Meski Koreksi IHSG bisa ke Level 7.300, Analis Ini Menilai masih Wajar
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menunjukkan tren penurunan dalam tiga pekan terakhir. Meski demikian, koreksi tersebut dinilai masih wajar dan berpotensi berlanjut hingga 7.300.
Padapada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (10/10/2024), IHSG kembali terkoreksi 0,28% menjadi 7.480,08. Level penutupan tersebut kian jauh dari level penutupan tertinggi IHSG sepanjang masa 7.905 pada 19 September 2024.
Head of Financial Educator Sucor Sekuritas Hendry Wijaya mengatakan, penurunan IHSG dalam beberapa pekan ini masih tergolong sangat wajar, menyusul ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Bahkan, IHSG masih berpeluang melemah menuju level 7.300.
Baca Juga
Investor Asing Lanjutkan Net Sell Rp 977,19 Miliar, Saham Bank kembali Dilepas
“Ini koreksi yang sehat, karena memang kalau all time high growth terus, kita mau masuk juga agak mikir. Waktu itu sudah tinggi sekali ya Rp 7.900. Sekarang yang dilihat adalah memanasnya konflik di Timur Tengah,” jelas Hendry kepada Investortrust.id, Kamis (10/10/2024).
Konflik yang mempengaruhi gerak bursa saham global, termasuk Indonesia, datng dari serangan balik Iran ke Israel disusul info rencana balasan Israel dan Amerika ke kilang minyak Iran. Hal ini membuat harga minyak mentah naik drastis dan membuat investor asing lari ke aset safe haven, yakni emas.
Bahkan, harga emas kembali menyentuh rekor harga tertinggi baru (all time high), diikuti pelemahan Rupiah akibat perpindahan dana dari saham. Dalam sepekan terakhir, Hendry menyebut bahwa investor asing telah mencatatkan jual bersih (nett sell) Rp 5 triliun.
Baca Juga
AMRO Sebut Penurunan Bunga The Fed Belum Berpengaruh Positif ke Stabilitas Keuangan ASEAN+3
Sentimen tersebut, terang dia, membuat investor asing beralih membeli Dolar Amerika Serikat (AS) yang saat ini terapresiasi menjadi Rp 15.650 per dolar. “Artinya terjadi capital outflow. Apalagi setelah China info bahwa mereka akan melakukan stimulus besar demi mendorong pertumbuhan ekonomi tetap 5%,” sambung Hendry.
Dengan berita tersebut, Shanghai Composite Index dan Hang Seng melesat, yakni di atas 3-4% setiap hari. Namun diperkirakan pergeseran investasi ke China belum berakhir. “Masih banyak mungkin kita bisa lihat asing keluar untuk pindah ke sana. Jadi koreksi ini (masih) ringan,” imbuh dia.
Namun Sucor Sekuritas optimistis, pasar saham Indonesia akan kembali terapresiasi pada akhir tahun, salah satunya berkat era pemangkasan suku bunga yang masih berlanjut di tahun-tahun berikutnya. Tahun ini saja, The Federal Reserve (The Fed) masih memiliki rencana pemangkasan suku bunga, satu kali lagi.
Baca Juga
Nasabah Prioritas Capai 161 Ribu, Kelolaan Aset Wealth Management BRI Tumbuh 23,05%
Dilanjutkan dengan pemangkasan suku bunga empat kali tahun depan dan pemangkasan dua kali pada 2026. “Kita akan diuntungkan karena sampai hari ini neraca perdagangan kita masih surplus. Artinya Rupiah itu bukan tabiatnya untuk melemah, mestinya menguat karena surplus kita besar. Apalagi kalau China stimulus besar, ekonomi mereka recover,” papar Hendry.
Pertumbuhan ekonomi China nantinya otomatis ikut mendongkrak pendapatan Indonesia, karena China merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia. Belum lagi, tujuan ekspor terbesar kedua bagi Indonesia, yakni India juga mengalami pertumbuhan ekonomi yang luar biasa.
“Itu bisa bikin Rupiah kita jauh lebih kuat dan itu yang akan meng-attract modal asing untuk lebih banyak masuk ke Indonesia,” tegas Hendry. Sementara itu, Sucor Sekuritas masih optimistis IHSG dapat naik kembali ke kisaran 7.800-8.000 pada akhir tahun.
Grafik IHSG
