Imbas Lonjakan Harga Minyak, Yield Obligasi AS Melonjak ke Level Tertinggi Sejak Januari 2025
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat naik tajam setelah lonjakan harga minyak dunia memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi. Sementara itu, data ketenagakerjaan yang lebih kuat dari perkiraan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve.
Yield Treasury tenor 10 tahun, yang menjadi acuan utama bagi suku bunga kredit pemilikan rumah, pinjaman kendaraan, dan kartu kredit, naik lebih dari empat basis poin menjadi 4,699%. Bahkan pada perdagangan intraday, yield sempat melampaui 4,7%, level tertinggi sejak 15 Januari 2025.
Baca Juga
Yield obligasi tenor dua tahun yang lebih sensitif terhadap kebijakan moneter Federal Reserve meningkat lebih dari lima basis poin menjadi 4,353%, sedangkan yield obligasi tenor 30 tahun naik menjadi 5,167%.
Kenaikan yield dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia setelah minyak Brent menembus kembali level US$100 per barel akibat serangan kelompok Houthi terhadap kapal tanker di Laut Merah dan meningkatnya ancaman Amerika Serikat untuk memperluas serangan terhadap Iran.
Harga minyak Brent ditutup melonjak 7% menjadi US$100,69 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 6% menjadi US$92,19 per barel. Brent kini mencatat laju kenaikan bulanan terbesar ketiga dalam satu dekade terakhir.
Baca Juga
Kapal Tanker Saudi Diserang di Laut Merah, Minyak Brent Tembus US$ 100 per Barel
Meningkatnya harga energi kembali memunculkan kekhawatiran bahwa inflasi akan bertahan lebih tinggi dari perkiraan. Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar menaikkan ekspektasi terhadap kemungkinan Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September kini telah melampaui 80%, melonjak dari sekitar 52% hanya dalam sepekan.
Dari sisi ekonomi, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan klaim awal tunjangan pengangguran untuk pekan yang berakhir 18 Juli turun menjadi 187.000, jauh lebih rendah dibandingkan proyeksi ekonom sebesar 212.000. Data tersebut menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih relatif solid meskipun risiko perlambatan ekonomi tetap membayangi.
Investor kini menantikan rilis indeks awal aktivitas manufaktur dan jasa (Flash PMI) dari S&P Global yang dijadwalkan terbit pada Jumat sebagai petunjuk terbaru mengenai kondisi ekonomi Amerika Serikat.
Kepala Ekonom FWDBONDS, Chris Rupkey, menilai lonjakan harga energi akibat eskalasi perang di Timur Tengah berpotensi mengubah prospek inflasi secara drastis dalam waktu singkat.
Menurutnya, sekitar separuh pejabat Federal Reserve kini mulai mempertimbangkan perlunya kenaikan suku bunga tahun ini karena meningkatnya risiko inflasi. Namun, bank sentral tetap harus memperhatikan potensi pelemahan pasar tenaga kerja, terutama bagi lulusan baru yang semakin sulit memperoleh pekerjaan.
“Perekonomian belum sepenuhnya terbebas dari bahaya yang mengancam pertumbuhan atau krisis keterjangkauan dan harga yang lebih tinggi,” kata Rupkey, dikutip CNBC.
Kenaikan imbal hasil obligasi juga terjadi di berbagai negara. Di Inggris, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun menembus 5,1% setelah Perdana Menteri Andy Burnham mengumumkan pemotongan pajak properti untuk sektor perhotelan. Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap dampaknya terhadap kondisi fiskal pemerintah Inggris.
