Penurunan Saham Astra (ASII) Parah! Bagaimana Fundamentalnya?
JAKARTA, investortrust.id – Penurunan harga saham PT Astra International Tbk (ASII) makin parah dalam beberapa hari terakhir. Angka penurunannya telah mencapai 9,3% dan menduduki peringkat kedua sebagai saham penyumbang kejatuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) sepanjang Januari 2024 berjalan.
Tak hanya menjadi saham dengan penyumbang kedua terbesar untuk penurunan IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI). Data juga menunjukkan bahwa saham ASII tercatat sebagai satu dari dari beberapa saham yang paling banyak dilepas investor asing bulan ini.
Berdasarkan data BEI, saham ASII telah melorot sebanyak 9,3% dari level penutupan akhir tahun lalu Rp 5.650 menjadi Rp 5.125 pada penutupan BEI kemarin. Bahkan, pagi ini saham ASII kembali melorot Rp 100 (1,95%) menjadi Rp 5.025.
Baca Juga
Insentif Mobil Listrik Bertambah, Tantangan Astra International (ASII) Bertambah
Harga penutupan saham ASII level Rp 5.125 tercatat yang paling rendah terhitung sejak 28 September 2021. Penurunan tersebut membuat kapitalisasi pasar ASII terjungkal menjadi sekitar Rp 203 triliun.
Sebelumnya, Analis Trimegah Sekuritas Willinoy Sitorus mengatakan menyoriti kian besarnya tantangan penjualan otomotif bagi Astra International (ASII) di tengah gencarnya perang harga penjualan kendaraan listrik di Indonesia. Apalagi setelah pemerintah menerbitkan peraturan BKPM no 6 tahun 20223.
Dia mengatakan, regulasi baru tersebut membebaskan impor mobil listrik CBU hingga nol persen diberikan kepada produsen yang berniat membangun pabrik di Indonesia. Aturan tersebut juga membebaskan tarif PPnBM untuk mobil listrik CKD dengan kandungan bahan baku local 20-40%.
Dampak kebijakan regulasi tersebut, terang Willinoy dan Richardson, terlihat dari penurunan harga jual mobil listrik CBU. Misalanya, harga jual mobil MG4 turun dari Rp 699 juta menjadi Rp 433 juta. Begitu juga dengan BYD mulai merilis produk mobil listrik terbarunya pekan lalu setelah mendapatkan insentif terkait rencana pembangunan pabrik di Indonesia.
Baca Juga
Valuasi Dinilai Murah, Saham ASII Bakal 'Rally' Menuju Rp 7.100
“Regulasi ini bertujuan untuk menyambut investasi mobil listrik di Indonesi, seperti BYD sebagai produsen mobil listrik terbesar di dunia,” terangngnya.
Trimegah Sekuritas menyebutkan kini BYD menjadi pusat perhatian mobil listrik di Indonesia setelah memreka berhasil mencatatkan penjualan mengesankan di Thailand. Di negara tersebut, BYD berhasil menjual BYD Atto 3 dan BYD Dolphin mencapai 1,1 ribu dan 2,8 ribu pada November 2023.
Berbagai kondisi tersubut berpotensi membuat pasar otomotif Astra International menghadapi tantangan berat ke depan. Meski demikian Trimegah Sekuritas tetap mempertahankan rekomendsi beli saham ASII dengan target harga Rp 7.000 per saham.
Baca Juga
Persaingan Ritel Makin Ketat, Begini Target Terbaru Saham Alfamart (AMRT)
Target tersebut mempertimbangkan harga saham ASII saat ini sudah berada di bawah rata-rata dalam beberapa tahun terakhri.
Target tersebut juga mempertimbangkan pergerakan harga saham ASII dalam beberapa pekan terakhir dan aksi jual asing terhadap saham ini. Target tersebut juga mempertimbangkan proyeksi kenaikan laba bersih perseroan dari estimasi 2023 Rp 32,89 triliun menjadi Rp 32,91 triliun pada 2024.

