Sukses Itu Bukan soal Uang
Poin Penting
|
INVESTORTRUST.ID - Banyak orang mengidentikkan kesuksesan dengan pencapaian-pencapaian yang bersifat materiel, seperti meraih posisi puncak di perusahaan, menempati level bergengsi di pemerintahan, punya status sosial yang mentereng, bergelimang uang, atau berlimpah kekayaan.
Padahal, kesuksesan tak melulu berhubungan dengan uang dan jabatan. Kesuksesan sejati berasal dari hal-hal yang bersifat imateriel. Kesuksesan imateriel justru lebih menenangkan, membebaskan, dan membahagiakan.
“Sukses itu bukan soal uang. We are in the business of making partners. Kalau saya bisa melihat partner saya hidupnya nyaman dan keluarganya baik, itu sukses. Kalau melihat anak buah saya sukses, saya juga merasa sukses,” kata Chief Executive Officer (CEO) BDO Indonesia, Thano Tanubrata kepada jurnalis investortrust.id, Rizki Putra Satria, Dicki Antariksa, dan Abdul Aziz di Jakarta, baru-baru ini.
Thano Tanubrata adalah generasi kedua pemilik BDO Indonesia, perusahaan penyedia layanan audit, pajak dan hukum, serta konsultasi komprehensif. Produk jasa BDO Indonesia meliputi audit dan penjaminan, konsultasi, pajak, layanan bisnis dan alih daya, TI dan keamanan siber, penilaian, konsultasi transaksi, SDM dan pelatihan, serta layanan hukum.
Sejak 1992, BDO Indonesia menjadi anggota BDO International yang berkantor pusat di Belgia. BDO International sendiri merupakan jaringan layanan profesional terbesar kelima di dunia dan bagian dari komunitas global yang mencakup 166 negara dan wilayah, dengan lebih dari 119 ribu profesional di 1.800 kantor.
Sebagai generasi kedua pemegang estafet perusahaan, tugas Thano Tanubrata tidak mudah. Ia harus lepas dari bayang-bayang ayahnya, Richard B Tanubrata, pendiri BDO Indonesia yang dikenal sebagai salah satu maestro akuntan di Tanah Air.
Thano bukan tipe eksekutif yang menerima begitu saja tongkat estafet kepemilikan BDO Indonesia dari sang ayah. Ia juga berjuang dan mengalami jatuh bangun demi mempertahankan dan mengembangkan BDO Indonesia.
Itu sebabnya, Thano tidak percaya terhadap pencapaian instan. Sebaliknya, ia sangat menghargai pengalaman, perjuangan, ketahanan, dan kerja keras. “Jangan cepat menyerah. Dengarkan older generation. Pengalaman tidak bisa dibeli,” tegas dia.
Thano Tanubrata tergolong tipe pemimpin yang mau mendengarkan dan memberi kesempatan kepada anak buahnya untuk tumbuh dan meraih kesuksesan, bukan malah membelenggu mereka.
“Saya harus memberikan kesempatan untuk grow, membuat firma seprofesional mungkin, memberi kesempatan semua orang untuk naik. Kalau environment-nya baik, orang juga akan betah,” ujar eksekutif berpembawaan kalem tersebut.
Perlakuan Thano terhadap karyawan, mitra, dan orang-orang di sekitarnya tak lepas dari filosofi yang dianutnya. “Filosofi hidup saya adalah Don’t do to others what you don’t want them to do to you (jangan memperlakukan orang lain dengan cara yang Anda sendiri tidak ingin diperlakukan). Intinya, jangan semena-mena kepada orang lain,” papar dia.
Dalam urusan kerja keras, Thano menganalogikan kehidupan ini dengan bermain golf, olahraga yang digemarinya. “Golf itu perlombaan dengan diri sendiri. Tidak pernah perfect. Kalau lagi bagus tidak boleh jemawa, kalau lagi jelek tidak boleh menyerah. Seperti hidup, harus kelarin 18 hole,” tandas dia. Berikut penuturan lengkapnya:
Bisa cerita perjalanan karier Anda?
