Dukungan Pemerintah yang Bikin Prospek Arwana (ARNA) Menggiurkan
JAKARTA, investortrust.id – Berbagai strategi dan kebijakan pemerintah untuk memproteksi industri keramik akan berdampak positif terhadap prospek bisnis PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) ke depan. Hal ini diharapkan dapat menopang pertumbuhan kinerja keuangan perseroan ke depan.
Pemerintah tengah menerapkan kewajiban SNI bagi produk-produk keramik untuk melindungi produsen keramik dalam negeri. Pemerintah juga tetap melanjutkan bea masuk tindak pengamanan (BMTP) atau safeguard untuk produk keramik impor yang akan berlaku pada November 2023 sebesar 13%.
"Pemerintah terus mempromosikan produk dalam negeri dengan cara merevisi aturan SNI dan antidumping produk keramik. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing produk keramik dalam negeri, khususnya Arwana,” ujar analis RHB Sekuritas Indonesia Ryan Santoso dan Andrey Wijaya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.
Ekspektasi membaiknya prospek perseroan ke depan, terang RHB Sekuritas, didukung oleh penambahan kapasitas produksi dengan penambahan pabrik baru yang sudah berjalan sesuai target. Kehadiran pabrik baru tersebut diharapkan bisa menghalau gempuran produk keramik dari China.
Saat ini, perseroan tengah membangun Plant 4C di Ogan Sumatera Selatan. Pabrik baru tersebut ditargetkan mulai beroperasi awal semester II tahun 2024.
Manajemen perseroan sebelumnya menyebutkan bahwa fasilitas produksi plant 4C diharapkan menambah kapasitas produksi ARNA sebanyak 4 juta meter per segi. Dengan demikian, total kapasitas produksi perseroan tahun depan bisa meningkat menjadi 72,77 juta meter persegi.
Terkait realisasi kinerja keuangan Arwana (ARNA) hingga kuartal III-2024, menurut Andrey dan Ryan, realisasi kinerja keuangan tersebut berada di bawah target. Penurunan laba bersih tersebut dipengaruhi oleh penurunan volume penjualan secara tahunan (yoy) dan berbagai faktor lain, meskipun rata-rata harga jual keramik Arwana naik sekitar 3,3%.
Berdasarkan data, Arwana mencatatkan penurunan volume penjualan keramik sebanyak 45,9 juta meter per segi atau turun 11%, dibandingkan periode sama tahun lalu (yoy). Sedangkan margin kotor (gross margin) juga turun menjadi 37,6% hingga September 2023, dibandingkan periode sama tahun lalu 41%. Penurunan dipengaruhi oleh kenaikan material bahan baku, biaya buruh, dan biaya manufaktur.
Arwana (ARNA) mencatatkan penurunan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sekitar 23% menjadi Rp 352,66 miliar hingga September 2023, dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 458,36 miliar.
Manajemen ARNA dalam laporan keuangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (23/10/2023), menyatakan bahwa penurunan laba tersebut dipicu oleh penurunan pendapatan perseroan dari Rp 2 triliun menjadi Rp 1,84 triliun hingga September 2023.
Penurunan tersebut memicu laba usaha perseroan turun dari Rp 591,75 miliar hingga September 2022 menjadi Rp 451,85 sampai September 2023. Penurunan laba mengakibatkan laba per saham perseroan pun turun dari Rp 62,43 menjadi Rp 48,04.
“Realisasi laba bersih perseroan hingga September 2023 masih berada di bawah target RHB Sekuritas dan konsensus analis. Perolehan tersebut baru merefleksikan 67,3% dari target kami untuk tahun 2023. Pencapaian tersebut juga hanya merefleksikan sekitar 63,8% dari target laba bersih konsensus analis,” terangnya.
Karena itulah, dukungan pemerintah untuk memperkuat industri keramik domestik diharapkan menjadi sentimen positif terhadap prospek saham ARNA. Hal inilah yang mendorong RHB Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp 1.050.
Prospek Saham ARNA
RHB Sekuritas Indonesia
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 1.050
Laba Sesuai Target
Tentang kinerja kuartal III-2023, Chief Financial Officer (CFO) PT Arwana CitramuliaTbk, Rudy Sujanto menyatakan, meski laba bersih periode Januari-September 2023 turun, manajemen berkeyakinan bahwa laba bersih tahun 2023 akan tercapai sesuai dengan revisi target yang dicanangkan sebesar Rp 445,0 miliar.
