Stimulus Jepang Guncang Pasar Valas dan Obligasi, Siap-siap 'Trader' Kripto Hadapi Volatilitas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah Jepang meluncurkan anggaran tambahan senilai JPY 21,3 triliun (sekitar US$ 135,5 miliar) suntikan fiskal terbesar sejak era pandemi. Paket ini bertujuan meredam tekanan biaya hidup dan memilihkan pertumbuhan ekonomi, namun pemicunya merambat ke pasar valuta asing (valas), obligasi, hingga aset kripto.
Melansir CryptoNewsFlash, Senin (24/11/2025), stimulus yang disetujui kabinet pada Jumat (21/11) ini menitikberatkan pada penurunan harga, mendorong pertumbuhan yang lebih solid, serta memperkuat pertahanan dan diplomasi.
Selain suntikan fiskal utama, pemerintah juga mengalokasikan subsidi energi dan hibah pemerintah daerah, yang diperkirakan memberi manfaat sekitar JPY 7.000 per rumah tangga dalam tiga bulan.
Baca Juga
Wapres Gibran Ajak Pemimpin G20 Bahas ‘Intelligence Economy’, Soroti Risiko dan Peluang Aset Kripto
Langkah ini datang di tengah pelemahan ekonomi. Pada kuartal III 2025, produk domestik bruto (PDB) Jepang turun 0,4% secara kuartalan atau setara kontraksi tahunan 1,8%. Penurunan ini merupakan yang pertama dalam satu setengah tahun, dipicu merosotnya konsumsi serta dampak biaya impor yang melonjak akibat penguatan dolar Amerika Serikat (AS).
Sementara itu, inflasi melampaui target 2% Bank of Japan selama 43 bulan berturut-turut, mencapai 3% pada Oktober 2025. Alih-alih menandakan pemulihan sehat, kenaikan harga justru menekan upah riil dan belanja rumah tangga.
Dampak terhadap pasar langsung terasa. Pasar obligasi mengalami guncangan, di mana imbal hasil obligasi 40 tahun melonjak ke rekor 3,744%, berlawanan dengan ekspektasi bahwa stimulus akan menekan suku bunga jangka panjang.
Baca Juga
'Stablecoin' Melesat, Bitcoin Makin Fokus jadi Penyimpan Nilai
Kenaikan imbal hasil sebesar 100 basis poin berpotensi menambah biaya pembiayaan pemerintah sekitar JPY 2,8 triliun per tahun, semakin menegaskan kekhawatiran mengenai keberlanjutan utang Jepang.
Di pasar kripto, dampaknya terbelah. Melemahnya yen kerap mendorong investor Jepang mencari alternatif penyimpan nilai seperti Bitcoin. Namun, kenaikan imbal hasil dan potensi pembalikan carry trade dapat memicu penjualan aset berisiko, termasuk kripto.
Di tengah turbulensi tersebut, Jepang juga melaju ke arah digitalisasi keuangan. Japan Post Bank mengumumkan rencana menerbitkan mata uang digital DCJPY pada tahun fiskal 2026, dengan tujuan mengaktifkan lebih dari JPY 190 triliun dana nasabah yang mengendap.
Otoritas Jasa Keuangan Jepang (FSA) juga dilaporkan tengah bersiap menyetujui stablecoin pertama yang dipatok dalam yen.