Saya itu sebetulnya kombinasi antara generation 2 (generasi kedua pewaris perusahaan: G2) dan profesional. Jadi, mungkin banyak yang relate juga dengan pengusaha-pengusaha di Indonesia, banyaknya kan G2.
Dulu sebelum pindah ke Australia, saya di sini lebih banyak di Kanisius. Dengan beberapa keluarga ayah saya juga. Mungkin dulu orang tua saya melihat network-nya akan jadi bagus kalau ada di sana.
Setelah lulus dari Kanisius, saya pindah ke Australia dari high school dan masuk ke Monash University untuk kuliahnya. Saya ambil kuliah accounting, tapi setelah itu saya ambil IT (information technology). Itu sebelum tahun 2000. IT saat itu belum semaju sekarang. Tapi saya melihat ke depannya, IT pasti akan berkembang.
Waktu itu kebetulan sedang ada skandal Enron Corporation. Jadi, itu saat-saat yang menarik. Menarik untuk industri, tapi kurang menarik untuk pekerjaan.
(Skandal Enron adalah salah satu skandal korporasi terbesar dalam sejarah Amerika Serikat, bahkan dunia, yang merebak pada 2001, ketika perusahaan energi raksasa itu bangkrut akibat manipulasi laporan keuangan dan praktik akuntansi curang. Harga saham Enron yang sempat melesat di atas US$ 90, seketika anjlok menjadi nyaris nol. Pada 2 Desember 2001, perusahaan hasil merger Houston Natural Gas dan InterNorth itu mengajukan kebangkrutan).
Nah, jadi lepas dari sana saya masuk di BDO di Melbourne. Tapi tidak lama di BDO Melbourne, saya pindah ke Deloitte, di Melbourne juga. Saya lumayan lama di Deloitte, sampai posisi Senior Manager sebelum dipanggil pulang ke Indonesia karena kebetulan ayah saya (Richard B. Tanubrata, founder BDO Indonesia) sedang sakit di sini. Saya pun masuk BDO Indonesia.
Pulang ke Jakarta karena panggilan hati atau karena terpaksa harus meneruskan estafet perusahaan yang didirikan orang tua?
Saya nggak tahu, mungkin DNA-nya accounting kali ya? Jadi, tanpa harus dipaksa pun arahnya menggiring ke sana. Tapi memang dalam hati saya, biasanya di accounting firm itu ada dua jalur. Satu jalur atestasi seperti audit, lalu satu lagi jalur consulting atau advisory.
Satu memberikan masukan dari hasil audit, yang satu lagi lebih ke bagaimana memberikan masukan sebagai advisor untuk mengembangkan bisnis klien. Saya lebih cenderung ke arah sana.
Pekerjaan saya di Australia juga sebetulnya mirip. Saya kembali ke Indonesia untuk ditugaskan membangun advisory firm yang ada sekarang ini, meskipun kami sudah menjadi anggota BDO sejak 1992. Jadi, sudah cukup lama. Kantor juga sudah berdiri sejak saya berumur dua minggu. Kebetulan pas ya, saya berusia dua minggu, kantor didirikan.
(BDO Indonesia didirikan Richard B. Tanubrata pada 6 Desember 1979 dengan nama Kantor Akuntan Publik/KAP Tanubrata, Sutanto, Fahmi, Bambang dan Rekan. KAP ini bergabung dengan BDO pada 1992, hingga namanya berganti menjadi BDO Indonesia. BDO sendiri merupakan perusahaan global yang bermarkas di Belgia, didirikan pada 1963).
Memang fokusnya banyak di audit. Tapi saya melihat peluang berdasarkan pengalaman saya di Australia. Menurut saya, advisory IT akan menjadi peluang yang baik. Jadi, saya setup dan saya kembangkan sampai saat ini.
Value yang Anda bangun untuk BDO Indonesia?
Saya kembali ke Indonesia saat berusia 30. Awalnya tidak ada rencana kembali. Saya buka lini service advisory saat berumur 32 tahun. Saya percaya perusahaan harus berubah dari perusahaan keluarga menjadi perusahaan profesional. Nilai yang saya pegang yaitu bisnis untuk keluarga, bukan keluarga untuk bisnis.
