko tersebut bergerak ke arah yang sama, yaitu inflasi lebih tinggi dan suku bunga lebih tinggi, ruang bagi reli saham AS akan semakin terbatas.
