Sederet Keunggulan Kompetitif PT Ciputra Development Tbk (CTRA), Apa Saja?
JAKARTA, investortrust.id – Pengembang papan atas yang berpengalaman lebih dari empat dekade, PT Ciputra Development Tbk (CTRA), memiliki sejumlah keunggulan kompetitif yang membuat proyek-proyeknya diburu konsumen.
Di antaranya adalah kuatnya brand perseroan, pengembangan properti yang tersebar ke berbagai daerah, diversifikasi dan luasnya segmentasi proyek, serta didukung skema kolaborasi dengan pemilik lahan.
Strategi pengembangan proyek dan penjualannya, ditambah kebijakan insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN), membuat marketing sales CTRA berpotensi terus melesat. Itulah yang membuat sejumlah sekuritas merevisi naik target laba bersih dan harga saham CTRA.
Analis MNC Sekuritas Muhamad Rudy Setiawan mengatakan, pemerintah telah resmi mengumumkan pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN) sebanyak 100% untuk pembelian rumah di bawah Rp 2 miliar. Insentif juga diperluas untuk pembelian rumah dengan harga maksimal Rp 5 miliar, meski PPN dibebaskan hanya untuk 2 miliar. CTRA merupakan satu dari beberapa perusahaan properti yang memiliki harga jual rumah berkisar Rp 1-5 miliar.
Trimegah Sekuritas merevisi naik target harga saham PT Ciputra Development Tbk (CTRA) dari Rp 1.450 menjadi Rp 1.535, seiring dengan ekspektasi penjualan marketing (marketing sales) berkisar Rp 9,5-9,8 triliun tahun 2023-2024.
Analis Trimegah Sekuritas Kharel Devin Fielim mengatakan, ekspektasi marketing sales tersebut didukung adanya insentif pembabasan pajak pertambahan nilai (PPN) untuk maksimum senilai Rp 220 juta untuk harga rumah di bawah Rp 5 miliar.
Revisi naik target tersebut juga mempertimbangkan besarnya inventori proyek rumah bernilai di bawah Rp 2,1 miliar dengan total hingga Rp 1,8 triliun hingga kini. Inventori ini tentu menjadi peluang besar bagi perseroan untuk mendongkrak penjualan properti tahun depan.
“Berdasarkan data penerapan insentif PPN properti tahun 2021-2022, Ciputra Development berhasil mendongkrak marketing sales. Insentif tersebut berkontribusi sebanyak Rp 1,99 triliun dan Rp 1,28 triliun terhadap total marketing sales periode tersebut,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.
Marketing sales yang konsisten tersebut juga didukung peluncuran produk kluster baru Citra Garden Bintaro yang telah terjual sebanyak 79% atau Rp 800 miliar dari total hunian yang ditawarkan mencapai 625 unit hanya dalam dua hari setelah peluncuran.
Perseroan juga berniat meluncurkan klaster Citra Garden Serpong fase II tahun 2023 dengan harga jual berkisar Rp 770 juta per unit. Perumahan tersebut akan dikembangkan untuk mengejar insentif PPN yang ditawarkan pemerintah.
Berbagai faktor tersebut mendorong Trimegah Sekuritas merevisi naik target pertumbuhan pendapatan dan laba bersih perseroan Ciputra Development (CTRA) tahun 2023-2025.
Perseroan merevisi naik target laba bersih tahun 2023 dari Rp 1,84 triliun menjadi Rp 1,93 triliun. Proyeksi laba bersih tahun 2024 direvisi naik dari Rp 2,11 triliun menjadi Rp 2,26 triliun. Begitu juga dengan proyeksi laba bersih perseroan tahun 2025 direvisi naik dari Rp 2,26 triliun menjadi Rp 2,44 triliun.
Revisi tersebut mendorong Trimegah Sekuritas merevisi naik target harga saham CTRA dari Rp 1.450 menjadi Rp 1.535.
Keunggulan Kompetitif
Sementara itu, Sucor Sekuritas juga berpendapat bahwa Saham PT Ciputra Development Tbk (CTRA) memiliki prospek cerah ke depan. Setidaknya ada tiga keunggulan kompetitif yang dimiliki CTRA. Yaitu kuatnya brand perseroan, pengembangan properti yang tersebar ke berbagai daerah, dan didukung skema kolaborasi dengan pemilik lahan.
“Kami terus menyukai saham CTRA didukung sejumlah faktor, seperti pertumbuhan laba dan marketing sales yang kuat, portofolio pengembangan properti yang tersebar di berbagai kota, dan brand Ciputra yang kuat,” tulis analis Sucor Sekuritas, Niko Pandowo dalam riset yang diterbitkan kemarin.
Keunggulan tersebut mendorong Sucor Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham CTRA dengan target harga Rp 1.815. Target tersebut juga mempertimbangkan insentif pembebasan PPN untuk rumah dengan harga jual di bawah Rp 2 miliar.