Skandal Enron telah mengubah tatanan industri akuntansi dunia menjadi lebih good governance. Bagaimana Anda melihatnya?
Di industri accounting, sebelum muncul skandal Enron, accounting firm lebih bebas untuk bergerak, melakukan audit dan service-service lain. Tapi setelah itu memang sangat dipisahkan antara audit dan advisory, ada independensi.
Enron itu kan bermasalah karena audit firm-nya tidak independen. Dia mengaudit, dia juga memberikan advisory. Dulu tidak terlalu dibedakan. Tapi setelah skandal Enron muncul, independensi menjadi penting dan jalur itu lebih kelihatan. Saya memilih jalur advisory daripada jalur accounting. Sampai sekarang.
Memang kalau saya pikir-pikir lagi, dulu accounting firm itu kenalnya accounting, tax, dan business services. Sekarang accounting firm sudah menjalar ke mana-mana.
Itu yang ditangani BDO Indonesia, terintegrasi. Dari mulai orang berpikir mau berbisnis apa, membuat planning, mendirikan perusahaan, auditing, human resources (HR)-nya menjadi human capital, training, perpajakannya, IT system-nya, bahkan branding and marketing, legal, dan lainnya, itu sudah menjadi bagian dari layanan kami.
Jadi, servis kami wide-ranging (mencakup banyak hal dan sangat beragam). Dari awalnya hanya audit, business services, dan pajak, sekarang sangat luas.
Anda melihat lanskap industri akuntansi di Indonesia seperti apa?
Kalau melihat lanskap accounting industry di Indonesia, kemarin tingkat persepsi korupsi Indonesia turun 10 tingkat. Itu menunjukkan governance kita belum sebaik negara lain. Tapi saya mungkin hanya bisa berbicara based on experience. Ketika dealing dengan pemerintahan, saya malah melihat sebaliknya. Apalagi dengan Kementerian Keuangan dan BUMN, itu sudah jauh lebih baik dibandingkan cerita-cerita sebelumnya.
Target market audit kami dari second tier, bukan top end of town yang biasanya memang dikuasai big four (empat perusahaan akuntansi global terbesar).
Karena peraturan independensi, opportunity kami untuk klien top end of town, big banks, perusahaan-perusahaan terbuka (Tbk) besar di bidang advisory justru menjadi terbuka. Sedangkan big four sering terkendala karena sudah menjadi auditor mereka dan tidak bisa memberikan advisory. Ada keharusan independensi kan?
Apa uniqueness yang membedakan BDO Indonesia dengan para kompetitor?
Uniqueness BDO mungkin bukan tidak dimiliki kompetitor, tapi fokusnya. Kami lebih partner-driven. Artinya dalam berinteraksi dengan klien, partner level lebih banyak involved dibandingkan firma yang lebih besar.
Partner lokal di Indonesia juga banyak. Kami sering involved di global events, bekerja sama dengan region dan global. Cara pikir kami global, tapi local distinctiveness masih sangat kental. Global thinking, local distinctiveness strong.
Komposisi layanan BDO Indonesia?
Lini services utama kami ada tiga, yaitu audit, pajak, dan advisory, meliputi audit dan penjaminan, konsultasi, pajak, layanan bisnis dan alih daya, TI dan keamanan siber, penilaian, konsultasi transaksi, SDM dan pelatihan, serta layanan hukum.
Prospek dan tantangan industri akuntasi ke depan?
Dibanding pengalaman saya di Australia, apresiasi terhadap profesional di luar negeri lebih tinggi. Willingness untuk membayar juga lebih baik. Tapi di Indonesia pun sekarang semakin baik, kok.
Dulu, tren global baru sampai ke Indonesia dua tahun kemudian. Sekarang dalam hitungan bulan sudah relevan. Dengan kemajuan teknologi, kita harus kompetitif. Kami ingin memberikan pandangan global agar perusahaan Indonesia bisa adapt lebih cepat.
Kunci Anda bertahan di industri ini?
