Kapal ADNOC Dihantam Rudal, Ketegangan Hormuz Memuncak di Tengah Tarik-Ulur Kesepakatan Iran-AS
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat setelah Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan sebuah kapal yang terafiliasi dengan Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) menjadi sasaran serangan rudal ketika melintasi jalur pelayaran strategis tersebut pada Sabtu (08/08/2026) dini hari. Insiden ini terjadi justru ketika Iran dan Oman disebut semakin dekat mencapai kesepakatan mengenai pengaturan pelayaran di Hormuz.
ADNOC menyatakan tidak ada korban luka dalam serangan tersebut dan situasi telah berhasil dikendalikan. Namun, pemerintah UEA mengecam keras serangan terhadap kapal perusahaan energi milik negara itu. Reuters pada 8 Agustus 2026 melaporkan UEA menuding Iran berada di balik serangan tersebut dan menyebut tindakan terhadap pelayaran komersial sebagai ancaman serius terhadap kebebasan navigasi internasional. CNBC juga memberitakan insiden tersebut pada Sabtu, 8 Agustus 2026, pukul 09.06 waktu Amerika Serikat dan kemudian memperbarui laporannya.
Serangan terbaru menambah panjang daftar gangguan keamanan yang dialami armada ADNOC sejak konflik regional meningkat. Sehari sebelumnya, Jumat (7/8/2026), Reuters melaporkan ADNOC menyatakan sedikitnya 15 kapalnya telah menjadi sasaran rudal dan drone sejak konflik pecah. Tiga serangan terjadi hanya dalam satu pekan terakhir. Rangkaian insiden itu telah menewaskan satu awak dan menyebabkan 20 orang lainnya terluka.
Baca Juga
Harga Minyak Melonjak Setelah Iran Usulkan Pembatasan di Selat Hormuz
Insiden Sabtu terjadi di tengah diplomasi intensif untuk membuka kembali secara lebih luas Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia. Iran dan Oman sedang merundingkan mekanisme yang memungkinkan lalu lintas kapal kembali bergerak melalui selat tersebut. Pada 5 Agustus 2026, Reuters melaporkan kedua negara telah mencapai pemahaman mengenai koordinat geografis jalur pelayaran yang akan digunakan.
Namun, Teheran menegaskan kesepakatan dengan Oman tidak otomatis berarti Hormuz akan dibuka kembali secara bebas. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan pembukaan kembali selat bergantung pada penerimaan Amerika Serikat terhadap persyaratan Iran, bukan semata-mata hasil perundingan Iran-Oman.
Juru bicara IRGC Hossein Mohebbi pada Sabtu (8/8/2026) mengatakan pembukaan Hormuz tidak bergantung pada perundingan dengan Oman. Menurut dia, akses terhadap jalur strategis tersebut baru akan dipulihkan setelah Washington menerima persyaratan yang diajukan Teheran. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa sengketa Hormuz telah berkembang dari persoalan keamanan pelayaran menjadi instrumen tawar-menawar geopolitik Iran terhadap Amerika Serikat.
Reuters pada hari yang sama melaporkan kesepakatan Iran-Oman memang semakin dekat, tetapi Teheran mengajukan sejumlah kondisi tambahan sebelum membuka jalur pelayaran secara penuh. Di antara tuntutan itu adalah kompensasi dari Amerika Serikat, penghentian permusuhan, serta pencabutan sanksi. Dengan demikian, penyelesaian teknis mengenai jalur kapal belum serta-merta menyelesaikan konflik politik yang menjadi akar terganggunya pelayaran Hormuz.
Salah satu skema yang dibahas bahkan berpotensi memberikan Iran tingkat kontrol tertentu terhadap kapal yang memasuki Teluk. Reuters pada 5 Agustus 2026 melaporkan rancangan pengaturan tersebut dapat mengarahkan lalu lintas masuk melalui perairan Iran, sementara jalur keluar memanfaatkan perairan Oman. Persoalannya, Washington secara tradisional menolak pengaturan yang memberikan Teheran kendali atas navigasi internasional di Hormuz.
