BI Sebut Pertumbuhan Kredit Tak Setinggi Tahun Lalu, Pengusaha 'Wait and See'
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) menyebut pertumbuhan kredit masih melambat pada November 2025. Hingga November 2025, kredit tumbuh di bawah double digit, atau masih bertumbuh di angka 7,9% secara tahunan atau Rp 8.196,4 triliun, kendati masih mencatatkan kenaikan dibandingkan Oktober 2025 yang sebesar 7% secara tahunan atau Rp 8.107,7 triliun.
Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Solikin M Juhro mengakui penyaluran kredit perbankan tahun ini memang tak sekuat tahun lalu.
“Kalau kita bicara kredit, ekonominya memang masih perlu dorongan lagi. Sehingga mungkin nanti kita lihat faktor-faktor dari sisi demand dan supply,” kata Solikin saat taklimat media di kantor pusat BI, Jakarta, Senin (22/12/2205).
Penyaluran kredit oleh perbankan pada tahun lalu, November 2024 mencapai Rp7.593,1 triliun atau tumbuh 9,5% secara tahunan. Bahkan pada Oktober 2024, penyaluran kredit oleh perbankan sempat menyentuh 10,4% secara tahunan.
“Mudah-mudahan, insyaallah di Desember akhir tahun bisa di atas 8% sebagaimana target BI,” kata dia.
Menurut Solikin, dari sisi demand, pelaku usaha cenderung menggunakan dana cadangan lain. Ini dilakukan untuk menghindari penarikan kredit baru dengan suku bunga yang masih tinggi.
Baca Juga
BI Catat 'Undisbursed Loan' Alami Kenaikan pada November 2025
Ini terlihat dari undisbursed loan pada November 2025 yang masih berada di kisaran Rp 2.509,4 triliun atau 23,18% dari plafon kredit yang tersedia.
Untuk mengatasi ini, BI telah mengambil langkah dengan pemberian insentif Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) berupa imbalan pembiayaan penurunan suku bunga perbankan atau interest rate channel. BI memberikan interest rate channel sebesar 1% bagi perbankan yang mampu menurunkan suku bunga perbakan lebih cepat.
Terdapat tiga formula untuk pemberian insentif ini. Perbankan yang menurunkan suku bunga sebesar 0,3% hingga 0,6% mendapat insentif 0,9% dan penurunan suku bunga lebih dari 0,6% diganjar imbalan insentif 1%.
Selain itu, Solikin mengatakan selain masalah suku bunga kredit perbankan yang tinggi, terdapat juga masalah lain yang muncul yaitu special rate. Dengan adanya special rate ini, otomatis cost of loanable fund atau biaya penghimpunan dana menjadi lebih tinggi.
“Ini menjadi praktik yang memang delicate atau mungkin sifatnya struktural. Karena banyak perusahaan-perusahaan yang meminta seperti itu [special rate]” ujar dia.
Ke depan, BI akan mendorong percepatan intermediasi melalui program Percepatan Intermediasi Indonesia atau Pinisi. Program ini untuk mendorong penyaluran kredit ke sektor-sektor yang mampu menginjeksi kegiatan ekonomi dan meningkatkan kepercayaan investor.
Baca Juga
BI Catat Penyaluran Kredit Perbankan Tumbuh 7,9% pada November 2025
“Kebijakan-kebijakan yang akan kita lakukan ke depan ini, selain kita menggunakan regular instrument, instrument makroprudensial. Kita juga melakukan koordinasi, komunikasi dan koordinasi yang diperkuat untuk mendorong respons sisi demand, respons sektor riil,” kata dia.
Menurutnya, koordinasi tidak hanya dilakukan internal BI, tetapi juga dengan pemerintah dan bahkan dalam forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Tujuannya untuk menyamakan persepsi mengenai sektor-sektor prioritas yang dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi.
“Yang utama di luar itu adalah membangun persepsi confidence ekonomi,” ujarnya.
BI menargetkan pertumbuhan kredit dalam rentang sebesar 8-12% pada 2026. Langkah ini ditempuh dengan melonggarkan kebijakan makroprudensial untuk 2026. Angka ini lebih tinggi dari proyeksi pertumbuhan kredit 2025 sebesar 8%-11%.
Perry mengatakan akan menaikkan insentif likuiditas makroprudensial untuk mendorong kredit ke sektor-sektor prioritas pemerintah.
“Jumlah insentif kami naikkan menjadi Rp 423 triliun mulai Desember ini,” kata Perry, saat Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) di Jakarta, Jumat (28/11/2025).
