Memprediksi Puncak Harga Premium Barito Renewable (BREN)
JAKARTA, investortrust.id – Jagat pasar modal di Indonesia dikejutkan oleh lonjakan harga saham yang fenomenal dari emiten-emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu di bawah bendera Barito Pacific. Salah satunya PT Barito Renewable Energy Tbk (BREN), yang baru melantai di Bursa Efek Indonesia pada 9 Oktober lalu.
Belum genap 1,5 bulan, harga saham BREN sudah melesat lebih 700%. Saham ini pernah mencapai harga tertinggi di level Rp 6.800, atau meroket 772% dibanding harga IPO sebesar Rp 780 atau lebih dari 8 kali lipat. Kapitalisasi pasarnya sebesar Rp 843 triliun, menyalip BRI, atau di peringkat kedua di bawah BCA. Pada perdagangan Selasa (21/11/2023), harga saham BREN turun ke posisi Rp 6.275 dengan market cap Rp 808 triliun.
Di jajaran emiten dengan lini bisnis utama energi panas bumi (geothermal) maupun energi terbarukan, harga BREN juga tergolong paling mahal dari sisi price to earning ratio (PER) maupun price to book value (PBV). PER BREN saat ini mencapai 579 dan PBV 224 kali. Adapun saham peer-nya, seperti Pertamina Geothermal (PGEO) memiliki PER 22,4 dan PBV 1,72. Demikian pula Cikarang Listrindo (POWR), PER dan PBV-nya masing-masing 8,16 dan 1,03.
Sampai kapan harga premium BREN ini akan bertahan? Apakah masih akan terus meningkat? Kapan sebaiknya investor masuk?
Menurut Head of Investment PT Reswara Gian Investa, Kiswoyo Adi Joe, saham-saham dari grup usaha Barito ini memang selalu dihargai premium, lebih mahal dibandingkan emiten sejenis. “Karena mereka memang perusahaan bagus,” tegasnya kepada investortrust.id, Selasa (21/11/2023).
Sebelum Barito Renewable melantai di bursa, emiten perusahaan Prajogo Pangestu seperti Chandra Asri sudah menunjukkan citra positif, sebagai produsen petrokimia terbesar di Asia Tenggara. Sedangkan BREN memperkuat citra grup ini, dengan menjadi pemilik aset panas bumi terbesar di Indonesia.
“Jadi memang mereka itu perusahaan-perusahaan bagus lah,” tegas Kiswoyo.
Dia menambahkan, lini bisnis pembangkit listrik panas bumi (PLTPB) paling menguntungkan karena menggunakan sumber daya alam. Berbeda dengan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang harus membeli batu bara terlebih dahulu untuk operasionalnya. “Kalau ini tenaga alam kan gratis, tinggal maintain saja,” sambung Kiswoyo.
Meski investasi awal yang dibutuhkan perusahaan geothermal diakui sangat besar, bila sumber daya panas buminya sudah ditemukan dan sudah bisa didistribusi, usaha ini dipercaya mampu mencetak penghasilan yang berulang (recurring income).
“Setelah itu, berikutnya tinggal perawatan alat. Jadi ini seperti perusahaan recurring income, apalagi sudah beroperasi dan berproduksi,” jelas dia.
Kiswoyo melihat premiumnya harga saham BREN sebagai hal yang normal, karena didukung tren energi baru terbarukan (EBT) yang potensial dan digarap serius. Mengingat, Indonesia turut menandatangani Perjanjian Paris yang menargetkan penurunan gas emisi rumah kaca (GRK) hingga 2030 dan target net zero emission maksimal tahun 2060.
Panas bumi dianggap sebagai EBT paling murah karena menyediakan sumber daya yang lebih stabil, dibanding bayu yang tidak selalu memberikan angin kencang, serta surya yang tidak selalu bisa memberi panas matahari maksimal sepanjang hari.
“Sedangkan geothermal selama sudah ketemu titik yang pas, sudah awet, tinggal perawatan saja untuk mempertahankan produksi,” tutur Kiswoyo.
Namun dia tidak bisa memprediksi pergerakan harga saham BREN selanjutnya, akibat kenaikan yang sudah berlebih alias tidak bisa dilihat lagi titik normalnya. Sehingga pergerakan saham BREN mayoritas dikendalikan pasar yang saat ini mempercayai Barito Group.
Di sisi lain, Kiswoyo mengakui bahwa kinerja saham BREN tak luput dari peran investor institusi, termasuk dana asing yang ikut memengaruhi keputusan investasi pemodal domestik.
“Barito memang bukan perusahaan sembarangan lah, alias perusahaan bagus. Apalagi mau bagi dividen kan. Bayangkan baru IPO sudah mau langsung bagi dividen, ini jarang loh,” seru dia.
