BFI Finance, Perusahaan Multifinance NDF Terbesar dengan ROE Tertinggi
JAKARTA, investortrust.id – PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) menyimpan prospek pertumbuhan yang menggembirakan dalam jangka panjang. Hal ini didukung masih besarnya potensi pasar pembiayaan kendaraan bekas di Indonesia. Posisi BFI Finance sebagai perusahaan pembiayaan di luar dealer resmi (non-dealer financing/NDF) terbesar di Tanah Air merupakan kekuatan bagi perseroan untuk memperkuat pasar. Apalagi jaringan kantor pembiayaan perseroan tergolong paling besar di Indonesia.
Analis Sucor Sekuritas Yoga Ahmad Gifari mengatakan, BFI Finance merupakan perusahaan multifinance dengan pangsa pasar paling besar untuk pembiayaan kendaraan bermotor NDF. Hal ini terlihat pada total portofolio pembiyaannya yang mencapai Rp 14,2 triliun pada tahun 2022. Total tersebut lebih tinggi dari pembiayaan FIF, anggota grup Astra, yang mencapai Rp 12,4 triliun.
“Angka tersebut merefleksikan bahwa BFIN memiliki fundamental yang kuat pada segmen NDF. Dengan dukungan pendanaan yang besar ditambah jaringan distribusi yang luas, tentu hal itu akan memperkuat posisi perseroan sebagai pemimpin pasar pembiayaan NDF,” kata Yoga dalam riset yang diterbitkan, Selasa (10/10/2023).
Saat ini, BFIN mengoperasikan sebanyak 280 jaringan, baik cabang maupun kantor pembiayaan, di seluruh wilayah Indonesia. Total jaringan perseroan adalah yang terbesar kedua setelah PT Adira Dinamika Muti Finance Tbk (ADMF). Perseroan juga didukung lebih dari 12 ribu agen pembiayaan.
Selain pemimpin pasar dan jaringan paling luas, kata Yoga, perseroan berhasil pulih setelah sempat mengalami gangguan teknologi informasi pada Juni lalu. Gangguan tersebut sempat memicu perlambatan proses aplikasi pengajuan pembiayaan. Hal ini sempat berimbas terhadap peningkatan biaya yang harus dikeluarkan BFI Finance.
Sedangkan biaya kredit diperkirakan terkendali dengan baik dengan perkiraan mencapai 3% sepanjang tahun 2023. “Dengan data tersebut diharapkan laba bersih perseroan akan pulih kuat dalam beberapa kuartal mendatang,” tulisnya.
Sucor Sekuritas menyebutkan bahwa BFIN satu-satunya perusahaan multifinance dengan ROE tertinggi, dibandingkan dengan emiten sektornya. ROE perseroan mencapai 21,2% pada semester I-2023, dibandingkan rata-rata emiten sejenis mencapai 18%.
Keberhasilan BFIN dalam mempertahankan ROE paling tinggi didukung keberhasilannya dalam menjaga kualitas aset dengan rata-rata NPF (pembiayaan bermasalah) dalam lima tahun terakhir berada di bawah 1,2%, dibandingkan sektornya sebesar 1,7%.
Tingginya ROE BFI Finance juga didukung oleh besarnya sumbangan pembiayaan kendaraan di luar dealer resmi dengan kontribusi mencapai 68% dari total penyaluran perseroan. Apalagi, pembiayaan di luar dealer resmi menghasilkan margin keuntungan yang lebih besar.
Terkait prospek pembiayaan BFI Finance ke depan, dia mengatakan, Yoga optimistis bahwa segmen NDF akan terus bertumbuh dan potensial. Berdasarkan data, perseroan baru melayani pembiayaan pembelian sebanyak 600 ribu unit mobil dan motor bekas setiap tahun. Angka tersebut masih sangat rendah dibandingkan dengan total kendaraan yang terdaftar mencapai 142 juta unit di seluruh Indonesia.
“Data tersebut menggambarkan masih besarnya pasar pembiayaan kendaraan mobil bekas di Indonesia. Selain itu, pembiayaan NDF relatif lebih aman dengan uang muka yang lebih besar,” kata Yoga.
Berbagai faktor tersebut mendorong Sucor Sekuritas merekomendasikan beli saham BFIN dengan target harga Rp 1.700. Dengan target tersebut, terbuka potensi penguatan harga saham BFIN hingga mencapai 54,54% dengan mengacu harga penutupan saham BFIN di Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin level Rp 1.100.
Target harga tersebut juga merefleksikan perkiraan kenaikan laba bersih perseroan menjadi Rp 1,94 triliun tahun ini, dibandingkan realisasi tahun lalu Rp 1,80 triliun. Pendapatan bunga bersih perseroan juga diprediksi naik dari Rp 3,13 triliun menjadi Rp 3,81 triliun.
Penurunan Biaya
Sementara itu, Mandiri Sekuritas dalam riset terakhirnya menyebutkan bahwa BFIN menunjukkan outlook biaya kredit yang lebih baik pada paruh kedua tahun ini. Berdasarkan data, biaya kredit perseroan mencapai 4,1% pada semester I-2023 dan diharapkan kembali normal ke level 3% hingga akhir tahun.
Peningkatan biaya kredit pada semester I tahun ini dipengaruhi upaya BFI Finance untuk mempercepat kembali penagihan setelah terjadi gangguan sistem teknololi informasi perseroan beberapa waktu lalu. Namun kondisi tersebut diperkirakan telah berakhir, sehingga biaya kredit bisa diturunkan kondisi normal berkisar 3%.
