Krisis Timur Tengah Guncang Pasar Obligasi Global, Yield JGB Jepang 10-Tahun Tembus 3%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pasar obligasi global kembali mengalami tekanan, dengan yield surat utang pemerintah di sejumlah negara utama melonjak ke level tertinggi dalam beberapa dekade. Gejolak tersebut dipicu meningkatnya kembali kekhawatiran inflasi setelah konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak dunia naik tajam.
Pada Selasa (1/9/2026), yield Treasury AS tenor 10 tahun naik sekitar 3 basis poin menjadi 4,788%, mencapai level tertinggi dalam 20 bulan.
Pergerakan lebih ekstrem terjadi di Jepang. Yield obligasi pemerintah Jepang (JGB) tenor 10 tahun melonjak lebih dari 6 basis poin hingga menembus 3% untuk pertama kalinya sejak 1996.
Yield JGB tenor 2 tahun juga menyentuh 1,81%, level tertinggi dalam 31 tahun.
Baca Juga
Yield Obligasi AS 10-Tahun Tembus 4,79%, Tertinggi Sejak Januari 2025
Tekanan serupa terjadi di Inggris. Yield obligasi pemerintah Inggris tenor 10 tahun atau gilt meningkat lebih dari 9 basis poin menjadi 5,2341%, level tertinggi sejak Juni 2008, ketika dunia masih berada di tengah krisis keuangan global.
Yield gilt tenor 30 tahun bahkan melonjak 9 basis poin menjadi 5,8856%, tertinggi sejak Maret 1998.
Di Eropa, yield obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun meningkat lebih dari 3 basis poin menjadi 3,3546%, level tertinggi dalam 52 minggu. Yield bund tenor 2 tahun mencapai 2,9496%, tertinggi sejak Juli 2024.
Yield obligasi pemerintah Prancis tenor 2 tahun juga meningkat ke level tertinggi sejak April 2024.
Lonjakan yield global terjadi setelah AS dan Iran kembali terlibat dalam aksi saling serang di sekitar Selat Hormuz. Konflik tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global dan mendorong harga minyak lebih tinggi.
Harga Brent terakhir tercatat naik sekitar 2,2% menjadi US$92,38 per barel, sedangkan WTI meningkat 2,61% menjadi US$88,05 per barel dalam perdagangan lanjutan.
Kenaikan harga minyak menjadi persoalan serius bagi pasar karena energi merupakan salah satu komponen penting dalam tekanan inflasi. Jika harga minyak bertahan tinggi, biaya transportasi dan produksi dapat meningkat dan memberikan tekanan tambahan terhadap harga barang dan jasa.
Baca Juga
Eskalasi Konflik AS-Iran Meningkat, Minyak Brent Dekati US$ 95 per Barel
Menteri Keuangan AS Scott Bessent berusaha meredam kekhawatiran mengenai kenaikan yield Treasury. Dalam wawancara dengan CNBC di sela-sela pertemuan menteri keuangan G20 di Asheville, Bessent mengatakan pasar obligasi AS tetap merupakan “pasar dengan kinerja terbaik” di dunia.
Ia juga menunjuk keputusan Fitch Ratings yang pada bulan sebelumnya mempertahankan peringkat AA+ untuk utang pemerintah AS.
Namun, Steve Englander, Kepala Riset Valuta Global G10 dan Strategi Makro Amerika Utara di Standard Chartered, menilai kenaikan yield masih berpotensi berlanjut.
Menurut Englander, perang yang telah berlangsung selama enam bulan, ditambah putusan Mahkamah Agung AS mengenai kebijakan tarif yang menurutnya menghilangkan sekitar 40% potensi penerimaan tambahan dari tarif, turut meningkatkan tekanan terhadap pasar obligasi.
Englander memperkirakan yield di berbagai tenor masih akan menghadapi tekanan ke atas. Menurut dia, persoalan defisit anggaran bukan hanya dihadapi Amerika Serikat, tetapi juga banyak negara lain.
“‘Kinerja terbaik’, seperti yang dikatakan Bessent, tidak sama dengan berkinerja baik. Semua negara memiliki persoalan defisit. Saya kira tidak ada alasan untuk bersorak,” kata Englander.
Kenaikan yield obligasi Inggris juga mendapat perhatian khusus karena terjadi di tengah perdebatan mengenai kebijakan ekonomi dan keuangan publik negara tersebut.
Perdana Menteri Inggris Andy Burnham dilaporkan akan menyampaikan kepada anggota parlemen bahwa peningkatan kontrol publik merupakan salah satu cara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Burnham, yang menjadi perdana menteri Inggris ketujuh dalam 10 tahun pada Juli, disebut tengah mempertimbangkan regulasi yang akan mempermudah pengambilalihan perusahaan utilitas yang mengalami kesulitan ke dalam kepemilikan publik.
Kenaikan yield Inggris juga mencerminkan penyesuaian terhadap pergerakan pasar global setelah pasar keuangan Inggris libur pada Senin.
Geopolitik Tingkatkan Risiko
Secara keseluruhan, pergerakan pasar obligasi menunjukkan bahwa investor kini menghadapi kombinasi risiko yang semakin kompleks. Gejolak geopolitik mendorong harga minyak, kenaikan harga energi meningkatkan risiko inflasi, sementara persoalan defisit fiskal dan kebutuhan pembiayaan pemerintah tetap memberikan tekanan terhadap pasar surat utang.
Situasi tersebut membuat prospek suku bunga bank sentral menjadi semakin sulit diprediksi.
Apabila harga minyak terus bertahan tinggi akibat konflik AS-Iran dan risiko terhadap Selat Hormuz, investor dapat kembali memperkirakan kebijakan moneter yang lebih ketat. Kondisi itu berpotensi menjaga yield obligasi tetap tinggi dan meningkatkan biaya pembiayaan pemerintah maupun sektor swasta.
Sebaliknya, meredanya konflik dan normalisasi lalu lintas energi melalui Selat Hormuz dapat mengurangi tekanan inflasi serta memberikan ruang bagi yield obligasi untuk kembali turun.
Untuk sementara, pasar global masih berada dalam posisi waspada, menunggu perkembangan konflik Timur Tengah dan data ekonomi AS yang akan menentukan arah kebijakan moneter dalam beberapa bulan ke depan.