Manajemen perseroan juga akan mempertahankan konsistensi pembagian dividen dengan payout ratio yang tinggi untuk menaikkan nilai tambah buat segenap pemegang saham korporasi.
Dengan mengacu pada proyeksi laba bersih Rp 445,0 miliar tersebut, kata Rudy, maka payout ratio akan mencapai 70% dengan total sekitar Rp 311 miliar, serta yield sebesar sekitar 7,5%. “Rencana pembagian dividen ini akan diputuskan pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan setelah tahun buku 2023 berakhir,” kata dia.
Pada kuartal II ini, kata Rudy, Arwana juga mencatatkan penguatan neraca keuangan, ditandai di antaranya dengan perbaikan likuiditas. Posisi kas dan setara kas perseroan per 30 September 2023 tercatat Rp 417,49 miliar. Perbaikan likuiditas juga ditandai dengan current ratio yang naik dari 204% menjadi 223%.
Arwana meraih laba bersih sebesar Rp 109,07 miliar pada kuartal III-2023, meningkat 11% dibandingkan laba bersih kuartal II-2023 (q ro q) sebesar Rp 98,27miliar. Volume penjualan meningkat 1,98 juta m2 dibandingkan kuartal sebelumnya, menjadi 15,63juta m2 dibanding kuartal sebelumnya sebesar 13,65 juta m2.
Rudy Sujanto menegaskan, hasil ini dicapai di tengah kondisi permintaan bahan bangunan yang masih saja lesu. Namun, lewat berbagai strategi pemasaran, seling out ratio kuartal II mencapai di atas 100% sehingga mampu menurunkan persedian.
“Pemasaran produk diperkuat dengan peluncuran banyak desain baru yang inovatif dan bernilai estetika tinggi. Desain-desain baru yang menjadi unggulan terbukti bisa menarik minat konsumen dengan defrensiasi produk dengan keramik impor,” kata Rudy.
Sementara itu, Rudy menegaskan, selain rencana aksi korporasi dalam bentuk pembagian dividen, perseroan juga mulai menjalankan program pembelian kembali (buy back) saham sejak tanggal 19 Oktober 2023 setelah mendapatkan persetujuan dari para pemegang saham.
“Perseroan mengalokasikan dana Rp 150 miliar untuk melakukan pembelian kembali saham selama periode 18 bulan sejak keputusan RUPSLB tersebut,” kata Rudy.
Kapasitas 69 Juta M2
PT Arwana Citramulia Tbk mencatatkan saham di Bursa Efek Jakarta (kini Bursa Efek Indonesia) pada 17 Juli 2001 dengan kode saham ARNA. Perseroan pernah menggelar rights issue pada 2002, pembagian saham dividen pada 2006, serta pemecahan saham (stock split) pada 2009 dan 2013.
Badan hukum Arwana Citramulia didirikan pada 22 Februari 1993. Bergerak di industri keramik dan porselen, perseroan mulai beroperasi secara komersial pada 23 Juni 1995 dengan mulai berproduksinya Plant I di Pasar Kemis, Tangerang, Banten, dengan kapasitas terpasang 2,88 juta meter persegi (m2) per tahun. Hingga kuartal III-2023, total kapasitas terpasang Arwana telah mencapai 68,77 juta m2 per tahun dengan pembangunan empat pabrik lain, serta penambahan lini produksi dan pemutakhiran mesin.
Lima pabrik Perseroan dibangun di lima lokasi berbeda berdasarkan pertimbangan strategis dan juga dalam rangka memberdayakan ekonomi masyarakat setempat. Plant I dan Plant II masing-masing berlokasi di Tangerang dan Serang, Banten. Plant III dan Plant V masing-masing berlokasi di Gresik dan Mojokerto, Jawa Timur, sementara Plant IV berlokasi di Ogan Ilir, Sumatera Selatan.
PT Arwana Citramulia Tbk telah bersertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI) dan ISO 13006:2015. Adapun aspek operasional perseroan telah memenuhi standar ISO 9001:2015 (Quality Management System), ISO 14001:2015 (Environmental Management System), dan standar industri hijau SIH 23929.1:2022 (Industri Ubin Keramik). Arwana meraih berbagai penghargaan dari dalam maupun luar negeri.
Sebagai ujung tombak pemasaran, Arwana memiliki anak perusahaan PT Primagraha Keramindo yang berperan sebagai distributor tunggal bagi produk-produk perseroan. Primagraha Keramindo saat ini terhubung dengan 46 sub-distributor dan lebih dari 36 ribu toko di seluruh pelosok Nusantara. (Hari Gunarto)

