Rupiah Kokoh Hadapi Dolar AS, Yen Jepang Mencatat Penguatan Tajam
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah mencatat penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah menguat 0,2% ke posisi Rp 17.605 per dolar AS pada Selasa (8/9/2026).
Sejumlah mata uang di Asia, menguat terhadap dolar AS. Won Korea Selatan menguat 0,54%, peso Filipina menguat 0,21%, dolar Singapura menguat 0,12%, dan baht Tailan menguat 0,18%. Sementara itu, yuan China dan ringgit Malaysia melemah masing-masing 0,01% dan 0,03%.
Salah satu perhatian pasar tertuju pada penguatan yen Jepang. Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro melihat yen menguat tajam terhadap dolar AS, dengan USD/JPY turun sekitar 1,1% menjadi 154,4.
"Ini merupakan level terkuat dalam tujuh bulan " kata Andry, Selasa (8/9/2026).
Andry mengatakan penguatan tersebut didorong oleh meningkatnya ekspektasi pengetatan kebijakan BOJ, arus repatriasi dana, serta unwinding posisi carry trade yang menggunakan yen sebagai sumber pendanaan
Baca Juga
Pasar saham AS ditutup pada Senin karena libur Hari Buruh (Labor Day). Pada perdagangan terakhir Jumat, Dow Jones turun 0,51% menjadi 53.414,3. Sementara itu, S&P 500 turun 0,38% menjadi 7.718,6 setelah data payroll AS yang lebih kuat dari perkiraan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Andry mencatat indeks dolar AS atau DXY melemah sekitar 0,2% menjadi 98,9 karena apresiasi tajam JPY mengimbangi dukungan dari meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Nonfarm payrolls AS bertambah 162.000 pada Agustus 2026, jauh di atas konsensus 56.000, sementara tingkat pengangguran tetap di 4,1%. Perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada data PPI AS pada Kamis dan CPI pada Jumat. Inflasi CPI headline diperkirakan tetap di sekitar 3,4% yoy, sedangkan core CPI diperkirakan turun menjadi 2,4% yoy dari 2,5%.
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tetap tinggi setelah rilis laporan ketenagakerjaan yang kuat. Pasar memperkirakan probabilitas sekitar 58% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 bps pada pertemuan FOMC 15–16 September.
Oleh karena itu, data inflasi yang akan datang akan menjadi penentu penting. CPI yang lebih tinggi dari perkiraan kemungkinan akan semakin memperkuat peluang kenaikan suku bunga pada September.
Selain kondisi ekonomi domestik AS, Andry melihat ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat, mendorong harga minyak Brent naik 1,1% menjadi US$ 97,31 per barel. AS dan Iran saling melancarkan serangan terhadap kapal selama akhir pekan, sementara Iran mengancam akan melakukan pembalasan terhadap infrastruktur energi di kawasan serta berencana menetapkan zona terbatas di sekitar Selat Hormuz.
Rata-rata lalu lintas kapal pengangkut komoditas melalui Hormuz telah turun ke level terendah sejak Mei, sehingga risiko kenaikan harga energi dan inflasi global tetap tinggi. Sementara itu, OPEC+ mempertahankan kebijakan produksi untuk Oktober tanpa perubahan.
