Hery Gunardi: Ada Ruang Ekspansi di Tahun 2026, Pengusaha Besar Masih “Wait and See”
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id— Ruang ekspansi usaha pada 2026 cukup besar, namun para pengusaha besar umumnya masih “wait and see”. Hal itu terlihat dari kenaikan undisbursed loan—kredit yang sudah disetujui namun belum ditarik debitur—yang meningkat rata-rata 10,22%. Likuiditas tersedia dan fasilitas kredit telah disetujui, tetapi realisasi penarikan tertahan karena pelaku usaha masih menahan ekspansi.
“Kondisi ini mencerminkan sikap wait and see. Tantangan perbankan saat ini bukan pada sisi supply, melainkan demand dan itu terkait confidence,” ungkap CEO BRI Group Hery Gunardi pada acara buka puasa bersama para pemimpin redaksi media massa di BRILian Club, Jakarta, Rabu (26/02/2026). Direktur Utama PT BRI Tbk itu juga membeberkan kinerja BRI Group dengan topik “Mendorong Optimisme Pertumbuhan di Tengah Dinamika Ekonomi”.
Industri perbankan nasional saat ini, lanjut Hery, berada dalam kondisi solid dengan likuiditas yang sangat memadai. Tantangan utama bukan terletak pada ketersediaan dana, melainkan pada sisi permintaan, kepercayaan pelaku usaha, dan prospek ekonomi yang masih membuat sebagian besar dunia usaha bersikap wait and see.
Industri perbankan berada pada posisi yang cukup baik. Likuiditas BRI cukup kuat. Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) pada 2025 masih double digit, yakni 13,83%. Sementara kredit pada tahun yang sama tumbuh 9,6%. “Jadi, kondisi ini menunjukkan ruang ekspansi masih tersedia tanpa menimbulkan tekanan likuiditas berlebihan,” ujar Hery.
Hery menjelaskan, selama 2025 laju pertumbuhan kredit mencapai 9,6%, sedikit lebih rendah dari 2024 yang tumbuh 10,4%. Pada 2022, kredit BRI melesat 11,4%. Mengutip survei Bank Indonesia (BI), perlambatan kredit lebih dipengaruhi faktor demand. “Yang kurang itu bukan likuiditas, tapi demand side. Tantangan bukan pada supply, melainkan kepercayaan dan prospek usaha,” katanya.
Data BI menunjukkan permintaan kredit baru menurun di sebagian besar sektor. Kredit konsumsi turun signifikan dari 62,9% menjadi 13,4%. Permintaan kredit UMKM juga turun dari 78,4% menjadi 58,8%.
Pertumbuhan ekonomi 2026 diperkirakan lebih baik dari 2025. Berbagai pihak memperkirakan ekonomi tumbuh 5,2–5,3%. BRI memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2026 di kisaran 4,99–5,2%, dengan pertumbuhan kredit sekitar 8,7–11,5%. “Pertumbuhan kredit BRI tahun ini masih single digit,” kata Hery.
Pada 2025, laba bersih BRI Group mencapai Rp 57,13 triliun, turun tipis 5% dari 2024. Laba bersih per saham (EPS) 2025 sebesar Rp 376, turun 5,5%. Sementara secara bank only, laba bersih PT BRI Tbk Rp 50,4 triliun dengan laba bersih per saham Rp335.
Tekanan pada UMKM
Hery juga menyoroti dua tren yang bergerak berlawanan. Pertumbuhan kredit UMKM terus melambat sepanjang 2024–2025. Sementara rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) mulai meningkat sejak Desember 2024 dan bertahan di level lebih tinggi. NPL tertinggi terjadi pada 2021, yakni 3%. Pada 2022 dan 2023, NPL masing-masing 2,4%.
Kombinasi perlambatan pertumbuhan dan kenaikan risiko kredit ini, menurut Hery, menuntut pendekatan yang lebih selektif dan berbasis mitigasi risiko.
“Ekspansi UMKM tetap penting, tapi harus berbasis ekosistem, cashflow feasibility yang kuat, dan early warning system yang lebih tajam. Risk management harus diperkuat,” ujarnya.
Perlambatan Tiga Sektor Utama
Perlambatan kredit BRI, lanjut Hery, berkorelasi erat dengan melemahnya tiga sektor utama penyumbang PDB: manufaktur, pertanian, dan perdagangan.
Sektor manufaktur menyumbang sekitar 20% terhadap PDB dan sangat memengaruhi kebutuhan modal kerja serta investasi. Perdagangan sangat sensitif terhadap daya beli. Ketika konsumsi melemah, stok tertahan dan kebutuhan kredit turun.
Sementara pertanian, yang banyak terkait KUR dan UMKM, memiliki serapan modal kerja besar. “Ketika sektor padat karya ini melambat, permintaan kredit langsung terasa. Sensitivitas kredit terhadap siklus ekonomi kita masih tinggi,” jelasnya.
