Yield Obligasi AS 30-Tahun Lampaui 5,31%, Tertinggi dalam 19 Tahun
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) kembali melonjak, seiring kenaikan harga minyak dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap tekanan inflasi serta kebutuhan pembiayaan pemerintah AS.
Baca Juga
Pasar Obligasi Global Diprediksi Tertekan Gelombang Pengetatan Suku Bunga
Yield Treasury tenor 30 tahun, yang sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan ekspektasi fiskal jangka panjang, naik lebih dari 4 basis poin menjadi 5,311% pada Senin (17/8/2026). Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak Juni 2007 atau sekitar 19 tahun terakhir.
Sementara itu, yield Treasury 10 tahun naik lebih dari 2 basis poin menjadi 4,724%. Obligasi tenor 10 tahun menjadi acuan penting bagi berbagai biaya pinjaman konsumen, termasuk kredit pemilikan rumah, kredit kendaraan dan utang kartu kredit.
Yield Treasury 2 tahun, yang lebih sensitif terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve, meningkat lebih dari 1 basis poin menjadi 4,182%.
Pergerakan tersebut terjadi ketika harga minyak melonjak di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Tenggat waktu 60 hari bagi kedua negara untuk mencapai kesepakatan damai berakhir pada Senin, sementara Iran menolak kemungkinan memperpanjang kesepakatan sementara.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,6% menjadi US$84,50 per barel. Sementara Brent, patokan minyak global, menguat 2,7% menjadi US$90,87 per barel.
Kenaikan harga energi kembali menimbulkan kekhawatiran terhadap inflasi. Harga minyak yang bertahan tinggi dapat meningkatkan biaya transportasi, produksi dan berbagai barang serta jasa, sehingga berpotensi memperlambat penurunan inflasi.
Meski demikian, data inflasi terbaru yang relatif moderat sebelumnya memberikan sedikit kelegaan bagi investor. Namun, ahli strategi Barclays menilai kenaikan yield Treasury saat ini tidak semata-mata berkaitan dengan inflasi.
Mereka melihat sejumlah faktor struktural turut mendorong kenaikan yield, antara lain defisit anggaran AS yang besar, tingginya penerbitan surat utang untuk membiayai kebutuhan pemerintah serta investasi terkait kecerdasan buatan yang bersaing dengan Treasury dalam menarik dana investor.
Selain itu, investor juga meminta 'term premium' yang lebih tinggi, yakni tambahan imbal hasil sebagai kompensasi atas risiko memegang surat utang pemerintah dalam jangka panjang.
"Yang penting diperhatikan hari ini bukan keberadaan tekanan tersebut, melainkan tekanan itu tampaknya cukup kuat untuk mengalahkan rilis data ekonomi yang lemah," kata Anshul Pradhan, kepala riset suku bunga AS di Barclays Capital, dilansir CNBC.
Menurut Pradhan, sejumlah data ekonomi terbaru sebenarnya mendukung penurunan yield, tetapi yield obligasi jangka panjang justru tetap bergerak naik.
Yield obligasi juga meningkat pada perdagangan Jumat setelah data penjualan ritel AS secara mengejutkan turun 0,6% pada bulan sebelumnya. Sebelumnya, indeks harga produsen (PPI) AS pada Juli tercatat datar secara bulanan.
Tekanan Fiskal
Tekanan fiskal juga menjadi perhatian utama pasar. Departemen Keuangan AS melaporkan pekan lalu bahwa defisit anggaran pemerintah mencapai level bulanan tertinggi dalam lebih dari lima tahun. Kenaikan biaya Medicare serta pembayaran bunga utang federal menjadi salah satu faktor pendorong.
Akumulasi defisit sepanjang tahun fiskal berjalan juga telah melampaui periode yang sama tahun sebelumnya.
Anthony Saglimbene, kepala strategi pasar di Ameriprise, mengatakan investor mulai menilai Treasury dari perspektif keberlanjutan fiskal jangka panjang, terutama untuk obligasi dengan tenor panjang.
"Investor semakin mengevaluasi surat berharga Treasury melalui perspektif keberlanjutan fiskal jangka panjang dan semakin sedikit melalui inflasi, kebijakan moneter dan pertumbuhan," tulis Saglimbene.
Selanjutnya, perhatian investor akan tertuju pada risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan dirilis Rabu. Dokumen tersebut diharapkan memberikan petunjuk mengenai pandangan pejabat The Fed terhadap kondisi ekonomi dan arah suku bunga berikutnya.
Pada 29 Juli lalu, The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%. Level ini dipertahankan selama lima pertemuan berturut-turut.
Baca Juga
Harga Produsen AS Stagnan, The Fed Diperkirakan Tak Akan Naikkan FFR pada September
Keputusan The Fed itu diambil dengan suara 9-3. Tiga anggota yang berbeda pendapat, yakni Beth Hammack dari Cleveland, Neel Kashkari dari Minneapolis dan Lorie Logan dari Dallas, justru menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Dengan yield Treasury 30 tahun kini di atas 5,3%, pasar obligasi AS menghadapi tekanan dari kombinasi risiko inflasi energi, defisit fiskal dan kebutuhan penerbitan utang yang besar. Kondisi ini berpotensi menjadi faktor penting yang menentukan arah pasar keuangan global dalam beberapa pekan ke depan.

