Saham AI Pimpin Reli Wall Street, Indeks Nasdaq Cetak Rekor Baru
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Indeks Nasdaq Composite kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada perdagangan Senin waktu AS atau Selasa (6/10/2026) WIB, didorong penguatan saham-saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Pasar seakan mengabaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang terus meningkat.
Nasdaq Composite naik 1,05% dan mencapai rekor intraday di level 27.544,07 sebelum ditutup pada posisi tertinggi sepanjang sejarah di 27.477,31. Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 90,94 poin atau 0,18% menjadi 51.267,90, sedangkan S&P 500 naik 0,66% ke 7.773,95.
Baca Juga
Data Tenaga Kerja AS Angkat Wall Street, Dow Melonjak 250 Poin, Nasdaq Sentuh Rekor ‘Intraday’
Penguatan Nasdaq dipimpin saham-saham yang terkait dengan tema AI. SpaceX melonjak lebih dari 7%, sedangkan Meta Platforms naik hampir 2% dan Microsoft menguat lebih dari 1%. Saham Nvidia dan Tesla masing-masing naik sekitar 2%.
“Investor membeli saham teknologi dan menjual aset lainnya. Tren ini tampak sangat kuat,” kata CEO Infrastructure Capital Advisors, Jay Hatfield, dilansir CNBC.
Menurut Hatfield, sektor teknologi telah menjadi semacam aset aman sejak pandemi karena memiliki pertumbuhan laba tinggi dan relatif tidak sensitif terhadap suku bunga.
Permintaan besar terhadap komputasi dan kecerdasan buatan juga membuat perusahaan teknologi besar tetap mampu tumbuh meskipun biaya pinjaman meningkat.
Waspadai The Fed dan Yield
Kenaikan saham teknologi terjadi bersamaan dengan naiknya imbal hasil Treasury. Yield obligasi 10 tahun naik lebih dari 3 basis poin ke 5,311%, sedangkan tenor 30 tahun meningkat ke 5,664%.
Baca Juga
Investor masih memperhitungkan risiko inflasi yang dapat membuat The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Pasar juga mencermati data sektor jasa AS yang menunjukkan indeks ISM September berada di level 54,9, menandakan aktivitas ekonomi tetap tumbuh.
Selanjutnya, perhatian investor tertuju pada risalah rapat The Fed September yang diperkirakan memberikan gambaran mengenai alasan bank sentral menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin bulan lalu.
Di sisi lain, penurunan harga minyak juga menjadi sentimen positif bagi pasar saham. Brent turun ke US$100,32 per barel dan WTI melemah ke US$89,43 per barel.
Baca Juga
Ahli strategi Citi, Beata Manthey, mengatakan pasar saham global sejauh ini masih menunjukkan ketahanan meskipun menghadapi berbagai tekanan seperti geopolitik dan suku bunga tinggi.
Menurut dia, fundamental perusahaan masih cukup kuat untuk menghadapi guncangan ekonomi makro, meskipun tingkat ketidakpastian tetap tinggi.
