Saham Teknologi Dorong Penguatan Wall Street, Nasdaq Bangkit 1%, tapi Dow Masih Terseok
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Wall Street mencoba bangkit pada perdagangan Jumat waktu AS atau Sabtu (7/11/2026) WIB. Nasdaq Composite, indeks yang didominasi saham teknologi, menguat 1,09% dan ditutup pada level 24.579,42. Indeks S&P 500 juga naik 0,31% menjadi 7.376,86. Tapi, Dow Jones Industrial Average melemah 237,33 poin atau 0,46% ke posisi 51.285,73.
Baca Juga
Wall Street Ambruk Dipicu ‘Sell Off’ Saham Teknologi, Dow Jones Ambles 1.800 Poin
Penguatan Nasdaq terjadi setelah indeks tersebut mengalami tekanan luar biasa pada Kamis. Kekhawatiran terhadap kemungkinan perlambatan pembangunan pusat data (data center) setelah kemenangan besar Partai Demokrat dalam pemilu sela AS memicu aksi jual saham teknologi.
Partai Demokrat berhasil meraih kemenangan besar dalam pemilihan anggota Kongres dan sejumlah pemilihan gubernur negara bagian penting. Hasil tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa pemerintahan negara bagian yang dikuasai Demokrat akan memperketat regulasi pembangunan pusat data, yang selama ini menjadi salah satu fondasi ekspansi industri AI.
Pada perdagangan Kamis, ketiga indeks utama Wall Street mencatat penurunan harian terdalam sejak April 2025.
Nasdaq Composite anjlok 5,5%, sekaligus ditutup lebih dari 10% di bawah rekor tertinggi terbarunya. Kondisi tersebut membawa indeks teknologi itu masuk ke wilayah koreksi atau correction territory.
S&P 500 merosot 4,4%, sedangkan Dow Jones kehilangan lebih dari 1.800 poin atau 3,4%.
Seluruh 11 sektor dalam indeks S&P 500 berakhir di zona merah. Namun, tekanan paling besar datang dari saham-saham perusahaan yang terkait dengan pembangunan infrastruktur AI.
Saham Semikonduktor Mulai Diburu Lagi
Setelah mengalami penurunan tajam, sejumlah saham teknologi dan semikonduktor mulai menarik minat investor pada perdagangan Jumat.
Saham Micron Technology melonjak sekitar 5% setelah sebelumnya anjlok 17% pada Kamis.
Saham Nvidia juga naik hampir 3%, menyusul penurunan 9% pada sesi sebelumnya. Penguatan tersebut bahkan membawa saham perusahaan semikonduktor terbesar dunia itu kembali ke wilayah positif sepanjang tahun berjalan.
Saham Tesla, Meta Platforms, dan Alphabet juga mencatat kenaikan.
Stuart Clark, manajer portofolio Quilter, menilai besarnya penurunan sejumlah saham berkapitalisasi pasar terbesar pada Kamis, menunjukkan risiko konsentrasi yang semakin besar di pasar saham AS.
“Ketergantungan indeks terhadap sejumlah kecil saham teknologi dan semikonduktor membuat pelemahan saham-saham tersebut dengan cepat menjalar ke Nasdaq dan S&P 500,” jelas Clark dikutip CNBC.
Pada Kamis, kelompok saham yang dikenal sebagai Magnificent Seven kehilangan kapitalisasi pasar sekitar US$1 triliun hanya dalam satu hari perdagangan.
Kelompok Magnificent Seven terdiri atas Nvidia, Microsoft, Apple, Amazon, Alphabet, Meta Platforms, dan Tesla.
Penurunan besar tersebut memperlihatkan betapa besarnya pengaruh perusahaan teknologi raksasa terhadap arah pasar saham AS.
Kemenangan Demokrat Picu Kekhawatiran Industri AI
Salah satu faktor yang membuat investor gelisah adalah kemungkinan munculnya pembatasan terhadap pembangunan pusat data di AS. Sejumlah tokoh Partai Demokrat telah menyerukan pengendalian ekspansi pusat data setelah kemenangan besar partai tersebut dalam pemilu sela.
Baca Juga
Gina Hinojosa, gubernur terpilih Texas, salah satu negara bagian yang menjadi pusat pembangunan pusat data di AS, menyampaikan bahwa pemerintahannya akan membuat regulasi untuk melindungi masyarakat Texas.
