Trump Klaim Kesepakatan AS-Iran Hampir Rampung, Selat Hormuz Segera Dibuka?
Poin Penting
|
WASHINGTON DC, investortrust.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan damai dengan Iran yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz “sebagian besar telah dinegosiasikan” dan akan diumumkan dalam waktu dekat.
Pernyataan tersebut memunculkan harapan baru bagi pasar global setelah konflik berkepanjangan antara Washington dan Teheran mengguncang perdagangan energi dunia dan mendorong inflasi AS ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga
Dalam unggahan media sosial pada Sabtu (23/5/2026), Trump menyatakan dirinya melakukan serangkaian pembicaraan dari Oval Office dengan para pemimpin Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, Yordania, Bahrain, serta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Menurut Trump, pembicaraan tersebut berfokus pada finalisasi syarat-syarat perjanjian dengan Republik Islam Iran.
“Kesepakatan sebagian besar sudah dinegosiasikan, tinggal menunggu finalisasi antara Amerika Serikat, Republik Islam Iran, dan sejumlah negara lain,” beber Trump, seperti dikutip CNBC.
Ia menambahkan rincian akhir kesepakatan masih dibahas dan akan segera diumumkan, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi global.
Tahap Awal Kesepahaman
Kementerian Luar Negeri Iran juga mengonfirmasi adanya rencana memorandum of understanding (MoU) sebagai tahap awal sebelum pembicaraan lebih luas digelar dalam 30 hingga 60 hari ke depan.
Sebelumnya, Financial Times melaporkan bahwa kerangka kesepakatan potensial mencakup pembicaraan nuklir baru, pelonggaran sanksi terhadap Iran, serta pencairan aset Iran di luar negeri yang selama ini dibekukan.
Sejak gencatan senjata rapuh diberlakukan pada 8 April lalu, AS dan Iran masih terlibat sejumlah insiden kecil di sekitar Selat Hormuz. Konflik tersebut memicu apa yang disebut negara-negara Teluk sebagai krisis energi global terburuk dalam beberapa dekade terakhir.
Lonjakan harga minyak dan gas telah memperbesar tekanan inflasi di AS sekaligus meningkatkan spekulasi bahwa Federal Reserve mungkin kembali menaikkan suku bunga.
Qatar dan Pakistan Aktif Jadi Mediator
Negosiasi intensif juga melibatkan Qatar dan Pakistan. Menurut laporan Financial Times, diplomat kedua negara menggelar pembicaraan dengan pejabat Iran pada Kamis dan Jumat sambil terus berkomunikasi dengan utusan khusus AS Steve Witkoff.
Namun jalan menuju kesepakatan penuh masih tidak mudah.
Reuters melaporkan negosiator utama Iran menegaskan Teheran tidak akan mengorbankan “hak-hak sahnya”, termasuk terkait program nuklir, dan masih menyimpan ketidakpercayaan mendalam terhadap Washington.
Baca Juga
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf bahkan menyatakan kemampuan militer Iran yang sempat rusak sejak konflik pecah pada Februari lalu kini telah dipulihkan.
Uranium dan Fasilitas Nuklirk
Salah satu hambatan terbesar dalam negosiasi adalah tuntutan Trump agar Iran menyerahkan seluruh uranium yang telah diperkaya dan menghentikan secara permanen kapasitas pengembangan senjata nuklir.
Trump juga meminta Iran membongkar fasilitas nuklir Natanz, Fordow, dan Isfahan yang sebelumnya dibombardir AS setelah Washington bergabung dalam perang Israel melawan Iran tahun lalu.
Meski demikian, Kementerian Luar Negeri Iran menyebut posisi kedua negara kini berada dalam situasi “sangat jauh sekaligus sangat dekat” menuju kesepakatan.
Teheran menilai Washington beberapa kali menunjukkan sikap yang saling bertentangan selama proses negosiasi berlangsung.
Awal pekan ini, Trump mengatakan AS sengaja menunda serangan militer baru terhadap Iran karena “negosiasi serius” sedang berjalan.
Baca Juga
Negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Qatar, dan UEA juga mendesak Washington menghentikan aksi militer karena khawatir Iran akan melakukan pembalasan terhadap kawasan dan memperburuk gejolak pasar energi dunia.

