Primary Michigan dan Awal Pergeseran Arah Politik Luar Negeri Partai Demokrat AS
Oleh: Mahendra Siregar - Pemerhati Geopolitik, Mantan Wamenlu 2019-2022 dan Mantan Dubes di AS 2019.
INVESTORTRUST - Kemenangan Abdul El-Sayed dalam primary Partai Demokrat untuk kursi Senat di Michigan pada 4 Agustus 2026 menarik perhatian bukan semata karena ia seorang Muslim keturunan Mesir. Ia juga menjadi kandidat progresif pertama yang memenangkan primary tingkat negara bagian di negara bagian yang sebelumnya dimenangkan Donald Trump. Namun arti yang lebih besar dari hasil tersebut adalah masuknya Gaza, Israel, dan perang Iran ke dalam pertarungan mengenai arah Partai Demokrat.
Tentu terlalu sederhana menyimpulkan bahwa El-Sayed menang hanya karena kebijakan luar negeri. Kualitas kandidat, kemampuan mobilisasi, sentimen anti-establishment, pelayanan kesehatan, biaya hidup, dan besarnya belanja kelompok luar sama-sama berpengaruh. Ia mengunjungi 110 kota, mengadakan lebih dari 500 kegiatan, dan membangun jaringan sekitar 12.000 sukarelawan. Kemenangannya atas Haley Stevens pun kurang dari satu poin persentase.
Namun hasil Michigan menunjukkan sesuatu yang lebih jelas daripada sekadar adanya perubahan yang belum diketahui bentuknya. Yang mulai berubah adalah cara kebijakan luar negeri dibawa ke dalam politik domestik. Gaza memberikan dasar moral bagi penolakan terhadap kebijakan lama, sedangkan perang Iran menyediakan mekanisme ekonomi yang membuat penolakan tersebut relevan bagi pemilih yang lebih luas.
El-Sayed dan Politik Identitas yang Lebih Luas
Latar belakang El-Sayed memberikan daya tarik tersendiri. Ia seorang dokter, mantan pejabat kesehatan publik Detroit, Muslim, dan keturunan Mesir di negara bagian dengan komunitas Arab-Amerika yang besar. Namun identitas itu tidak berdiri sendiri. Ia menggabungkannya dengan agenda pelayanan kesehatan universal, perumahan, pajak korporasi, dan pembatasan pengaruh donor besar.
Karena itu, kemenangan El-Sayed tidak tepat dibaca sebagai pemilih Muslim memilih kandidat Muslim. Ia membangun koalisi yang lebih luas dengan menghubungkan persoalan Palestina dengan kritik terhadap establishment politik dan ekonomi.
Hubungan tersebut terlihat dalam pertarungan kampanye. Kelompok luar yang mendukung Stevens membelanjakan lebih dari US$60 juta, termasuk lebih dari US$30 juta dari AIPAC dan kelompok afiliasinya. El-Sayed kemudian menjadikan besarnya belanja tersebut sebagai bagian dari narasi “gerakan orang banyak melawan kekuatan uang”.
Dengan demikian, Israel bukan lagi sekadar isu diplomatik. Ia menjadi bagian dari pertanyaan yang lebih luas: siapa yang menentukan prioritas Partai Demokrat—pemilih atau kelompok donor?
Gaza sebagai Perubahan Moral
Politik luar negeri sebelumnya juga pernah menentukan politik domestik Amerika. Perang Vietnam, Irak, dan Afghanistan membuktikan hal tersebut. Karena itu, kebaruan Michigan bukanlah pertama kalinya perang masuk ke dalam kotak suara. Kebaruannya lebih spesifik: konsensus lama mengenai Israel mulai melemah dari dalam Partai Demokrat.
Pada 2025, hanya 8 persen pemilih Demokrat yang menyetujui operasi militer Israel di Gaza. Pada Februari 2026, Gallup mencatat 65 persen pemilih Demokrat lebih bersimpati kepada Palestina dan hanya 17 persen kepada Israel. Di kalangan warga Amerika berusia 18–34 tahun, perbandingannya mencapai 53 persen terhadap Palestina dan 23 persen terhadap Israel.
