Wall Street Hadapi Pekan Berat, Pasar Soroti Pertemuan Trump-Xi dan Konflik Iran
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Kontrak berjangka saham Amerika Serikat bergerak terbatas pada perdagangan Minggu (20/9/2026) malam waktu setempat, setelah indeks Dow Jones Industrial Average mencatat penurunan mingguan ketiga berturut-turut.
Dow Jones futures naik 28 poin atau sekitar 0,05%. Kontrak berjangka S&P 500 naik 0,09%, sedangkan Nasdaq-100 futures bertambah 0,05%.
Pergerakan tersebut terjadi ketika investor kembali mencermati perkembangan terbaru konflik di Timur Tengah. Kelompok Houthi yang didukung Iran mengeklaim melancarkan serangan rudal dan drone ke Riyadh pada Sabtu.
Baca Juga
Houthi Kuasai Gerbang Laut Merah, Pipa Minyak Saudi Lumpuh Diserang 'Drone'
Sehari kemudian, Departemen Luar Negeri AS memperingatkan warga Amerika untuk mempertimbangkan kembali perjalanan ke Timur Tengah karena konflik berpotensi meningkat dengan cepat.
Reuters melaporkan bahwa serangan yang diklaim Houthi tersebut ikut menekan pasar saham di kawasan Teluk. Indeks saham Arab Saudi turun 0,3%, sementara indeks Qatar melemah 1,1% pada perdagangan Minggu.
Perhatian investor Wall Street juga tertuju pada harga minyak yang tetap tinggi. Gangguan di sekitar Selat Hormuz dan meningkatnya risiko konflik regional memperbesar kekhawatiran terhadap pasokan energi.
Harga minyak yang bertahan di sekitar US$100 per barel menjadi persoalan penting bagi bank sentral AS karena tekanan energi dapat memperpanjang inflasi. Pada saat yang sama, yield Treasury AS 10 tahun masih berada di sekitar level 5%.
Baca Juga
Minyak Brent Dekati US$ 110, Gangguan Pipa Saudi Picu Kekhawatiran Pasokan Global
Kondisi tersebut menjadi semakin penting setelah Federal Reserve menaikkan suku bunga pekan lalu untuk pertama kalinya dalam tiga tahun. The Fed kini menetapkan target suku bunga federal funds pada kisaran 3,75%-4%.
Presiden Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari mengatakan inflasi AS masih terlalu tinggi di berbagai sektor ekonomi dan tidak hanya disebabkan oleh kenaikan harga energi. Ia mendukung keputusan The Fed menaikkan suku bunga seperempat poin.
Dengan demikian, perkembangan Timur Tengah tidak hanya menjadi persoalan geopolitik bagi investor. Harga minyak juga menjadi variabel penting dalam menentukan prospek inflasi dan kebijakan moneter AS.
“Konflik geopolitik yang sama yang mendorong kenaikan harga energi juga membuat Federal Reserve tetap hawkish dan memberikan tekanan kepada kilang-kilang China,” tulis Jeffrey Roach, kepala ekonom LPL Financial, dalam analisis yang dikutip CNBC.
Pasar kini juga bersiap menghadapi agenda besar hubungan AS-China. Presiden AS Donald Trump dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping di Washington pada 24 September.
Dilansir Reuters, agenda pertemuan tersebut mencakup perdagangan, tarif, mineral kritis, kecerdasan buatan, hubungan dengan Taiwan, perang Iran serta upaya memperpanjang gencatan tarif antara Washington dan Beijing.
Sehari sebelum pertemuan tingkat tinggi tersebut, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng melakukan pembicaraan di New York. Pembahasan mencakup perdagangan, AI dan pasokan mineral kritis yang penting bagi industri semikonduktor.
Bagi investor, pekan ini mempertimbangkan beberapa risiko sekaligus: ketidakpastian geopolitik Timur Tengah, harga minyak yang tinggi, imbal hasil obligasi AS yang mendekati 5%, serta arah kebijakan moneter dan hubungan dagang AS-China.