Amerika Serikat karena itu masih berhati-hati terhadap janji Iran. Wakil Presiden AS JD Vance, dalam wawancara dengan Fox News pada Sabtu, mengatakan pembicaraan Iran dengan negara-negara Teluk—khususnya Oman—mencakup pengaturan lalu lintas kapal, pembersihan ranjau, serta komitmen Iran untuk tidak menembaki kapal komersial. Washington, menurut Vance, akan menilai Iran berdasarkan tindakan di lapangan, bukan sekadar pernyataan politik.
Situasi tersebut membuat Hormuz tetap menjadi salah satu titik risiko terbesar bagi pasar energi dunia. Sebelum perang AS-Iran pecah pada 28 Februari 2026, selat sempit yang menghubungkan Teluk dengan Laut Oman itu merupakan jalur pelayaran internasional terbuka dan menjadi urat nadi ekspor minyak serta gas negara-negara Teluk. Gangguan terhadap jalur tersebut kemudian memukul arus perdagangan energi, menaikkan biaya pengangkutan dan asuransi, serta memperbesar tekanan terhadap harga energi dan inflasi global.
Risiko itu telah tercermin di pasar minyak. Harga minyak sebelumnya melonjak lebih dari US$3 per barel pada perdagangan Kamis (6/8/2026), setelah muncul kabar bahwa komite parlemen Iran sedang meninjau rancangan aturan yang dapat melarang kapal Amerika Serikat dan Israel melintasi Hormuz. Ketidakpastian mengenai akses pelayaran membuat pasar kembali memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak.
Pada perdagangan Jumat (7/8/2026), berdasarkan laporan CNBC yang dipublikasikan 8 Agustus, minyak Brent naik lebih dari 1% dan ditutup pada US$83,55 per barel. West Texas Intermediate (WTI) juga menguat sekitar 1% menjadi US$78,18 per barel. Meski demikian, dalam sepekan harga minyak masih mencatat penurunan lebih dari 7%, menggambarkan betapa cepatnya pasar bergerak mengikuti setiap perkembangan diplomasi dan militer di kawasan Teluk.
Konflik yang melatarbelakangi krisis Hormuz berlangsung sejak serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Iran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone terhadap berbagai sasaran di kawasan. Memorandum of understanding pada 17 Juni sempat memberikan jeda dalam pertempuran, tetapi setelah itu serangan dan serangan balasan kembali berlangsung selama beberapa pekan.
Baca Juga
Draft Iran Larang Kapal AS-Israel Lewati Hormuz, Washington Tolak Keras
Upaya diplomasi pun berjalan tidak mulus. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan garis besar kesepakatan dengan Iran telah terbentuk dan sempat membatalkan rencana serangan baru. Namun, pejabat Iran membantah interpretasi Washington tersebut. Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama Mohammad Bagher Ghalibaf bahkan menuding pendekatan Washington sebagai “theater diplomacy”.
Di tengah tarik-ulur itu, serangan terhadap kapal ADNOC menunjukkan jurang antara diplomasi dan kondisi keamanan di lapangan masih lebar. Oman berusaha membangun kompromi mengenai mekanisme navigasi, Washington menginginkan kebebasan pelayaran, sementara Iran berusaha mengaitkan pembukaan Hormuz dengan konsesi politik dan ekonomi yang lebih luas.
Bagi perekonomian dunia, pertaruhannya jauh melampaui konflik antara Washington dan Teheran. Setiap rudal yang mengarah ke kapal komersial di Hormuz dapat diterjemahkan pasar menjadi kenaikan premi asuransi, biaya angkut, risiko pasokan, harga minyak dan pada akhirnya inflasi. Itu sebabnya, serangan terhadap kapal ADNOC pada 8 Agustus 2026 menjadi peringatan bahwa meski kesepakatan Iran-Oman disebut semakin dekat, Selat Hormuz masih jauh dari kondisi normal.