Dalam wawancara dengan CNN pada Kamis malam, Hinojosa mengatakan pembangunan pusat data perlu dihentikan sementara hingga perlindungan yang memadai bagi masyarakat tersedia.
Pernyataan tersebut menambah ketidakpastian terhadap prospek investasi infrastruktur AI di AS.
Chris Grisanti dari MAI Capital Management memperkirakan kekhawatiran investor masih akan bertahan karena Hinojosa dan sejumlah pejabat terpilih lainnya baru akan mulai menjabat pada Januari 2027.
Meski demikian, Grisanti tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang industri AI.
Menurut dia, investasi AI merupakan bagian dari revolusi industri besar, sebagaimana pembangunan jaringan kereta api dan perkembangan internet pada masa lalu. Karena itu, meskipun menghadapi hambatan regulasi, ekspansi industri AI diperkirakan tidak akan berhenti.
Dia mengakui bahwa tekanan setelah pemilu membuat prospek jangka pendek lebih menantang. Namun, kesepakatan investasi yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur AI pada akhirnya diperkirakan tetap akan terealisasi.
Microsoft Pangkas Mitra Neocloud?
Sentimen positif pasar pada Jumat juga tertahan oleh kabar mengenai strategi Microsoft dalam mengelola kemitraan infrastruktur AI.
Sejumlah sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan kepada CNBC bahwa Microsoft berencana mengurangi jumlah mitra penyedia layanan neocloud.
Neocloud merupakan penyedia layanan komputasi awan yang berfokus pada kebutuhan komputasi berperforma tinggi, terutama untuk menjalankan aplikasi AI dan menyediakan kapasitas komputasi berbasis GPU.
Rencana tersebut menjadi perhatian investor karena memperlihatkan bahwa perusahaan teknologi besar mulai mengevaluasi kembali strategi pengadaan kapasitas komputasi dan kemitraan infrastruktur AI.
Di tengah besarnya belanja modal perusahaan teknologi untuk membangun pusat data, perubahan strategi Microsoft dapat memengaruhi persepsi pasar terhadap prospek bisnis para penyedia infrastruktur AI.
Data Tenaga Kerja AS Jadi Penopang
Di luar perkembangan industri teknologi, investor juga mencermati laporan ketenagakerjaan terbaru AS yang memberikan sinyal positif terhadap kondisi ekonomi.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan penambahan 165.000 pekerjaan nonpertanian pada Oktober. Angka tersebut jauh melampaui perkiraan ekonom yang disurvei Dow Jones sebesar 59.000 pekerjaan.
Baca Juga
Tambah 165.000 Lapangan Kerja pada Oktober, Ekonomi AS Lebih Tangguh dari Perkiraan
Tingkat pengangguran juga turun menjadi 4,1%, dibandingkan perkiraan pasar sebesar 4,2%.
Data tersebut memperlihatkan bahwa perekonomian AS masih memiliki daya tahan yang cukup kuat, meskipun investor terus mengkhawatirkan dampak kebijakan moneter ketat dan ketidakpastian ekonomi.
Namun, penguatan pada Jumat belum cukup untuk menyelamatkan Wall Street dari kerugian mingguan.
Secara mingguan, Nasdaq masih turun sekitar 3%, sedangkan S&P 500 melemah 2%. Dow Jones menjadi indeks dengan kinerja relatif lebih baik, meskipun tetap turun kurang dari 1%.
Sejarah koreksi Nasdaq menunjukkan bahwa saham teknologi sering kali mulai menemukan pijakan dalam rentang tiga hingga enam bulan setelah memasuki wilayah koreksi. Namun, pergerakan pasar dalam jangka pendek masih berpotensi bergejolak.
Bagi investor, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa prospek jangka panjang industri AI yang menjanjikan tidak serta-merta menghilangkan risiko valuasi tinggi, konsentrasi pasar, dan ketidakpastian regulasi.
Pemulihan Nasdaq pada Jumat menunjukkan masih adanya minat investor untuk membeli saham teknologi ketika harga terkoreksi. Namun, keberlanjutan penguatan akan sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan teknologi mempertahankan pertumbuhan bisnis, merealisasikan investasi AI, serta memperoleh kepastian regulasi pembangunan pusat data di AS.