Meski demikian Mandiri Sekuritas memprediksi biaya kredit BFI Finance tahun ini akan berada dalam kisaran 3,3% dan diharapkan meningkat menjadi 3,5% pada 2025. Biaya kredit yang lebih tinggi, dibandingkan perkiraan manajemen sekitar 3% dipicu atas tekanan harga jual kendaraan bekas di pasar sekunder saat ini.
Mandiri Sekuritas juga memberikan pandangan bahwa ROE perseroan tetap paling tinggi dalam jangka panjang dengan perkiraan pulih menjadi 24% pada 2024 dan diharapkan kembali meningkat menjadi 26% pada 2025. Sedangkan ROE tahun ini diproyeksikan turun menjadi 21%.
Berbagai faktor tersebut mendorong Mandiri Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BFIN dengan target harga Rp 1.500. Target harga tersebut mempertimbangkan ROE perseroan yang tinggi, dibandingkan perusahaan di sektornya. Target tersebut juga mempertimbangkan perkiraan PBV sekitar 2,3 kali.
Mandiri Sekuritas memperkirakan laba bersih perseroan mencapai Rp 1,79 triliun tahun ini atau turun tipis dari realisasi tahun 2022 sekitar Rp 1,80 triliun. Sedangkan PPOP diperkirakan meningkat dari Rp 2,60 triliun menjadi Rp 3,01 triliun. Perseroan juga diproyeksikan mencatatkan peningkatan pendapatan bunga bersih dari Rp 3,11 triliun menjadi Rp 3,74 triliun.
Prospek Saham BFIN
Sucor Sekuritas
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 1.700
Mandiri Sekuritas
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 1.500
Kinerja Keuangan
Sementara itu, pada semester I-2023, BFI Finance Indonesia menorehkan kinerja keuangan yang cukup impresif. Perseroan membukukan perolehan laba bersih sebesar Rp 848,4 miliar, meningkat 2,35% dibandingkan periode sama tahun lalu (year-on-year/yoy). Pada periode yang sama, pendapatan BFIN mencapai Rp 3,2 triliun atau melonjak 30,3% (yoy).
Menurut Direktur Keuangan BFI Finance Sudjono, tingginya pertumbuhan pendapatan BFIN didorong oleh peningkatan penyaluran pembiayaan dan sumber pendanaan yang lebih kompetitif. melalui keterangan resmi,
Untuk pembiayaan baru, kata Sudjono, tercatat sebesar Rp 10,3 triliun atau meningkat 20,8% (yoy). Pembiayaan baru ini dialokasikan untuk pembiayaan modal kerja sebanyak 61%, pembiayaan multiguna sebesar 22,6%, investasi sebanyak 14,5%, serta syariah 1,9%.
Sejalan dengan itu, total aset BFIN melesat 38,8% menjadi Rp 25,2 triliun serta piutang bersih tumbuh sebesar 31,8% dengan nilai Rp 21 triliun.
“Pada semester pertama, terlihat bahwa baik pertumbuhan aset, profitabilitas, maupun rasio keuangan lainnya tetap terjaga dengan baik,” kata Sudjono dalam keterangannya, Rabu (26/07/2023).
BFI Finance juga relatif dapat mengendalikan pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF) yang secara neto terjaga di level 0,79% serta NPF bruto 1,94%. Untuk indikator lain, seperti Return on Asset (RoA) tercatat sebesar 8,7% dan Return on Equity (RoE) 18,6%.
Lebih lanjut Sudjono menyebutkan bahwa total piutang pembiayaan BFI Finance mencapai Rp 22,4 triliun per semester I-2023. Itu meliputi pembiayaan kendaraan roda empat sebesar 56,5%, kendaraan roda empat bekas 9,0%, pembiayaan kendaraan roda dua sebesar 10,9%, pembiayaan sertifikat rumah/ruko sebesar 3,9%, serta pembiayaan berbasis syariah sebesar 3,3%.
Pendanaan BFI Finance bersumber dari pinjaman bank dan obligasi. Selama semester I-2023, perseroan telah menerbitkan tiga jenis obligasi rupiah senilai total Rp 3,8 triliun.
PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFI Finance) berdiri pada 1982 dengan nama PT Manufacturers Hanover Leasing Indonesia. Ini merupakan perusahaan kongsi antara Manufacturers Hanover Leasing Corporation dari Amerika Serikat dan pemegang saham lokal.
BFI Finance adalah perusahaan pembiayaan terlama di Indonesia sekaligus menjadi perusahaan pembiayaan pertama yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya (sekarang Bursa Efek Indonesia atau BEI). BFI Finance melakukan penawaran umum perdana (IPO) saham pada Mei 1990 dengan kode saham BFIN. Setelah menjalankan proses restrukturisasi utang akibat krisis keuangan 1998, BFI Finance secara resmi berganti nama menjadi PT BFI Finance Indonesia Tbk pada 2001.
Saat ini, 48,15% saham BFI Finance dimiliki oleh konsorsium Trinugraha Capital & Co SCA (yang antara lain terdiri atas Bravo Capital Holding yang dimiliki oleh Jerry Ng, Northstar Group, Garibaldi Thohir, dan investor pasif lainnya). Sisanya dimiliki oleh pemegang saham institusi lokal dan internasional serta pemegang saham publik. (Hari Gunarto)

