Menggiring Rupiah ke Jalur Fundamentalnya
JAKARTA, investortrust.id – Manuver pemain valas yang menggiring pergerakan nilai tukar rupiah semakin membuat dagdigdug masyarakat, pemerintah, dan otoritas moneter. Rupiah yang sudah dua bulan ini berusaha menjajal level Rp 16.000 per dolar AS terus dikawal Bank Indonesia. Kemana arah pergerakan rupiah dan berapa nilai fundamental atau kurs rupiah yang wajar (reasonable)?
Rupiah kian tertekan akibat situasi eskalasi konflik perang di Timur Tengah, menyusul serangan Iran ke Israel, 14 April lalu. Di pasar Non-Deliverable Forward (NDF), rupiah sudah tembus level psikologis Rp 16.000 per dolar AS.
Penguatan dolar AS terhadap hampir seluruh mata uang kuat dunia kian didukung berbagai rilis terbaru data ekonomi AS, terutama tingginya inflasi, yang kian menyulitkan opsi kebijakan penurunan suku bunga oleh Bank Sentral AS (The Fed). Inflasi AS pada Maret tercatat 3,5%yoy dari bulan sebelumnya 3,2% dan lebih tinggi dari perkiraan 3,4%. Adapun tingkat pengangguran AS Maret 2024 turun menjadi 3,8% dari bulan sebelumnya 3,9%.
Ketegangan baru Timur Tengah dan rilis data ekonomi AS itulah yang menurut Chief Economist PT Bank Permata Tbk Josua Pardede, mendorong penguatan indeks dolar AS, yakni indeks yang mengukur nilai tukar dollar AS terhadap mata uang utama dunia. Dalam sepekan ini saja, indeks dolar AS menguat hingga 1,7% ke level 106,04, level tertinggi sejak November 2023 yang lalu.
"Karena pasar keuangan domestik libur, maka nilai tukar yang mengalami pergerakan hanya Non-Deliverable Forward (NDF)," kata Josua kepada Investortrust.id, Senin (15/4/2024).
NDF satu bulan saat ini sekitar Rp 16.148 per dolar AS. Joshua menyebut, NDF nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak mencerminkan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS di pasar spot. Berdasarkan harga spot terakhir Jisdor (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate), per 5 April 2024, rupiah berada di level Rp 15.873 per dolar AS.
Josua sebelumnya menyebut bahwa sikap berbeda arah (divergen) suku bunga berbagai bank sentral negara maju menjadi pemicu pelemahan rupiah. Sebagai contoh, The Fed belum jelas kapan mengakhiri kebijakan highe for longer. Bank sentral Eropa (ECB) dan Bank of England telah mengisyaratkan pelonggaran moneter. Sedangkan Bank Sentral Jepang (BoJ) justru menaikkan suku bunga setelah keluar dari rezim suku bunga negatif.
Multi-Faktor
Pengamat pasar uang, Ariston Tjendra juga menuding Amerika lah binga keroknya. Imbal hasil (yield) obligasi AS, terutama tenor 10 tahun yang bertahan tinggi di kisaran 4,3% memicu dolar perkasa terhadap sejumlah mata uang kuat dunia, termasuk mata uang negara berkembang.
Selain faktor eksternal, sentimen domestik juga turut berpengaruh terhadap luruhnya rupiah terhadap dolar AS. Seperti disebut Ariston, kebijakan fiskal yang kini mendapat sorotan banyak kalangan. Yang paling dipersoalkan adalah
kenaikan PPN menjadi 12% yang berlaku mulai 2025 serta keberlanjutan fiskal karena defisit melebar.
Pelebaran defisit antara lain dipicu sejumlah program yang dijanjikan presiden baru, yang akan menyedot belanja negara dalam jumlah besar.
Adapun ekonom PT Bank Mandiri Tbk, Reny Eka Putri berpendapat, kekhawatiran investor terhadap defisit neraca transaksi berjalan yang menjadi 1,5% dari PDB turut memperburuk kurs rupiah. Faktor lain penyebabnya adalah keluarnya modal asing serta aksi ambil untung investor menjelang Lebaran 2024.
“Aksi ambil untung jelang hari raya Idulfitri dan keluarnya modal asing dari pasar dalam negeri juga menjadi penyebab pelemahan rupiah,” kata Reny.
Sementara itu, Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Firman Mochtar menilai, depresiasi rupiah dipengaruhi banyak faktor yang kompleks. Dolar AS saat ini memang sedang kuat-kuatnya terhadap seluruh mata uang global.
Ditambah lagi sikap kebijakan moneter ketat yang dianut negara-negara maju semakin menambah ketidakpastian. Bank Indonesia memprediksi FFR masih akan bertahan tinggi hingga semester I-2024.
Kemudian, pembengkakan defisit fiskal AS mendorong pemerintahan Joe Biden menambah emisi surat utang, yang pada akhirnya mendongkrak yield obligasi Pemerintah AS. Maka, dana-dana dari emerging market pun banyak yang cabut ke AS.
Adapun Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI) Edi Susianto menyatakan, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh pelemahan mata uang yuan China. Sentimen negatif terhadap rupiah juga dipicu tingginya data inflasi Indonesia pada Maret 2024 yang mencapai 0,52% (mtm) atau 3,05% (yoy). Inflasi pada komponen harga bergejolak (volatile food) melonjak ke level 2,61% (mtm) atau 10,33% (yoy). Angka-angka tersebut di atas prediksi pasar.
