Saham AI Dongkrak Wall Street, Nasdaq Cetak Rekor Baru
Poin Penting
|
NEW YORK, invesyortrust.id - Bursa saham Amerika Serikat melesat pada perdagangan Senin waktu AS atau Selasa (22/9/2026) WIB. Nasdaq Composite mencatat rekor penutupan baru setelah saham-saham teknologi terkait kecerdasan buatan (AI) melonjak.
Nasdaq Composite naik 2,26% menjadi 27.122,09, mencatat rekor penutupan sekaligus rekor pertama sejak Juni. S&P 500 juga menguat 1,49% menjadi 7.764,70. Sementara Dow Jones Industrial Average bertambah 366,19 poin atau 0,71% menjadi 52.048,83.
Baca Juga
Kenaikan Yield Treasury Guncang Pasar AS, Wall Street Bergerak ‘Volatile’
Penguatan Wall Street terjadi setelah investor mendapat dorongan dari penurunan harga minyak dan imbal hasil Treasury AS. Kedua faktor tersebut membantu meredakan sebagian tekanan yang sebelumnya membebani saham.
Harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) turun 4,5% menjadi US$95,78 per barel. Minyak mentah Brent, yang menjadi patokan internasional, turun 3,4% menjadi US$100,34 per barel.
Penurunan harga minyak juga diikuti oleh turunnya yield Treasury. Yield Treasury 10 tahun turun lebih dari 4 basis poin menjadi 4,951%, sedangkan yield Treasury 30 tahun turun ke 5,284%.
Saham teknologi menjadi penggerak utama penguatan indeks.
Saham Intel melonjak 12%. Advanced Micro Devices (AMD) naik sekitar 10% dan nilai kapitalisasi pasarnya menembus US$1 triliun. Saham Qualcomm juga naik lebih dari 9%.
Kenaikan saham AI memberikan dorongan besar terhadap Nasdaq yang sebelumnya relatif lebih tahan terhadap tekanan pasar dibandingkan Dow Jones.
Pada pekan sebelumnya, Dow Jones turun 1,7%, menjadi kinerja mingguan terburuk sejak Maret. S&P 500 turun sekitar 0,1%, sementara Nasdaq justru masih mampu mencatat kenaikan 0,7%.
Investor juga mencermati perkembangan geopolitik Timur Tengah. Kelompok Houthi yang didukung Iran mengeklaim telah menyerang Arab Saudi dengan rudal dan drone pada akhir pekan.
Amerika Serikat kemudian mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya di Timur Tengah di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran.
Peluang Diplomasi
Namun, peluang diplomasi masih menjadi perhatian pasar. Presiden AS Donald Trump mengatakan terbuka kemungkinan dirinya bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian selama Sidang Umum PBB pekan ini.
Jika terjadi kemajuan diplomasi dan risiko gangguan pasokan energi mereda, harga minyak berpotensi mendapat tekanan lebih lanjut. Bagi pasar saham, kondisi tersebut dapat mengurangi salah satu sumber utama tekanan inflasi.
Baca Juga
Akankah Perang Iran vs AS Segera Berakhir, Bagaimana Tren Harga Minyak Mentah Dunia?
Sebaliknya, konflik yang berkepanjangan tetap menjadi risiko karena gangguan produksi dan pengiriman minyak dapat kembali mendorong harga energi.
Presiden Yardeni Research Ed Yardeni mengatakan harga energi yang bertahan tinggi dalam waktu lebih lama dapat memperkuat alasan bagi bank sentral untuk melakukan pengetatan kebijakan moneter.
Menurutnya, risiko gangguan pasokan belum hilang. Konflik Timur Tengah masih mengancam produksi dan pengiriman minyak, sementara serangan Ukraina terhadap kilang Rusia serta sanksi terhadap Rusia semakin membatasi pasokan bahan bakar global.
“Semakin lama guncangan energi ini berlangsung, semakin besar risiko munculnya efek inflasi putaran kedua,” tulis Yardeni dalam catatannya, dikutip CNBC.
Situasi tersebut membuat pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping pekan ini menjadi semakin penting bagi pasar global. Kedua pemimpin dijadwalkan membahas sejumlah isu ekonomi, termasuk AI, tarif perdagangan dan mineral kritis.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya telah bertemu dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng menjelang pertemuan tingkat tinggi tersebut.
Jeffrey Roach, kepala ekonom LPL Financial, mengatakan konflik geopolitik yang mendorong kenaikan harga energi juga menjadi salah satu faktor yang membuat The Fed mempertahankan sikap ketat terhadap inflasi.
Menurut Roach, prospek inflasi The Fed sangat bergantung pada stabilisasi pasar minyak, sementara perhitungan fiskal China juga dipengaruhi oleh harga energi. Penguatan Wall Street belum serta-merta menghapus risiko yang membayangi pasar.
