Pesan dari Davos: Memasuki 2024 dengan Sejumlah Paradoks (Bagian Terakhir)
JAKARTA, investortrust.id -- Dunia memasuki tahun 2024 dengan sejumlah paradoks. Di satu sisi, dunia ingin mempercepat pemulihan ekonomi yang terpukul pandemi Covid-19. Dunia ingin menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran. Dunia ingin bahu-membahu mengatasi pemanasan global dan perubahan iklim yang kian ekstrem. Tapi, di sisi lain pada saat yang sama dunia mengalami masalah geopolitik, bukan saja konflik, melainkan perang terbuka.
Upaya mengatasi penyakit, pandemi, perubahan iklim, dan kemiskinan membutuhkan kolaborasi. Tapi, pada saat yang sama, banyak negara tidak menunjukkan keprihatinan terhadap masalah serius yang terjadi. Mereka malah mengobarkan perang.
“Kami melihat lanskap keamanan tahun ini sangat rumit dan prospek ekonomi yang cukup rapuh,” kata Presiden WEF Borge Brende. Tanpa pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja tidak tercipta dan kemakmuran semakin jauh. Sejarah sudah membuktikan, demikian Ajay Banga, presiden Grup Bank Dunia, tanpa pertumbuhan ekonomi, perdamaian sulit tercipta.
Laporan Dana Moneter Internasional (IMF) yang disampaikan Oktober 2023 menunjukkan, pertumbuhan global diperkirakan rata-rata 3,1% selama lima tahun ke depan, 2024 dan 2028. Ini adalah rentang waktu dengan tingkat pertumbuhan paling lambat dalam beberapa dekade. Pada periode 2000 hingga 2019, pertumbuhan PDB sebesar 3,8%. Bank Dunia memperingatkan, dunia sedang menuju pertumbuhan terburuk dalam 30 tahun terakhir.
Laju pertumbuhan ekonomi tahun 2024 tidak sebesar tahun 2023. IMF memperkirakan, pertumbuhan ekonomi tahun 2024 hanya sekitar 2,7%, turun dari 3,1% tahun 2023, dan pada tahun 2025 pertumbuhan ekonomi naik tipis ke 2,9%. Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde menyatakan, tahun ini akan menjadi tahun yang “tidak normal”.
Ekonomi dunia belum sepenuhnya pulih dari pukulan pandemi 2020-2022. Selama pandemi terjadi kelangkaan barang akibat gangguan produksi dan rantai pasok. Kelas menengah mengurangi belanja, sehingga tabungan meningkat. Ketika pandemi mulai mereda pada tahun 2022, kelas mulai meningkatkan belanja. Akibatnya, inflasi zona Eropa yang pernah mencapai 10,6%, Oktober 2022. Pada akhir pada Desember 2023 turun menjadi 2,9%.
Seperti dilaporkan The World Economic Forum (WEF)’s Global Risks 2024 Report, tahun 2024 diwarnai informasi palsu —misinformasi dan disinformasi—, meningkatnya konflik antarnegara, dan ketidakpastian ekonomi. Menurut Survei Persepsi Risiko Global 2024, mayoritas responden (54%) mengantisipasi ketidakstabilan dan risiko bencana global yang moderat, sedang 30% lainnya memperkirakan kondisi yang lebih bergejolak.
Prospek ekonomi jauh lebih suram dalam 10 tahun ke depan. Hampir dua pertiga responden memperkirakan prospek yang penuh badai atau gejolak. Ini adalah hasil survei terhadap 1.500 pemimpin di berbagai sektor, yakni pemimpin bisnis, akademisi, masyarakat sipil dan pemerintahan, serta lebih dari 200 pemimpin tematik.
