AS Bombardir Kota Pelabuhan Iran, Ketegangan di Selat Hormuz Kembali Memuncak
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah militer AS melancarkan serangan ke sejumlah kota pelabuhan di Iran sebagai respons atas serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz. Di saat yang sama, Iran memperketat pengawasan pelayaran di jalur strategis tersebut.
Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran bahkan mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga waktu yang belum ditentukan setelah sebuah kapal yang dituduh mengabaikan instruksi pelayaran dihentikan akibat terkena tembakan peringatan.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan operasi militer terhadap Iran masih berlangsung sebagai balasan atas serangan terhadap kapal yang melintas di Selat Hormuz. Serangan tersebut menandai berlanjutnya eskalasi konflik meski sebelumnya kedua pihak sempat memasuki fase gencatan senjata dan pembahasan negosiasi.
Melansir Aljazeera, Minggu (12/7/2026) media pemerintah Iran, IRIB, melaporkan sedikitnya 12 ledakan terdengar di Provinsi Bushehr, yang meliputi lima ledakan di kota pelabuhan Bandar-e Deyr, empat di Asaluyeh, dan tiga di Bushehr. Ledakan juga dilaporkan terjadi di Kangan, sementara sejumlah fasilitas militer di Bushehr dan Bandar-e Deyr disebut menjadi sasaran serangan.
Baca Juga
Kapal Pertamina Pride Berhasil Lintasi Selat Hormuz, Pasokan Energi Tetap Aman
Sementara itu, kantor berita semi-resmi Mehr melaporkan sistem pertahanan udara Iran diaktifkan di Bandar-e Mahshahr, Provinsi Khuzestan, di pesisir barat daya Iran. Hingga kini, otoritas Iran belum mengonfirmasi adanya kerusakan atau korban akibat serangan tersebut.
Di sisi lain, Iran disebut mulai menerapkan sistem baru dalam pengelolaan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Peneliti senior Center for Maritime Strategy, Ian Ralby, mengatakan Teheran berupaya memberlakukan mekanisme perizinan, pembayaran, dan pengawasan terhadap kapal-kapal yang melintas di jalur tersebut.
Menurut Ralby, kebijakan itu belum pernah diterapkan sebelumnya di Selat Hormuz dan berpotensi mengganggu prinsip kebebasan navigasi internasional.
"Iran mencoba melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan siapa pun di Selat Hormuz, yakni menerapkan sistem izin, pembayaran, dan pengawasan yang ditegakkan dengan kekuatan. Jika berhasil, langkah ini dapat menjadi preseden bagi wilayah maritim lainnya," ujarnya.
Ralby menambahkan lalu lintas kapal mulai bergeser mengikuti jalur yang disetujui Iran, sementara kapal yang menggunakan rute yang dipandu AS menghadapi risiko menjadi sasaran serangan.
Baca Juga
Ketegangan di Hormuz Meningkat, Trump Sebut Negosiasi dengan Iran “Buang Waktu”
Perselisihan mengenai pengendalian Selat Hormuz kini menjadi titik utama ketegangan antara Washington dan Teheran. Iran mengklaim memiliki kewenangan lebih besar dalam mengatur jalur pelayaran di kawasan tersebut, sedangkan AS tetap menegaskan prinsip kebebasan navigasi sesuai hukum internasional.
Eskalasi terbaru juga mengancam proses negosiasi yang sebelumnya sempat dibuka setelah kedua pihak menyepakati kerangka gencatan senjata melalui nota kesepahaman (MoU). Namun, perbedaan pandangan mengenai pengelolaan Selat Hormuz membuat proses diplomasi kembali berada di ujung tanduk.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia karena menjadi lintasan utama ekspor minyak dari kawasan Teluk. Gangguan terhadap arus pelayaran di wilayah ini berpotensi memengaruhi pasokan energi global dan meningkatkan volatilitas harga minyak.