Kiswoyo menilai saham BREN masih layak dikoleksi dan merekomendasikan pelaku pasar untuk buy on weakness bila harga sudah turun ke level Rp 6.000 per saham, sebelum BREN masuk Morgan Stanley Capital International (MSCI).
“Ada beberapa saham saat ini tujuannya ingin masuk ke MSCI. Jadi selama blm masuk, harganya masih bisa naik. Tapi kalau sudah masuk MSCI kecenderungan naiknya sudah berakhir,” kata Kiswoyo.
Diwawancara terpisah, Investment Analyst (Retail) Indo Premier Sekuritas Emir Parengkuan menilai, kelayakan harga saham BREN sudah tidak bisa mengikuti valuasi lagi. Sebab, pergerakannya yang dianggap sudah tidak rasional.
Pergerakan harga saham tersebut, menurut Emir, turut didukung oleh pembelian dari manajer investasi (MI) yang tidak mendapat alokasi saham saat BREN melantai di bursa. Emir melihat harga saham BREN saat IPO cenderung tinggi.
“Fund-fund ini kan dapat alokasinya gak ada untuk di BREN. Jadi, saat harga naik tinggi dan market cap naik, mau nggak mau para fund manager itu juga harus ikut masuk. Sebab, mereka nggak dapat alokasi sama sekali. Sedangkan market cap sudah tinggi banget,” sambung Emir.
Faktor selanjutnya, menurut Emir, ada pedagang (trader) saham besar yang turut mengapresiasi momen penguatan harga BREN. Sehingga kombinasi tersebut membuat harga saham BREN dan emiten Prajogo Pangestu lainnya naik berkali-kali meski valuasinya dinilai sudah tidak masuk akal.
Sedangkan untuk sentimen pembagian dividen, dia menilai hal ini sebagai pemanis yang ikut dan kembali meramaikan semaraknya penguatan harga saham BREN.
Hak Eksklusif
Barito Renewables Energy (BREN) adalah perusahaan induk yang berbasis di Indonesia, bagian dari Barito Pacific. Barito Renewables berfokus pada strategi jangka panjang untuk menyediakan energi yang lebih bersih dan emisi yang lebih rendah. Barito Renewables adalah pemegang saham dari Star Energy Geothermal Group, produsen listrik tenaga panas bumi terkemuka.
“IPO Barito Renewables akan membawa BREN tidak hanya terbatas pada industri geotermal namun juga menuju ke teknologi terbarukan lainnya, dengan didukung oleh keunggulan operasional yang kuat. Kami berharap BREN akan menarik mitra, investor, dan bakat baru dalam upaya kami untuk membantu Indonesia mencapai target energi terbarukan dan menciptakan masa depan yang lebih cerah dan bersih,” kata Hendra Soetjipto Tan, CEO Barito Renewables saat IPO Oktober lalu.
BREN memiliki kinerja keuangan yang kuat dan operasional yang solid dengan rekam jejak ekspansi organik dan inorganik yang stabil yang telah menghasilkan pertumbuhan keuangan dan profitabilitas yang baik, dan secara bersamaan telah menarik talenta, mitra, dan investor kelas dunia.
Saat ini, Barito Renewable memiliki sejumlah plant geothermal di berbagai daerah di Indonesia. Pertama adalah Star Energy Geothermal (Wayang Windu) Limited yang mengoperasikan kapasitas listrik sebesar 230,5 MW. Perusahaan ini memiliki hak eksklusif untuk mengembangkan area panas bumi berdasarkan Kontrak Operasi Bersama dengan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) hingga 2039 dan menyediakan listrik hingga 400 MW berdasarkan kontrak penjualan energi dengan PGE & PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Wayang Mindu berlokasi 40 km selatan Bandung dan mengoperasikan total 227 MW untuk Jaringan Listrik Interkoneksi Jawa-Madura-Bali (Jamali). Pembangunan Wayang Windu Unit 1 (110 MW) selesai pada 1999, sejak 2000 telah berproduksi dengan kapasitas penuh dan mencapai ketersediaan listrik rata-rata lebih dari 98%.
Pada masa awal pengoperasiannya, Wayang Windu Unit 1 merupakan turbin geothermal terbesar di dunia. Pada 2 Maret 2009, Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) meresmikan pengoperasian Wayang Windu Unit 2 yang memiliki kapasitas turbin tunggal sebesar 117 MW.
Plant kedua adalah Darajat II, yang mengoperasikan kapasitas uap dan listrik sebesar 274,5 MW. Star Energy Geothermal Darajat II memiliki hak eksklusif untuk mengembangkan area panas bumi berdasarkan Kontrak Operasi Bersama dengan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) hingga 2041 (Unit 1&2) dan 2047 (unit 3) dan menyediakan energi panas bumi serta listrik hingga 330 MW berdasarkan Kontrak Penjualan Energi dengan PGE dan PLN.
