Harga Minyak Turun setelah Pertemuan Arab Saudi-Iran, tapi Gangguan Pasokan Tetap Membayangi
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak mentah dunia melemah pada perdagangan Senin (26/10/2026), setelah Menteri Pertahanan Arab Saudi bertemu dengan para pemimpin Iran di Teheran untuk meredakan ketegangan yang terus membayangi Timur Tengah. Namun, ancaman serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi masih menjadi perhatian pelaku pasar.
Minyak mentah Brent turun US$0,91 menjadi US$115,81 per barel setelah sempat menembus US$117 pada awal perdagangan. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) merosot US$1,51 menjadi US$101,76 per barel.
Baca Juga
Meski terkoreksi, harga minyak telah meningkat sekitar 12% sepanjang bulan ini, mencerminkan tingginya premi risiko geopolitik yang masih diperhitungkan pasar.
Menteri Pertahanan Arab Saudi Pangeran Khalid bin Salman bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei pada Senin.
Pertemuan tersebut juga dihadiri Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Asim Munir dan Kepala Intelijen Turki Ibrahim Kalin. Pakistan dan Turki merupakan anggota pakta pertahanan bersama Arab Saudi.
Pertemuan di Teheran berlangsung ketika kelompok Houthi di Yaman, yang bersekutu dengan Iran, berulang kali melancarkan serangan terhadap Arab Saudi dalam beberapa pekan terakhir. Serangan terhadap sasaran sipil, termasuk bandara, meningkatkan risiko meluasnya konflik di kawasan tersebut.
Kelompok Houthi pada Senin mengklaim telah menembakkan rudal ke bandara internasional di Riyadh dan meluncurkan pesawat nirawak ke sejumlah stasiun pompa minyak. Namun, Arab Saudi belum mengonfirmasi bahwa serangan tersebut benar-benar terjadi.
Situasi ini membuat investor khawatir terhadap kerentanan infrastruktur energi Arab Saudi, termasuk risiko gangguan besar terhadap produksi, pengolahan, maupun ekspor minyak.
Risiko Gangguan Pasokan
Kekhawatiran pasar meningkat karena persediaan minyak global telah menyusut tajam setelah konflik berlangsung selama delapan bulan. Cadangan Minyak Strategis AS (Strategic Petroleum Reserve/SPR), misalnya, berada pada level terendah sejak 1982.
Michael Alfaro, kepala investasi Gallo Partners, mengatakan ketidakpastian geopolitik telah menambahkan sekitar US$20 per barel ke harga minyak.
Menurut Alfaro, serangan besar terhadap jaringan pipa minyak East-West Arab Saudi atau fasilitas pengilangan tambahan dapat mendorong harga minyak melonjak tajam. Namun, harga yang menembus US$120 per barel juga berisiko menekan permintaan karena biaya energi menjadi semakin mahal.
Baca Juga
Harga Minyak Turun, G7 Lepas Cadangan 100 Juta Barel di Tengah Ancaman Serangan Saudi ke Houthi
Selain gangguan pasokan minyak mentah, kerusakan fasilitas pengilangan dapat menimbulkan persoalan yang lebih panjang bagi pasar energi global.
“Tantangan sebenarnya adalah kapasitas pengilangan,” kata Alfaro, dilansir CNBC. Ia memperingatkan bahwa gangguan tersebut dapat berkembang menjadi persoalan struktural jangka panjang hingga 2027 dan seterusnya.
Kapasitas pengilangan menjadi penting karena minyak mentah harus diolah menjadi produk seperti bensin, solar, dan bahan bakar penerbangan. Jika fasilitas pengolahan terganggu, pasokan produk energi dapat tetap ketat meskipun minyak mentah masih tersedia.
Kondisi tersebut berpotensi memperpanjang tekanan pada biaya transportasi, industri, dan perekonomian negara-negara yang bergantung pada impor energi.
Arab Saudi Perkuat Pasokan Asia
Di tengah ketidakpastian tersebut, Arab Saudi berencana mulai menyimpan minyak mentah di Singapura pada paruh kedua 2027. Rencana itu disampaikan oleh para menteri energi kedua negara, sebagaimana dilaporkan Reuters.
Langkah tersebut ditujukan untuk memperkuat ketahanan rantai pasokan minyak Arab Saudi ke pasar Asia.
Sementara itu, Departemen Energi AS pada Jumat mengizinkan pelepasan hingga 400.000 barel minyak dari SPR untuk mengatasi gangguan pasokan di sebuah kilang minyak di Louisiana.
Namun, tambahan pasokan dari produsen minyak AS masih belum pasti. Perusahaan-perusahaan energi cenderung berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi besar karena volatilitas harga dan risiko geopolitik.
Alfaro mengatakan produsen AS memang mulai menambah sejumlah rig pengeboran, tetapi belum menunjukkan peningkatan belanja modal yang signifikan untuk memperbesar produksi. “Kami belum benar-benar melihat penambahan belanja modal besar untuk mengoperasikan rig baru atau menghadirkan produksi baru,” ujarnya.
Dengan demikian, penurunan harga minyak pada Senin belum menunjukkan bahwa risiko pasokan telah mereda secara menyeluruh. Diplomasi Arab Saudi-Iran memberikan harapan bagi pasar, tetapi ancaman terhadap infrastruktur energi dan terbatasnya cadangan minyak global tetap menjadi faktor penentu arah harga.