Dunia kini kian dipenuhi narasi yang terpolarisasi, misinformasi dan disinformasi, serta melonjaknya biaya hidup dan suku bunga. Dalam pada itu, sumber daya alam kian habis terkuras dan ketegangan geopolitik meningkat yang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi konflik di seluruh dunia. Ada lagi krisis lingkungan hidup, cuaca ekstrem, energi, dan pangan. Semuanya semakin mengganggu stabilitas perekonomian dan menggerus margin keuntungan perusahaan dan menghambat rantai pasokan.
Dalam pada itu, upaya mengatasi pemanasan global dan perubahan iklim menunjukkan perlambatan signifikan. Tantangan bersama ini tidak diatasi bersama-sama karena masalah geopolitik dan persaingan tidak sehat.
Mayoritas responden, 53%, demikian Survei Persepsi Risiko Global, menilai misinformasi dan disinformasi yang dihasilkan AI merupakan salah satu risiko tertinggi dalam dua tahun ke depan. Hal ini juga mencakup ketidakamanan dunia maya dan konsentrasi kekuatan teknologi.
Meski ada gambaran suram, ekonomi dunia tahun ini dinilai tidak seseram gambaran ekonomi tahun sebelumnya. Tidak ada perfect storm. Inflasi dan suku tinggi sudah berlalu meski laju pertumbuhan ekonomi agak menurun. Jika masalah geopolitik di Ukraina dan Palestina bisa diatasi, pertumbuhan ekonomi akan melaju dengan lebih cepat.
Ada beberapa negara yang menjadi mesin pertumbuhan ekonomi menentukan, yakni China, AS, dan India. Setelah tahun 2023 bertumbuh 5,2%, laju petumbuhan ekonomi Tiongkok tahun ini akan lebih baik. Perdana Menteri Tiongkok Li Qiang mengatakan, realisasi pertumbuhan ekonomi 2023 lebih tinggi dari perkiraan awal, 5%.
Perdana Menteri Republik Rakyat China Li Qiang berjabat tangan dengan Pendiri dan Executive Chairman dari World Economic Forum, Klaus Schwab pada Pertemuan Tahunan World Economic Forum 2024 di Davos-Klosters, Swiss, (16/01/2024). Foto: World Economic Forum/Benedikt von Loebell.
Ekonomi AS menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Laju inflasi Desember 2023, yoy, sudah turun ke 3,4%. Sedang laju pertumbuhan ekonomi di tahun yang sama diperkirakan 2,7% dan pada kuartal ketiga sempat bertumbuh 4,9%. The Federal Reserve (Fed) diperkirakan akan menurunkan fed fund rate (FFR) yang sudah di level sangat tinggi, 5,25%-5,50%.
Banyak pengamat memperkirakan FFR akan diturunkan dua-tiga kali dan di akhir 2024 sekitar 3,25%-3,50%. Penurunan FFR akan berlanjut tahun 2025. Namun, CEO Nasdaq Adena Friedman mengatakan, The Fed akan berhati-hati dalam memangkas suku bunga. “Jika saya adalah The Fed, saya akan khawatir jika terlalu dini menurunkan suku bunga kendati laju inflasi sudah bergerak ke arah yang benar,” ujarnya.
The Fed, kata Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva, perlu ekstra hati-hati dalam menurunkan suku bunga guna menghindari gejolak. Mengingat dampaknya yang besar terhadap perekonomian dunia, khususnya negara pasar berkembang, Bank Sentral AS tak boleh melakukan kesalahan dalam menentukan kebijakan.
Dengan jumlah penduduk 1,5 miliar, ekonomi India terus bertumbuh. Setelah 5,3% tahun 2023, ekonomi India diiperkirakan melaju 6,2% tahun ini. Ini adalah gambaran pesimistis. Dengan dorongan sektor industri, laju pertumbuhan ekonomi India kuartal kedua 2024 bisa mencapai 6,9%-7%.
Bukan hanya Indonesia yang menggelar pilpres tahun ini. Ada 64 negara dengan populasi 49% dari populasi dunia yang juga menggelar pilpres di tahun 2024 ini. Selain Indonesia, ada AS, India, Pakistan, Inggris, Rusia, Taiwan, Afrika Selatan, dan sebagainya. Pemilihan kepala negara dan kepala pemerintahan menambah ketidakpastian ekonomi dunia.