Sikap Otoritas
Depresiasi rupiah yang cukup mengkhawatirkan ini mendapat reaksi dari pemerintah dan otoritas moneter. Tapi, yang paling membesarkan hati adalah pernyataan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, yang menyebut bahwa secara fundamental, nilai tukar rupiah seharusnya menguat.
Dia optimistis kurs rupiah terhadap dolar akan menguat pada semester kedua, meski dia tidak menyebut kisaran angkanya.
Menurut Perry, fluktuasi nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama fundamental ekonomi. Saat ini, fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat. Salah satu indikatornya adalah surplus neraca perdagangan yang berlanjut hingga akhir 2023 atau terjadi surplus selama 44 bulan berturut-turut. Selama tahun 2023, surplus perdagangan tercatat sebesar US$36,93 miliar.
“Surplus perdagangan mengindikasikan pasokan valas di dalam negeri terjaga. Fundamental ekonomi kita kuat. Jadi, faktor-faktor fundamental itu mestinya rupiah menguat,” kata Perry dalam usai rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Selasa (30/1/2024).
Faktor kedua yang memengaruhi kurs rupiah adalah pemberitaan global, khususnya sikap The Fed. The Fed yang semua diperkirakan menurunkan bunga pada kuartal II-2024 kemungkinan besar ditunda setelah melihat berbagai indikator ekonomi, khususnya inflasi yang masih tinggi.
Faktor global lain yang ikut memengaruhi kurs rupiah adalah eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah dan Laut China Selatan, serta pembatasan kebijakan seputar short selling saham di China.
Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengakui pemerintah terus memantau perkembangan rupiah. Dia menyebut fluktuasi rupiah sebagai kondisi yang normal.
Airlangga mengatakan, akan terus memantau pergerakan rupiah secara harian. Antisipasi akan disiapkan jika melemahnya rupiah berlangsung lama. “Ya tentu kita lihat jangka yang lebih menengah lagi,” ujar dia. Rabu (3/4/2024).
Sementara itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani sebelumnya menjelaskan, pelemahan rupiah selama beberapa hari terakhir dipengaruhi oleh situasi global. Terutama suku bunga acuan AS yang diperkirakan akan terus merangkak naik, sehingga apresiasi nilai dolar AS terjadi secara global.
Menyikapi kondisi ini, pemerintah tengah mempersiapkan kebijakan yang akan menyasar nilai tukar rupiah, inflasi, maupun sektor riil. "Kita semua tahu fenomena global saat ini dengan AS yang menghadapi inflasi yang cukup tertahan tinggi dan kondisi ekonomi yang cukup kuat. Mereka kemudian mengeluarkan signal. Pasar membaca bahwa higher for longer itu akan terjadi. Inilah yang menyebabkan banyak modal terbang kembali ke AS," tegasnya.
Tak Perlu Panik
Josua menilai, pelemahan impor memang memukul importir, sehingga mereka sebaiknya memanfaatkan fasilitas lindung nilai Bank Indonesia. Sedangkan dampak terhadap masyarakat luas cenderung kecil karena pendapatan dan pengeluaran mereka dalam rupiah.
"Oleh sebab itu, masyarakat tidak perlu khawatir pelemahan rupiah akan memengaruhi daya beli masyarakat. Pelemahan kurs kali ini juga berbeda dengan krisis 1998 ketika rupiah merosot ke Rp 16.000-17.000 per USD karena krisis mata uang Asia,” kata Josua.
Apalagi, kata Josua, saat ini fundamental ekonomi Indonesia terbilang solid dan cukup kuat. Indikasinya, pertumbuhan ekonomi solid, inflasi terkendali, neraca perdagangan surplus, dan cadangan devisa kuat di posisi US$ 140,4 miliar.
Karena itu, Josua menekankan bahwa beberapa faktor yang ikut membahayakan rupiah harus diatas, antara lain ancaman pembengkakak defisit kembar, yakni defisit fiskal dan defisit transaksi berjalan.
Pengamat ekonomi yang sekaligus Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto juga meminta masyarakat tidak perlu panik atas pelemahan rupiah.
Eko melihat pelemahan rupiah erat kaitannya dengan penguatan indeks dolar global, antara lain karena ketidakpastian yang meningkat tentang waktu (timing) penurunan Fed Fund rate (FFR). "Hal itu seiring indikator-indikator kenaikan harga di Amerika Serikat yang akan mendorong naiknya inflasi," ucapnya.
Para ekonom dan pengamat itu sependapat bahwa kurs rupiah diprediksi menguat pada semester II-2024, sejalan dengan peluang The Fed menurunkan suku bunga. Saat itulah, capital inflow akan terjadi di pasar finansial Indonesia.
Secara fundamental, kurs mata uang akan ditentukan oleh supply dan demand. Itulah sebabnya, segala upaya untuk mendatangkan dolar harus ditempuh agar mengamankan pasokan. Di antaranya adalah merangsang repatriasi devisa hasil ekspor, memulihkan surplus perdagangan yang belakangan menyusut, mendorong masuknya investasi langsung (FDI), dan menarik wisatawan manca negara.
Pernyataan Gubernur Bank Indonesia bahwa posisi rupiah saat ini lebih lemah dari fundamentalnya membersitkan harapan bahwa ke depan, peluang apresiasi rupiah terbuka lebar. Kita percaya bahwa bank sentral tidaka akan membiarkan rupiah bermanuver secara liar. ***

