Yield Obligasi AS 10-Tahun Tembus 5,1%, Tertinggi dalam 19 Tahun
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) melonjak, dengan yield Treasury 10 tahun menembus level 5,1% dan mencapai posisi tertinggi dalam 19 tahun. Kenaikan tajam tersebut dipicu kombinasi data ekonomi AS yang kuat, pernyataan hawkish pejabat Federal Reserve, lemahnya permintaan dalam lelang obligasi, serta harga minyak yang tetap tinggi.
Yield Treasury 10 tahun melonjak lebih dari 13 basis poin menjadi 5,104% pada Rabu (23/9/2026). Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak Juli 2007.
Baca Juga
Kenaikan Yield Treasury Guncang Pasar AS, Wall Street Bergerak ‘Volatile’
Imbal hasil Treasury acuan global ini melaju cepat setelah menembus level psikologis 5%. Lonjakan harian ini menjadi yang terbesar sejak 7 April 2025, ketika yield 10 tahun melonjak 16,6 basis poin.
Pergerakan serupa terjadi pada tenor lainnya. Yield Treasury 2 tahun, yang paling sensitif terhadap ekspektasi perubahan kebijakan Federal Reserve, naik lebih dari 11 basis poin menjadi 4,889%. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak Mei 2024.
Sementara itu, yield Treasury 30 tahun meningkat lebih dari 9 basis poin menjadi 5,398%, sekaligus mencapai level tertinggi sejak Juni 2007. Kenaikan yield berarti harga obligasi turun. Satu basis poin setara dengan 0,01%.
Analis strategi investasi global Wells Fargo Investment Institute Tony Miano mengatakan pergerakan pasar menunjukkan investor mulai melihat adanya siklus pengetatan kembali kebijakan moneter. "Pasar sedang memberi tahu kita bahwa kita telah memasuki siklus pengetatan kembali yang nyata," kata Miano, dikutip CNBC.
Federal Reserve pekan lalu menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4%. Kenaikan tersebut merupakan yang pertama sejak 2023. Proyeksi pejabat The Fed juga menunjukkan masih ada kemungkinan kenaikan suku bunga lainnya tahun ini.
Menurut Miano, sebelumnya investor masih bisa beranggapan kenaikan suku bunga pekan lalu hanya merupakan langkah satu kali sebagai bentuk antisipasi atau mungkin diikuti satu kenaikan lagi pada Desember.
Namun, pergerakan pasar terbaru menunjukkan pandangan tersebut mulai berubah.
"Pasar obligasi tidak bisa dibohongi atau dijadikan tempat bersembunyi. Selama The Fed belum berhasil mengendalikan inflasi, bagian panjang kurva imbal hasil akan terus berada di bawah tekanan," ujarnya.
Kejutan Data Ekonomi AS
Salah satu pemicu utama lonjakan yield adalah data aktivitas ekonomi AS yang jauh lebih kuat dari perkiraan.
Indeks manajer pembelian atau Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global menunjukkan sektor jasa AS meningkat menjadi 58,7 pada September dari 56,5 pada Agustus. Angka tersebut merupakan level tertinggi dalam hampir lima tahun.
PMI manufaktur melonjak menjadi 56,7, level tertinggi dalam lebih dari empat tahun.
PMI merupakan survei terhadap para manajer di berbagai sektor ekonomi dan digunakan sebagai salah satu indikator aktivitas bisnis.
Kepala ekonom bisnis S&P Global Market Intelligence Chris Williamson mengatakan aktivitas bisnis AS terus menunjukkan pertumbuhan yang kuat.
Di luar lonjakan aktivitas setelah ekonomi dibuka kembali pascapandemi Covid-19, menurut dia, peningkatan aktivitas bisnis terbaru merupakan yang terbesar sejak awal 2015. Pertumbuhan tersebut terjadi baik di sektor manufaktur maupun jasa.
Namun, terdapat sisi lain yang menjadi perhatian pasar. Biaya input perusahaan meningkat pada September dengan laju tercepat dalam empat tahun. Kenaikan tersebut terutama dipicu melonjaknya biaya bahan bakar dan transportasi akibat harga minyak yang lebih tinggi.
Pernyataan Hawkish Pejabat The Fed
Tekanan terhadap pasar obligasi semakin besar setelah Gubernur Federal Reserve Michael Barr memberikan pernyataan yang dinilai hawkish.
"Dalam skenario dasar saya, penyesuaian kebijakan lebih lanjut kemungkinan diperlukan untuk memastikan inflasi turun menuju target dalam waktu yang tepat," kata Barr.
Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi bahwa The Fed mungkin kembali menaikkan suku bunga pada Oktober.
Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober meningkat menjadi 66,4% pada Rabu, dari 55% sehari sebelumnya. Sebulan lalu, peluang tersebut masih di bawah 10%.
Baca Juga
The Fed Kerek Bunga ke 3,75%-4%, Masih Terbuka Kenaikan Lagi Tahun Ini
Pasar juga harus menghadapi hasil lelang Treasury 5 tahun yang mengecewakan.
Menurut BMO, obligasi tersebut terjual dengan yield 5,033%, jauh di atas rata-rata 4,186% dalam enam lelang sebelumnya.
Permintaan dari pembeli tidak langsung, termasuk bank sentral global, juga turun. Kelompok tersebut menyerap 54% dari total obligasi yang dilelang, dibandingkan rata-rata 65%.
Chief Investment Officer One Point BFG Wealth Partners Peter Boockvar mengatakan hasil lelang tersebut menunjukkan pemerintah AS harus menawarkan imbal hasil lebih tinggi untuk menarik pembeli di tengah kondisi pasar obligasi yang lemah.
"Pasar bearish obligasi terus berlanjut," tulis Boockvar.
Faktor lain yang menjadi perhatian investor adalah harga minyak yang masih tinggi.
Harga minyak Brent naik 3,86% menjadi US$103,08 per barel. Sementara minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) naik 1,81% menjadi US$92,16 per barel.
Baca Juga
Minyak Brent Dekati US$ 110, Gangguan Pipa Saudi Picu Kekhawatiran Pasokan Global
Kenaikan harga minyak terjadi ketika perang AS-Iran terus berlangsung dan menimbulkan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi akan bertahan lebih lama. Kondisi tersebut berpotensi membuat Federal Reserve mempertahankan kebijakan moneter ketat atau bahkan menaikkan suku bunga lebih lanjut.
