Iran Klaim Tutup Selat Hormuz Lagi, Tuding AS Langgar Kesepakatan
Poin Penting
|
TEHERAN, investortrust.id - Iran menyatakan telah menutup lagi Selat Hormuz setelah serangan udara Israel di Lebanon selatan yang menurut Teheran melanggar kesepakatan yang sebelumnya dicapai dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik regional.
Militer Iran menegaskan langkah tersebut diambil sebagai respons atas apa yang disebut sebagai pelanggaran terhadap butir utama kesepakatan AS-Iran, yakni penghentian segera dan permanen operasi militer di seluruh front, termasuk Lebanon.
Baca Juga
14 Butir MoU: Iran Menang Besar, AS Menyelamatkan Muka, Israel dan Oposisi Iran Tersisih
Namun, klaim Iran segera dibantah Washington. Juru bicara Komando Pusat Militer AS (CENTCOM), Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins, mengatakan lalu lintas pelayaran komersial masih berlangsung normal.
“Lalu lintas terus mengalir. Pasukan AS memantau situasi untuk memastikan kondisi tersebut tetap berlangsung. Iran tidak mengendalikan Selat Hormuz,” kata Hawkins, seperti dikutip BBC.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melewati jalur sempit tersebut setiap hari, menjadikannya salah satu titik paling vital bagi keamanan energi global.
Dilansir BBC, data pelacakan kapal menunjukkan sedikitnya lima kapal tanker masih melintasi selat tersebut pada Sabtu. Meski demikian, beberapa kapal dilaporkan melakukan putar balik di sekitar kawasan akibat meningkatnya ketidakpastian keamanan.
Ketegangan terbaru muncul kurang dari 24 jam setelah gencatan senjata baru antara Israel dan kelompok Hizbullah diumumkan. Namun kedua pihak saling menuduh melakukan pelanggaran.
Serangan di Lebanon
Otoritas kesehatan Lebanon menyebut sedikitnya 20 orang tewas akibat serangan udara Israel di wilayah selatan negara itu. Sementara militer Israel mengklaim telah menyerang puluhan target Hizbullah setelah kelompok yang didukung Iran tersebut menembakkan lebih dari 50 proyektil ke arah pasukan Israel.
Israel juga melaporkan seorang tentaranya tewas dalam pertempuran di Lebanon selatan.
Di tengah situasi yang memburuk, Wakil Presiden AS JD Vance bertolak ke Swiss untuk melakukan pembicaraan langsung dengan Iran. Ia menyatakan berharap ada kemajuan terkait program nuklir Iran dan implementasi gencatan senjata di Lebanon.
“Situasinya sebenarnya mulai membaik dan ketegangan sedikit mereda. Tujuan utama kami adalah memastikan Israel dan Lebanon sama-sama aman,” ujar Vance.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan negaranya akan menuntut pihak lain memenuhi seluruh komitmen yang telah disepakati.
Pembicaraan di Swiss juga akan dihadiri Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif. Islamabad selama ini berperan sebagai mediator dan sebelumnya menjadi tuan rumah perundingan AS-Iran pada April lalu.
Awal pekan ini, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani kesepakatan awal untuk mengakhiri perang, termasuk penghentian konflik di Lebanon, dengan target mencapai perjanjian final dalam 60 hari ke depan.
Baca Juga
Setelah Kesepakatan AS-Iran Diteken, Negosiasi Final 60 Hari Kini Jadi Penentu
Namun, langkah Iran mengumumkan kembali penutupan Hormuz menunjukkan rapuhnya proses perdamaian tersebut dan meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