Pergeseran ini menunjukkan bahwa posisi El-Sayed tidak lagi berada di pinggiran basis Demokrat, terutama di kalangan pemilih muda. Gaza telah mengubah Israel dari isu aliansi strategis menjadi ukuran moral mengenai hak asasi manusia, penggunaan senjata Amerika, dan konsistensi nilai-nilai Demokrat. Seorang kandidat kini dapat menolak bantuan militer tanpa syarat kepada Israel dan menjadikannya bagian penting dari identitas politiknya.
Perang Iran dan Risiko Ekonominya
Perang Iran memberikan dimensi berbeda. Konflik tersebut tentu bukan penyebab tunggal inflasi Amerika. Harga konsumen dipengaruhi kebijakan fiskal dan moneter, rantai pasok, pasar tenaga kerja, perang Rusia–Ukraina, serta siklus komoditas.
Namun hubungan antara gangguan di Hormuz dan biaya domestik dapat ditunjukkan secara lebih konkret. Setelah terganggunya ekspor minyak dan produk petroleum dari Timur Tengah, harga energi meningkat tajam. Pada 30 Maret, harga rata-rata bensin reguler di Amerika mencapai US$3,99 per galon. EIA juga memperkirakan harga bensin sempat mencapai rata-rata bulanan mendekati US$4,30 pada April.
Selat Hormuz sebelumnya menyalurkan sekitar 20 persen konsumsi petroleum cair dunia dan seperempat perdagangan minyak melalui laut. Amerika hanya mengimpor sebagian kecil kebutuhannya melalui jalur tersebut, tetapi harga minyak tetap dibentuk oleh pasar global. Gangguan di Hormuz karena itu diterjemahkan menjadi harga bahan bakar, biaya transportasi, dan tekanan harga di dalam negeri.
Di sinilah hubungan Gaza–Iran menjadi kuat dalam narasi politik. Gaza menyediakan argumen moral terhadap kebijakan Timur Tengah Amerika. Perang Iran dan gangguan Hormuz menambahkan saluran ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat. Bukan berarti setiap pemilih menghitung kontribusinya terhadap inflasi secara rinci. Dalam politik, cukup apabila perang di luar negeri, kenaikan harga energi, dan penggunaan anggaran dipandang sebagai bagian dari pola prioritas yang keliru.
Apa yang Sebenarnya Berubah?
Michigan belum membuktikan bahwa mayoritas rakyat Amerika menginginkan kebijakan luar negeri progresif. El-Sayed masih harus menghadapi Mike Rogers dari Partai Republik dalam pemilu November 2026. Koalisi primary belum tentu dapat diperluas kepada pemilih independen dan moderat.
Namun perubahan penting tidak sepenuhnya bergantung pada apakah El-Sayed akhirnya menjadi senator. Yang sudah berubah adalah struktur perdebatan di dalam Partai Demokrat. Sikap kritis terhadap Israel tidak lagi otomatis berada di luar arus utama. Perang Iran tidak lagi dibicarakan hanya melalui keamanan nasional, tetapi juga melalui harga energi dan prioritas domestik. Dukungan donor pro-Israel pun tidak selalu menjadi aset; ia dapat digunakan lawan sebagai bukti dominasi establishment.
Primary di Michigan bukan sekadar tanda bahwa konsensus lama melemah. Hasilnya menunjukkan munculnya kerangka politik baru: biaya moral Gaza, risiko ekonomi gangguan energi di Hormuz, dan penolakan terhadap pengaruh donor dipersatukan dalam satu kritik terhadap arah kebijakan Amerika.
Kerangka tersebut belum menjadi kebijakan resmi Partai Demokrat. Tetapi ia telah terbukti mampu memenangkan primary tingkat negara bagian yang sangat kompetitif. Ujian berikutnya adalah apakah narasi yang sama dapat bertahan dalam pemilu umum November dan muncul kembali di negara bagian kompetitif lainnya. Itulah yang akan menentukan apakah Michigan hanya merupakan momentum lokal atau benar-benar awal pergeseran arah politik luar negeri Partai Demokrat AS. ***