Sucor Sekuritas juga memperkirakan kenaikan laba bersih CTRA menjadi Rp 2,06 triliun tahun ini, dibandingkan tahun lalu Rp 1,86 triliun. Begitu juga dengan target laba bersih perseroan tahun 2024 dirpediksi mencapai Rp 2,51 triliun.
Terkait brand pengembang ini, dia mengatakan, Ciputra merupakan pengembang properti yang dikenal baik di dalam negeri. Hingga kini, sebagian besar pendapatan atau setara 73% bersal dari pengembangan properti dan sisanya 27% merupakan pendapatan berulang (recurring incomes).
Kuatnya prospek usaha dan kinerja, kata Niko, didukung skema kolaborasi yang telah dijalankan perseroan dengan pemilik lahan dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini, sebanyak 64% dari penjualan properti perseroan berasal dari proyek kolaborasi dengan pemilik lahan.
“Kami meyakini bahwa kolaborasi demikian tidak mudah bisa ditiru pengembang lainnya, karena butuh dukungan reputasi kuat yang sudah terbangun bertahun-tahun,” terangnya.
Selain faktor tersebut, Niko berpendapat, tingkat pertumbuhan penjualan properti bisa mencapai 9% per tahun dalam 10 tahun mendatang. Hingga September 2023, perseroan telah mengantongi penjualan properti sebanyak Rp 7,8 triliun atau setara dengan 80% dari taget manajemen Rp 9,8 triliun.
Prospek saham CTRA
Trimegah Sekuritas
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 1.535
Sucor Sekuritas
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 1.815
MNC Sekuritas
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 1.300
Segmentasi Luas
Sementara itu, PT Ciputra Development Tbk (CTRA) menorehkan laba bersih sebesar Rp 1,18 triliun hingga kuartal III-2023. Perolehan tersebut turun 22,37% dibanding periode 9 bulan pertama 2022 (year-on-year/yoy) sebesar Rp 1,52 triliun.
Adapun laba kotor CTRA mencapai Rp 3,1 triliun atau turun 13,8% yoy. Pendapatan tercatat sebesar Rp 6,59 triliun atau terkoreksi 8,85% (yoy), dari periode sebelumnya Rp 7,23 triliun.
Dalam keterangan keterbukaannya kepada Bursa Efek Indonesia, Direktur Utama CTRA, Candra Ciputra menyatakan, kontribusi terbesar terhadap pendapatan perseroan bersumber dari penjualan kavling, rumah hunian, dan ruko yang totalnya mencapai Rp 4,2 triliun pada kuartal III-2023. Sedangkan penjualan apartemen mencapai Rp 499,6 miliar dan perkantoran Rp 378,6 miliar.
Untuk divisi lain, seperti pelayanan kesehatan menyumbang pendapatan Rp 406,9 miliar, hotel Rp 367,2 miliar, sewa kantor Rp 160,5 miliar, serta lapangan golf Rp 40,66 miliar.
Menurut Head of Investor Relation CTRA, Aditya Ciputra Sastrawinata, perseroan membidik marketing sales tahun 2023 sebesar Rp 9,8 triliun. Target tersebut diharapkan bisa terpenuhi dari sejumlah ekspansi ke berbagai wilayah di Indonesia, terutama pengembangan dan penjualan proyek residensial skala township.
Aditya menegaskan, salah satu keunggulan kompetitif Ciputra adalah diversifikasi dan luasnya segmentasi proyek yang memberikan fleksibilitas untuk menyesuaikan permintaan pasar sesuai keinginan konsumen di setiap wilayah yang dikembangkan.
Beberapa wilayah yang diharapkan semakin tumbuh penjualannya selain Jadebotabek adalah Medan, Makassar, dan Surabaya. Ciputra menyiapkan sejumlah proyek baru, antara lain Citra City Sentul, CitraGarden Bintaro, kluster baru CitraLand Gama City Medan, dan CitraLand Sampali Kota Deli Megapolitan.
Ciputra Development didirikan pada 22 Oktober 1981 oleh pengusaha sukses Ciputra dengan nama PT Citra Habitat Indonesia. CTRA kini menjadi salah satu perusahaan properti ternama dan paling terdiversifikasi di Indonesia.
Hingga saat ini, CTRA telah mengembangkan lebih dari 76 proyek, mulai dari kawasan perumahan, apartemen, perkantoran, pusat perbelanjaan, rumah sakit, hingga lapangan golf, yang tersebar di 33 kota di seluruh Indonesia.
Dengan portofolio dan kepemilikan lahan yang luas, Ciputra Development telah berhasil meraih kepercayaan masyarakat luas selama lebih dari tiga dekade dan menjadi perusahaan properti yang terkemuka di Indonesia.
PT Ciputra Development Tbk meraih puluhan penghargaan atas berbagai prestasi proyek yang dikembangkan selama ini, baik di level domestik maupun internasional. (Hari Gunarto)