Laju pertumbuhan ekonomi 2025 berada di kisaran 5,1–5,2%. Namun akselerasinya lebih banyak ditopang kelas atas. Indeks daya beli menunjukkan kelompok bawah dan menengah masih berada di bawah level pra-pandemi 2019, meskipun ada perbaikan dibanding 2024. Sebaliknya, kelas atas telah kembali ke area positif.
Hal ini menjelaskan mengapa kredit korporasi dan segmen premium relatif tetap tumbuh, sementara kredit mikro dan konsumsi belum sepenuhnya akseleratif. Pertumbuhan tabungan juga masih tertekan di segmen bawah.
“Tantangan bukan hanya supply, tapi distribusi dan kualitas pemulihan,” katanya.
Sinyal Pemulihan
Dari sisi makro, inflasi domestik relatif terjaga dan tren suku bunga menurun. Kombinasi ini seharusnya menciptakan ruang ekspansi yang kondusif. Namun efektivitasnya tetap bergantung pada kualitas permintaan kredit dan transmisi ke sektor riil.
Indikator sektoral menunjukkan sinyal pemulihan: PMI manufaktur kembali di atas 50, retail sales tumbuh, dan consumer confidence index berada di atas 100. Meski demikian, pemulihan belum merata. Penjualan motor dan mobil masih fluktuatif, dan konsumsi kelas menengah bawah belum sepenuhnya pulih.
“Fondasi pemulihan ada, tapi momentumnya masih selektif,” ujarnya.
Hery menilai program prioritas pemerintah—ketahanan pangan, makan bergizi gratis, pemeriksaan kesehatan gratis, tiga juta rumah, Koperasi Merah Putih, serta ketahanan energi—berpotensi menambah sekitar 0,35% terhadap pertumbuhan ekonomi 2026.
Dengan kebijakan fiskal dan moneter yang selaras, ruang ekspansi terbuka. Tantangannya adalah eksekusi dan transmisi. Ia juga menyoroti pentingnya belanja pemerintah pusat dan daerah sebagai penopang pertumbuhan. Jika dana transfer ditingkatkan dan dimanfaatkan dengan benar, ekonomi akan bergerak lebih cepat.
Transformasi BRI Group
Kinerja BRI Group, kata Hery, cukup solid dengan laba bersih sekitar Rp57 triliun. Ia menekankan pentingnya good governance dan risk management yang kuat sebagai fondasi pertumbuhan berkelanjutan. Cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) dijaga pada level memadai.
“Bank tidak boleh jor-joran tanpa memikirkan kualitas. CKPN itu penting. Governance dan risk management harus akurat,” ujarnya.
BRI tengah menjalankan transformasi bertajuk rebuilding revolution, yang menurut Hery lebih tepat disebut sebagai evolusi berkelanjutan. Salah satu fokusnya adalah memperkuat struktur pendanaan murah (CASA). Rasio CASA meningkat dari 64% pada awal 2024 menjadi 71% di akhir tahun. Ke depan, targetnya 75–80%.
BRI memperkuat kapabilitas digital melalui super apps dan ekosistem digital banking. BRI memiliki lebih dari 340.000 agen BRILink, 95 juta user, 1,5 juta merchant, serta berbagai platform digital lainnya.
Aplikasi BRImo mencatat all-time high dengan transaksi harian mencapai Rp 32 triliun, naik dari Rp 14 triliun sebelumnya.
“Digital banking harus menjadi killer application untuk menghimpun dana murah dan memperkuat engagement,” ujarnya.
Selama ini BRI dikenal kuat di segmen UMKM. Namun Hery menilai bergantung pada satu engine meningkatkan strategic risk. Karena itu, BRI membangun engine baru melalui consumer banking dan transaction banking.
BRI juga memperkuat sinergi dengan Pegadaian dalam bisnis emas dan potensi bullion bank, serta memperluas positioning agar kuat di rural dan urban sekaligus.
“Kalau bisa kuat di darat, di laut, dan di udara—artinya rural, urban, dan digital—potensi tumbuhnya akan jauh lebih besar,” katanya.
Hery menutup dengan apresiasi terhadap media. Menurutnya, dukungan pers dan jurnalis yang meliput sektor keuangan menjadi bagian penting dalam membangun kredibilitas dan soliditas perbankan.
“Tanpa dukungan media, kami tidak ada apa-apanya. Silaturahmi ini harus rutin setiap tahun,” ujarnya.
Dengan fondasi likuiditas yang kuat, transformasi digital yang agresif, serta penguatan tata kelola dan manajemen risiko, Hery optimistis BRI Group dapat menjaga pertumbuhan berkelanjutan pada 2026–2027, meski dinamika ekonomi global dan domestik masih penuh tantangan.