Peran pemimpin tertinggi politik sangat penting. Sebutlah pilpres AS yang akan digelar 5 November 2024. Jika Donald Trump yang terpilih, ekonomi dan politik dunia diperkirakan akan terganggu. Kita masih ingat Perang Dagang AS dan China dan pemindahan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Jerusalem. Trump menjadi presiden AS ke-45, 20 Januari 2017 hingga 20 Januari 2021.
Siapa menyangka Russia invasi Ukraina pada 24 Februari 2022? Siapa pernah menduga bila Hamas melakukan attacking mematikan ke Israel pada 7 Oktober 2023? Dampaknya sangat besar. Pelayaran jalur cepat Laut Merah—Terusan Suez kini terganggu. Jika terus terganggu, harga komoditas akan melonjak, inflasi meroket lagi.
Kita juga bisa membayangkan apa yang terjadi jika presiden Taiwan terpilih kelak adalah figur yang anti-One China Policy? Perang bisa saja terjadi. China marah dan melakukan tindakan militer. AS akan membantu Taiwan dan negara yang terlibat perang akan banyak. Saat ini, tokoh dari partai berkuasa, Lai Ching-te, adalah kandidat terkuat. Amerika dan Jepang dengan cepat mengucapkan selamat kepada Lai. Sedang Tiongkok memperingatkan kemungkinan “kegiatan separatis” jika Lai berkuasa.
Tahun 2024 adalah tahun penting karena banyaknya pemilihan presiden baru, apalagi presiden negara besar yang sangat berpengaruh terhadap ekonomi global. “Sebagai pemegang kebijakan ekonomi, presiden baru berpotensi mengubah cara penanganan fiskal, apakah memberikan stimulus fiskal atau tidak,” kata Suni Harford, President Asset Management dan Group Executive Board Lead for Sustainability and Impact di UBS.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan bahwa kolaborasi dan kerja sama adalah hal yang penting, dan menekankan perlunya memindahkan sumber daya keuangan dari “tempat yang merugikan” ke “tempat yang membantu.”
Dalam lanskap yang penuh kompleksitas dan tantangan yang saling berhubungan ini, kolaborasi menjadi kunci utama kesuksesan. Tidak ada organisasi yang berdiri sendiri dalam perjalanan transformatif ini.
Para pemimpin bank global memperingatkan tekanan inflasi akibat kenaikan biaya pengiriman dan kemungkinan kenaikan harga minyak. Para eksekutif bank khawatir pasar salah memperkirakan penurunan suku bunga, dan risiko geopolitik dapat menyebabkan volatilitas.
Dalam pada itu, kata Antonio Guterres, kesenjangan dan ketidakadilan sudah mencapai tingkat yang sangat parah dan kondisi ini merupakan hambatan serius bagi pembangunan berkelanjutan. Mengutip laporan Oxfam, Guterres menjelaskan, lima orang terkaya di dunia memiliki kekayaan lebih dari dua kali lipat sejak tahun 2020 dengan rata-rata US$ 14 juta dolar AS per jam. Pada saat yang sama, lebih dari separuh dunia, atau hampir lima miliar orang, menjadi lebih miskin.
Bank Dunia memperingatkan kita sedang menuju pertumbuhan setengah dekade terburuk dalam 30 tahun terakhir. Banyak negara dilanda kekacauan iklim dan tenggelam dalam kesulitan keuangan. Lebih dari separuh 75 negara termiskin di dunia menghadapi kesulitan membayar utang. Pembayaran bunga utang meningkat empat kali lipat dalam beberapa tahun terakhir.
Guterres mengaku tidak heran jika sebagian penduduk dunia kini sedang marah. Karena setelah puluhan tahun mengentaskan kemiskinan dan mengatasi kelaparan, kemajuan yang dicapai minim. Beberapa negara malah mengalami kemunduran.
