Pergeseran Arah Partai Demokrat AS Momentum Indonesia Perkuat Politik Bebas Aktif
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Paramadina Graduate School of Diplomacy (PGSD) Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam menilai dinamika menjelang Pemilihan Presiden Amerika Serikat atau Pilpres AS 2028 menjadi momentum bagi Indonesia memperkuat politik luar negeri bebas aktif. Umam menyatakan perubahan konfigurasi politik AS, termasuk arah politik Partai Demokrat berpotensi berpengaruh terhadap arah kebijakan luar negeri negara tersebut.
"Indonesia perlu mempertahankan politik luar negeri bebas dan aktif, memperkuat hubungan dengan seluruh kekuatan besar, serta memanfaatkan setiap perubahan konfigurasi politik Amerika Serikat untuk memperluas kerja sama ekonomi, investasi, teknologi, dan keamanan tanpa terjebak dalam rivalitas geopolitik," kata Umam dalam keterangannya dikutip Minggu (26/7/2026).
Baca Juga
Dipimpin Kamala Harris, Kongres AS Sahkan Kemenangan Trump dalam Pilpres 2024
Umam membeberkan hasil survei terbaru Granite State Poll dari University of New Hampshire Survey Center yang menunjukkan kontestasi menuju Pemilihan Presiden AS 2028 bukan lagi sekadar persaingan figur, tetapi mengarah pada persaingan ideologi di internal Partai Demokrat.
Dibeberkan, meningkatnya dukungan terhadap Alexandria Ocasio-Cortez (AOC), dari 14% menjadi 22% menunjukkan menguatnya pengaruh kubu progresif. Sementara itu, dukungan terhadap Pete Buttigieg tetap berada pada kisaran 19-21% yang mencerminkan kuatnya basis moderat. Sebaliknya, merosotnya dukungan terhadap Kamala Harris dan Gavin Newsom menunjukkan kelompok establishment mulai kehilangan dominasi politik.
Umam mengatakan, terdapat tiga poros kekuatan yang kini bersaing menentukan arah Partai Demokrat, yakni progressive democrats diwakili Alexandria Ocasio-Cortez dan Bernie Sanders, moderate democrats diwakili Pete Buttigieg dan Josh Shapiro, serta establishment democrats diwakili Kamala Harris dan Gavin Newsom.
"Pertarungan ini akan menentukan wajah kebijakan Amerika Serikat setelah 2028," katanya.
Ditekankan Umam, pertarungan tiga poros kekuatan ini memiliki implikasi yang melampaui politik domestik Amerika Serikat. Dalam isu Iran-Israel misalnya, Umam mengatakan kekuatan kubu progresif berpotensi mendorong pendekatan lebih kritis terhadap dukungan tanpa syarat kepada Israel, dengan penekanan lebih besar pada diplomasi, hak asasi manusia (HAM), dan hukum humaniter internasional.
"Sebaliknya, kubu moderat cenderung mempertahankan komitmen terhadap aliansi strategis Amerika sambil mengelola eskalasi konflik melalui jalur diplomasi," tambahnya.
Sementara, terkait isu kompetisi dengan China, Umam menilai siapa pun kandidat Partai Demokrat hampir pasti tetap mempertahankan strategic competition. Namun dengan pendekatan yang berbeda.
Baca Juga
Trump Pertimbangkan Serangan Masif ke Iran, Harga Minyak Justru Turun dan Opsi Damai Dibuka
"Kelompok moderat lebih mengedepankan penguatan aliansi, keamanan, dan daya saing ekonomi. Sedangkan kelompok progresif mengaitkan persaingan dengan isu perubahan iklim, hak asasi manusia, teknologi, dan keadilan ekonomi global," katanya.
