Yield Obligasi AS 10-Tahun Tembus 4,79%, Tertinggi Sejak Januari 2025
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali meningkat, dengan yield Treasury tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak Januari 2025. Kenaikan tersebut dipicu kekhawatiran investor terhadap inflasi setelah eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak kembali melonjak.
Baca Juga
Redam Gejolak Pasar Obligasi, Pemerintah AS Gandakan ‘Treasury Buyback’
Yield Treasury AS 10 tahun, yang menjadi acuan penting bagi suku bunga hipotek, kredit kendaraan dan kartu kredit, naik lebih dari 3 basis poin menjadi 4,792% pada Selasa (1/9/2026). Sebelumnya, yield tersebut sempat mencapai level tertinggi sejak 14 Januari 2025.
Yield Treasury tenor 30 tahun meningkat lebih dari 1 basis poin menjadi 5,266%. Obligasi tenor panjang tersebut cenderung lebih sensitif terhadap perubahan prospek inflasi, fiskal, dan risiko geopolitik.
Di sisi lain, yield Treasury 2 tahun, yang lebih erat kaitannya dengan ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), naik lebih dari 4 basis poin menjadi 4,398%.
Kenaikan biaya pinjaman pemerintah AS terjadi ketika investor mencermati kembali perkembangan konflik di Timur Tengah. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan pasukan AS mulai menyerang target Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Iran.
Sebelumnya, AS juga melancarkan serangan terhadap Iran. Ketegangan semakin meningkat setelah sebuah kapal tanker terkena proyektil tak dikenal ketika melintas di Selat Hormuz di lepas pantai Oman.
Eskalasi tersebut langsung berdampak pada pasar energi. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup melonjak 5,2% menjadi US$90,22 per barel. Sementara itu, minyak Brent naik 4,6% menjadi US$94,65 per barel.
Baca Juga
Eskalasi Konflik AS-Iran Meningkat, Minyak Brent Dekati US$ 95 per Barel
Kenaikan harga minyak meningkatkan kekhawatiran bahwa gangguan pasokan energi akan kembali mendorong inflasi global. Bagi pasar obligasi, inflasi yang lebih tinggi berpotensi membuat bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
“Dengan belum adanya jalur yang jelas untuk membuka kembali Selat Hormuz setelah enam bulan perang, kekhawatiran inflasi tetap tinggi,” kata Ulrike Hoffmann-Burchardi, Chief Investment Officer UBS untuk Amerika dan Global Head of Equities, dikutip CNBC.
Menurut dia, ketidakpastian prospek kebijakan The Fed, persoalan fiskal AS, serta meningkatnya penerbitan utang yang berkaitan dengan investasi kecerdasan buatan (AI) turut membuat pasar obligasi berada di bawah tekanan.
“Volatilitas yield kemungkinan akan terus bertahan dalam jangka pendek,” ujarnya.
Investor juga mencermati hasil pertemuan para menteri keuangan negara-negara G20 di Asheville, North Carolina, yang berakhir Selasa.
Dari dalam negeri AS, sejumlah data ekonomi turut menjadi perhatian. Indeks manufaktur ISM untuk Agustus turun satu poin dari Juli menjadi 54,6, sedikit di bawah ekspektasi ekonom sebesar 55,3. Jumlah lowongan pekerjaan pada Juli kurang lebih sesuai dengan perkiraan pasar.
Data ketenagakerjaan akan menjadi perhatian lebih besar menjelang laporan nonfarm payrolls Agustus yang dijadwalkan dirilis Jumat. Data tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai kondisi pasar tenaga kerja sekaligus arah kebijakan The Fed.
Kenaikan yield terjadi pada saat investor juga harus menghadapi ketidakpastian geopolitik, harga energi dan kondisi fiskal. Kombinasi tersebut membuat pasar obligasi AS semakin sensitif terhadap setiap perkembangan baru dari Timur Tengah.
Jika harga minyak bertahan di atas US$90 per barel atau kembali meningkat akibat gangguan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, tekanan inflasi dapat semakin kuat.
Kondisi tersebut berpotensi memperumit langkah The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga, terutama ketika pasar masih memperdebatkan apakah bank sentral AS akan memangkas, mempertahankan, atau menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
