Analis Menilai Penguatan Yen Jepang Hanya Sementara Meski Didukung AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Langkah Amerika Serikat memberikan dukungan kepada Jepang untuk menahan pelemahan yen menjadi salah satu peristiwa paling penting di pasar valuta asing global tahun ini. Intervensi terkoordinasi tersebut berhasil mengangkat nilai tukar yen sekitar 5% dari posisi terendahnya dalam hampir empat dekade. Namun, mayoritas analis menilai penguatan itu berpotensi hanya bersifat sementara karena persoalan fundamental ekonomi Jepang belum berubah.
Yen sempat terpuruk hingga di atas level 163 per dolar AS, sebelum menguat ke kisaran 157 per dolar setelah otoritas Jepang bersama Departemen Keuangan AS melakukan intervensi di pasar valuta asing. Kementerian Keuangan Jepang mengonfirmasi operasi pembelian yen tersebut, yang diperkirakan bernilai sekitar US$36 miliar. Ini merupakan salah satu intervensi mata uang terbesar dan paling langka dalam beberapa tahun terakhir.
Laporan CNBC, Senin (02/08/2026), menyebutkan bahwa dukungan Washington memberikan efek psikologis yang kuat terhadap pasar. Namun, investor tetap mempertanyakan apakah penguatan yen dapat dipertahankan ketika faktor-faktor fundamental yang selama ini menekan mata uang Jepang masih belum berubah.
Baca Juga
Iran Bantah Ada Perundingan dengan AS, Fokus Bahas Selat Hormuz Bersama Oman
Strategis UBS, Teck Leng Tan dan Dominic Schnider, menilai kombinasi kebijakan Jepang belum cukup menciptakan penguatan yen secara berkelanjutan. Menurut mereka, Bank of Japan (BoJ) diperkirakan tetap menempuh normalisasi kebijakan moneter secara bertahap, sementara suku bunga riil masih berada di wilayah negatif. Kondisi tersebut membuat yen lebih banyak ditopang oleh risiko intervensi pemerintah dibandingkan kekuatan fundamental domestik.
Pandangan senada disampaikan HSBC. Bank tersebut menilai penguatan yen baru akan berkelanjutan apabila BoJ menaikkan suku bunga lebih agresif, pemerintah Jepang menunjukkan komitmen lebih kuat untuk mendukung mata uangnya, serta mengurangi ambisi ekspansi fiskal yang selama ini membebani prospek yen. Tanpa perubahan struktural tersebut, tren pelemahan yen terhadap dolar AS diperkirakan masih sulit dibalik.
Sementara itu, Head of Markets ING Chris Turner mengatakan ketahanan dolar AS juga dipengaruhi ekspektasi bahwa Federal Reserve masih berpeluang menaikkan suku bunga pada September. Prospek suku bunga AS yang tetap tinggi membuat imbal hasil obligasi pemerintah AS tetap menarik sehingga permintaan terhadap aset dolar masih kuat. Akibatnya, tekanan terhadap yen belum sepenuhnya mereda.
Di sisi lain, muncul spekulasi mengenai mekanisme intervensi yang digunakan Washington. Berbeda dengan praktik sebelumnya, sejumlah laporan menyebut Departemen Keuangan AS kemungkinan menjual euro untuk membeli yen, bukan menjual dolar AS. Strategi tersebut dinilai bertujuan menghindari kesan bahwa Washington menginginkan dolar yang lebih lemah, sekaligus mengurangi risiko Jepang harus melepas kepemilikan obligasi pemerintah AS dalam jumlah besar untuk membiayai intervensi.
Baca Juga
IHSG Berpeluang Naik, Tiga Saham Dipimpin TINS Direkomendasikan Beli
Namun, langkah tersebut juga memunculkan kritik. Robin Brooks, Senior Fellow di Brookings Institution, menilai penggunaan euro justru dapat mengurangi efektivitas intervensi. Menurutnya, pasar akan mempertanyakan mengapa Amerika Serikat tidak menggunakan dolar secara langsung apabila benar-benar ingin memberikan dukungan penuh kepada yen. Keraguan seperti itu berpotensi mengurangi kredibilitas intervensi di mata pelaku pasar.
Meski demikian, keterlibatan langsung Amerika Serikat dinilai memiliki makna strategis yang lebih besar dibandingkan intervensi sepihak Jepang pada 2022 dan 2024. Dukungan Washington meningkatkan biaya bagi pelaku pasar yang selama ini melakukan spekulasi terhadap pelemahan yen, sekaligus menunjukkan adanya koordinasi yang lebih erat antara dua sekutu utama tersebut dalam menjaga stabilitas pasar keuangan global.
Bagi pasar global, stabilisasi yen penting karena mata uang Jepang selama bertahun-tahun menjadi sumber utama pembiayaan carry trade, yakni praktik meminjam dana dalam yen yang berbunga rendah untuk diinvestasikan pada aset dengan imbal hasil lebih tinggi di negara lain. Pelemahan yen yang berkepanjangan meningkatkan risiko ketidakstabilan pasar keuangan, sedangkan penguatan yen yang terlalu cepat juga berpotensi memicu pembalikan arus modal global.
