Rupiah Menguat Terhadap Dolar AS, Penguatan Yen Jepang Masih Berlanjut
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah terpantau menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (9/9/2026). Rupiah menguat sebesar 0,35% ke posisi Rp 17.570 per dolar AS.
Penguatan juga terjadi sejumlah mata uang di kawasan Asia. Peso Filipina menguat 0,28%, dolar Singapura menguat 0,02%, dan baht Tailan menguat 0,04%. Penguatan juga masih terjadi pada yen Jepang sebesar 0,25%.
Sementara itu, ringgit Malaysia dan won Korea Selatan terpantau melemah terhadap dolar AS. Ringgit melemah 0,16% dan won melemah 0,14%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mencermati indeks dolar AS atau DXY melemah 0,39% menjadi 98,79. Ini mencerminkan berlanjutnya penguatan yen terhadap dolar AS, meskipun imbal hasil US Treasury meningkat dan ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed menguat.
Yen terus menguat dengan USD/JPY turun menjadi 154,0, mencerminkan penguatan yen sebesar 0,25% secara day-to-date (dtd) dan 1,74% year to date. Penguatan tersebut didukung oleh meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ), arus repatriasi, serta unwinding transaksi carry trade yang didanai yen.
Baca Juga
Rupiah Kokoh Hadapi Dolar AS, Yen Jepang Mencatat Penguatan Tajam
Sementara itu, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tetap tinggi, dengan pasar memperkirakan probabilitas sekitar 60% untuk kenaikan 25 bps pada rapat FOMC 15–16 September.
Data payrolls Agustus yang kuat semakin memperkuat alasan untuk melakukan pengetatan kebijakan lebih lanjut, meskipun rilis CPI mendatang tetap menjadi ujian utama. Data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan dapat mengurangi probabilitas kenaikan suku bunga pada September, sementara tekanan harga yang tetap tinggi akan memperkuat alasan untuk kembali menaikkan suku bunga.
Dari Timur Tengah, situasi yang masih panas antara AS dengan Iran memicu kenaikan harga minyak mentah Brent. Data menunjukkan harga minyak mentah Brent naik 0,95% menjadi US$ 97,9 per barel.
Berdasarkan pemberitaan, serangan kelompok Houthi mengganggu sejumlah fasilitas energi Arab Saudi, sementara Iran mengancam akan melakukan aksi pembalasan lebih lanjut terhadap kepentingan AS dan infrastruktur energi di kawasan. Lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz juga melambat, sehingga risiko terhadap pasokan minyak dan kekhawatiran terhadap inflasi global tetap tinggi.