Kita ini a people business. Tidak punya mesin, tidak punya pabrik. Pabriknya manusia. Key-nya how we treat our partners, staff members, support system. Bagaimana supaya mereka bisa bekerja sama dan bertahan. Karena di industri kami, staf sangat mudah berpindah ke kompetitor.
Kami harus memberikan kesempatan untuk grow, membuat firma seprofesional mungkin, memberi kesempatan semua orang untuk naik. Kalau environment-nya baik, orang juga akan betah.
Bagaimana dengan isu disrupsi teknologi, benarkah industri akuntansi termasuk yang akan tergantikan oleh artificial intelligence (AI)?
Tentu kami harus adapt teknologi. Kalau tidak adapt, kami akan kalah. Audit untuk saat ini belum tergantikan teknologi. Tapi advisory harus terus update. Kami sudah masuk ke cyber security, AI security, dan sustainability.
Apa definisi sukses menurut Anda?
Sukses itu bukan soal uang. We are in the business of making partners. Kalau saya bisa melihat partner saya sukses, yaitu hidupnya nyaman dan keluarga baik, itu sukses. Kalau melihat anak buah saya sukses, saya juga merasa sukses
Anda pernah ‘jatuh’?
Waktu pandemi Covid-19, level uncertainty sangat tinggi. Dengan 700–800 orang yang harus digaji tanpa kejelasan bisnis berjalan atau tidak, level stres sangat tinggi. Sempat berpikir lebih baik saya tidak digaji daripada karyawan tidak digaji. Untungnya teknologi sudah baik. Kami adjust cepat dengan panduan global. Saya percaya Tuhan menjaga kebutuhan kami.
Filosofi hidup Anda?
Filosofi hidup saya adalah Don’t do to others what you don’t want them to do to you (jangan memperlakukan orang lain dengan cara yang Anda sendiri tidak ingin diperlakukan). Itu saya ajarkan juga ke anak-anak saya.
Gaya kepemimpinan Anda?
Leadership saya demokrasi terpimpin. Mendengarkan dari bawah. We need experts, we need other people’s input.
Punya mimpi untuk go public?
Accounting firm bentuknya persekutuan, jadi tidak bisa go public seperti perusahaan biasa. Tapi advisory firm bisa saja. Kita lihat saja nanti.
Cara Anda menjaga work-life balance?
Di perusahaan, beberapa tim menerapkan WFA (work from anywhere) secara terjadwal, misalnya tiga hari di kantor, dua hari dirumah. Dengan traffic Jakarta seperti ini, WFA perlu diberlakukan. Dalam kehidupan pribadi pun sama.
Saya pribadi tetap bekerja baik di Jakarta maupun di Australia. Tapi saya tidak suka melihat staf bekerja sampai malam terus. Berarti ada yang salah di manajemen waktu atau sistem kerja. Balance tidak bisa hitam-putih. Harus adapt dengan kebutuhan generasi sekarang.
Kegiatan Anda di waktu weekend?
Sekarang hobi golf.
Kenapa golf?
Golf itu perlombaan dengan diri sendiri. Tidak pernah perfect. Kalau lagi bagus tidak boleh jemawa, kalau lagi jelek tidak boleh menyerah. Seperti hidup. Harus kelarin 18 hole.
Pesan Anda untuk Gen Z?
Jangan cepat menyerah. Dengarkan older generation. Pengalaman tidak bisa dibeli. Gen Z harus menguasai teknologi dan AI. Kompetisi bukan hanya dengan manusia, tapi dengan mesin. ***
BIODATA
Nama: Thano Tanubrata.
Pendidikan:
* Business Accounting - Monash University, Australia (1998-2001).
Karier:
* CEO BDO Indonesia (Januari 2018 – sekarang).
* Deputy CEO BDO Indonesia (Maret 2011 - Desember 2017).
* Managing Director BDO Indonesia (2012 - Oktober 2017).
* President of Advisory Committee CPA Australia (Indonesia Chapter): Desember 2014 - November 2016.
* Risk Services - Technology Assurance Deloitte Australia (Februari 2003 - Februari 2011).