Darajat II juga menyediakan uap panas bumi dan listrik dengan total 219,5 MW untuk Jamali. Operasi komersial Proyek Panas Bumi Darajat berlokasi di sekitar Garut, Jawa Barat dimulai pada November 1994 dengan kapasitas sekitar 145 MW. Total kapasitasnya kini berlipat menjadi 274,5 MW.
Ketiga adalah Star Energy Geothermal Salak, Ltd (SEGS) yang memiliki hak eksklusif untuk mengembangkan area panas bumi berdasarkan kontrak operasi bersama dengan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) hingga 2040 dan menyediakan listrik hingga 495 MW berdasarkan Kontrak Penjualan Energi dengan PGE dan PLN.
SEGS berlokasi sekitar 70 km dari Jakarta, dan menyuplai uap panas bumi untuk menghasilkan listrik melalui pembangkit listrik sebesar 180 MW yang dioperasikan oleh PLN. SEGS juga menyediakan uap panas bumi dan mengoperasikan pembangkit listrik sebesar 201 MW untuk Jamali. Pada 2021, SEGS berhasil mencapai kapasitas listrik sebesar 381 MW, yang menempatkan SEGS sebagai salah satu operasi panas bumi terbesar di dunia.
Plant keempat adalah Star Energy Geothermal Indonesia di kawasan Gunung Hamiding. Di tahun 2013, PT Star Energy Geothermal Indonesia (SEGI) mendapatkan penugasan dari Pemerintah Indonesia untuk melakukan Survei Pendahuluan (PSP) prospek panas bumi di Gunung Hamiding, provinsi Maluku Utara.
Kelima adalah PT Star Energy Geothermal Suoh Sekincau (SEGSS) yang memiliki lisensi untuk melakukan eksplorasi panas bumi di prospek Sekincau Selatan. SEGSS melaksanakan survei dan eksplorasi awal (PSPE) untuk Sekincau Selatan, Provinsi Lampung. Untuk tahap eksplorasi pertama, SEGSS berencana mengebor setidaknya satu sumur eksplorasi di prospek Sekincau Selatan yang memiliki potensi panas bumi yang signifikan.
Sumber Daya Masif
Sementara itu, analis Sinarmas Sekuritas, Inav Harian Chandra dalam riset yang diterbitkan beberapa waktu lalu menyebutkan bahwa peningkatan kapasitas pembangkit listrik geothermal di Indonesia masih tinggi, apalagi dengan adanya upaya pemerintah untuk memperbesar porsi penggunaan energi terbarukan.
“Indonesia berada di cincin api (Ring of Fire), yaitu wilayah yang terkenal dengan sumber daya panas bumi terbesar. Hal ini tentu akan mengtungkan emiten pembangkit listrik geothermal dalam jangka panjang,” terangnya.
Bahkan, ungkap riset tersebut, Asian Development Bank mengestimasi Indonesia memiliki potensi sumber daya panas bumi hingga 29.000 MW. Angka tersebut lebih dari cukup untuk menyuplai kebutuhan energi listrik dunia saat ini.
Meski memiliki sumber daya besar, kata Inav, pembangkit listrik geothermal Indonesia masih tergolong minim, walaupun Indonesia menempati urutan kedua di dunia dengan kapasitas pembangkit listrik geothermal terbesar di dunia.
Selain faktor sumber daya besar, Sinarmas Sekuritas menyatakan, keputusan Pemerintah Indonesia meratifikasi Kesepakatan Paris tahun 2016 yang membawa konsekuensi penurunan emisi gas buang sebanyak 29% tahun 2030. Kesepakatan tersebut berpotensi mengalihkan sumber energi listrik dari batu bara menjadi energi ramah lingkungan.
Guna mengurangi emisi karbon secara besar, lanjut Inav, pemerintah telah menerbitkan beragam kebijakan dan insentif untuk pembangunan pembangkit listrik geothermal, termasuk penerapkan pajak karbon dan tax holiday untuk pengembangan pembangkit listrik ramah lingkungan.
Atas dasar itu, Wood Mackenzie mengestimasi bahwa pembangkit listrik geothermal berpotensi berkontribusi sebanyak 9,6% terhadap sumber energi listrik Indonesia pada 2030. Jika hal tersebut terwujud, dibutuhkan rata-rata pertumbuhan tahunan pembangkit listrik geothermal sebanyak 10% atau setara dengan 3,4 GW pembangkit hingga tahun 2030. (Zsazya Senorita/Parluhutan Situmorang)
Baca Juga