Dengan demikian, intervensi bersama Amerika Serikat dan Jepang berhasil memberikan jeda terhadap tekanan yang dialami yen. Namun, sebagian besar analis sepakat bahwa tanpa reformasi kebijakan moneter dan fiskal di Jepang serta penyempitan selisih suku bunga dengan Amerika Serikat, apresiasi yen diperkirakan hanya akan bersifat sementara dan pasar tetap akan menguji ketahanan mata uang Jepang dalam beberapa bulan mendatang.
Fundamental Ekonomi Jepang
Meski intervensi terkoordinasi Amerika Serikat dan Jepang berhasil mengangkat nilai tukar yen dari level terendahnya dalam hampir empat dekade, sejumlah ekonom menilai dampak positif kebijakan tersebut kemungkinan hanya bersifat sementara. CNBC dalam laporannya, Senin (03/08/2026), yang mengutip analis UBS, HSBC, ING, serta ekonom Robin Brooks dari Brookings Institution, menyebut pelemahan yen lebih disebabkan oleh persoalan fundamental ekonomi Jepang daripada sekadar tekanan spekulatif di pasar valuta asing.
Analis UBS, Teck Leng Tan dan Dominic Schnider, menilai bauran kebijakan ekonomi Jepang saat ini belum mampu menciptakan penguatan yen secara berkelanjutan. Menurut mereka, Bank of Japan (BoJ) memang telah memulai normalisasi kebijakan moneter, namun langkah tersebut berlangsung sangat bertahap sehingga suku bunga riil Jepang masih berada di wilayah negatif. Akibatnya, yen lebih banyak memperoleh dukungan dari risiko intervensi pemerintah dibandingkan dari kekuatan fundamental ekonomi domestik.
Faktor lain yang terus membebani yen adalah masih lebarnya selisih suku bunga antara Jepang dan Amerika Serikat. Ketika Federal Reserve mempertahankan suku bunga pada level tinggi untuk mengendalikan inflasi, Jepang masih menjalankan kebijakan moneter yang relatif longgar. Reuters dan The Wall Street Journal juga mencatat bahwa perbedaan imbal hasil tersebut membuat investor global lebih memilih memegang aset berbasis dolar AS dibandingkan yen, sehingga arus modal terus mengalir keluar dari Jepang.
Baca Juga
‘Big Tech’ Pimpin Reli di Wall Street, Dow Melonjak Hampir 700 Poin dan Cetak Rekor Baru
Kondisi tersebut turut mendorong maraknya praktik carry trade, yakni meminjam dana dalam yen yang berbunga rendah untuk diinvestasikan pada aset berimbal hasil lebih tinggi di luar negeri. Selama selisih suku bunga kedua negara masih lebar, permintaan terhadap yen diperkirakan tetap terbatas sehingga tekanan depresiasi belum sepenuhnya mereda.
Selain itu, Jepang masih menghadapi berbagai tantangan struktural, mulai dari pertumbuhan ekonomi yang rendah sejak pecahnya gelembung aset pada awal 1990-an, tingginya rasio utang pemerintah yang telah melampaui 250% terhadap produk domestik bruto (PDB), hingga krisis demografi akibat menurunnya jumlah penduduk usia produktif dan meningkatnya populasi lanjut usia. Financial Times dan Associated Press (AP) menilai persoalan-persoalan tersebut membatasi ruang Bank of Japan untuk menaikkan suku bunga secara agresif karena berpotensi meningkatkan beban pembayaran bunga utang pemerintah.
Sementara itu, HSBC, sebagaimana dikutip CNBC, menilai penguatan yen baru akan berlangsung secara berkelanjutan apabila Bank of Japan mempercepat normalisasi kebijakan moneternya, pemerintah Jepang menunjukkan komitmen yang lebih kuat dalam menjaga stabilitas mata uang, serta mulai mengurangi ekspansi fiskal. Tanpa perubahan kebijakan yang lebih mendasar, tren pelemahan yen terhadap dolar AS diperkirakan masih akan berlanjut meskipun sesekali tertahan oleh intervensi pemerintah.
Pandangan serupa disampaikan Robin Brooks, Senior Fellow di Brookings Institution, yang menilai intervensi valuta asing hanya efektif meredakan gejolak pasar dalam jangka pendek dan menghambat aksi spekulatif terhadap yen. Namun, tanpa perbaikan fundamental ekonomi, kebijakan tersebut hanya memberikan ruang bernapas sementara. Dalam jangka panjang, arah pergerakan yen tetap akan ditentukan oleh kekuatan ekonomi Jepang, kebijakan moneter Bank of Japan, serta dinamika suku bunga global, terutama kebijakan Federal Reserve Amerika Serikat.