Data World Poverty Statistics 2024 menunjukkan, lebih dari 700 juta atau 9,2% dari penduduk dunia tergolong miskin ekstrem. Mereka bertahan hidup dengan pendapatan di bawah US$ 1,90 per hari, sebuah kondisi kritis yang berdampak besar terhadap anak-anak. Sebagian besar penduduk miskin ekstrem ini terkonsentrasi di negara-negara berkembang. Sekitar 90% orang yang hidup dalam kemiskinan ekstrem berada di Afrika sub-Sahara dan Asia Selatan.
Selain penduduk yang hidup dalam kemiskinan ekstrem, ada sekitar 26% populasi global atau sekitar 1,3 miliar orang hidup dalam kemiskinan sedang. Kemiskinan sedang didefinisikan sebagai hidup dengan pendapatan antara US$ 1,90 dan US$ 3,20 per hari. Kemiskinan berdampak buruk terhadap pertumbuhan anak-anak.
Keamanan
Pertama, WEF ke-54 berusaha mencapai stabilitas keamanan dan kerja sama antarnegara di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Belum selesai Perang Rusia vs Ukraina, muncul perang Israel vs Hamas. Kedua perang telah memicu kenaikan harga barang, khususnya pangan dan energi.
Sudah dua tahun, Rusia menginvasi Ukraina dan belum ada tanda-tanda meyakinkan Putin akan memenangi perang. “Fakta, Rusia kini semakin terisolasi dan bergantung pada Tiongkok guna menopang kekuatan militer dan ekonominya,” kata Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.
Ursula menilai invasi Rusia di Ukraina adalah kegagalan militer pertama dan terpenting yang diderita negara itu. Ia memuji Ukraina yang dengan heroik mampu mempertahankan kebebasan dan kemerdekaannya.
Meski terus dibombardir Rusia, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menegaskan, pihaknya tak akan ciut. Ia mengecam kegagalan Barat dalam memberikan sanksi terhadap industri nuklir Rusia. Ia menyebut Putin sebagai satu-satunya teroris di dunia yang menyandera pembangkit listrik tenaga nuklir Ukraina.
Perang Israel vs Hamas lebih berdampak luas. Perang ini berpotensi besar untuk mengalami eskalasi. Di samping jatuhnya korban sipil tak berdosa di Gaza, terbanyak wanita dan anak-anak, perang ini mudah menjalar ke sejumlah negara di Timur Tengah karena faktor ideologi.
Tidak heran bila tragedi kemanusiaan di Gaza mendominasi diskusi di WEF. Sejumlah kepala negara mendesak Israel dan sekutunya untuk menghentikan perang yang sudah menelan ribuan korban jiwa. Sikap AS dan Inggris yang tidak tegas terhadap Israel mendorong Houthi untuk beraksi. Selain menembakkan roket ke Israel, Houthi yang bermarkas di Yaman menembaki kapal-kapal AS dan Inggris yang tengah melintas Laut Merah.
Houthi adalah kelompok bersenjata yang dekat dengan minoritas Muslim Syiah di Yaman. Seperti Hamas di Palestina dan Hizbullah Lebanon, kelompok ini telah memposisikan diri melawan Israel, Amerika Serikat, dan negara-negara Barat. Didukung oleh Iran, pemberontak Houthi menyerang kapal-kapal yang melewati Laut Merah.
Jika jalur pelayaran Laut Merah tetap tidak aman, harga komoditas dan berbagai produk akan melonjak. Rute pelayaran lewat selatan Afrika menelan biaya transportasi yang sangat mahal. Namun, pihak Irak dan Yaman menegaskan, perairan Laut Merah akan segera aman jika serangan Israel ke Gaza dihentikan.
Perang Israel vs Hamas, kata Menteri Keuangan Qatar Ali Al Kuwari, menghambat pemulihan ekonomi di seluruh kawasan. Ia menyarankan solusi nonmiliter untuk menghentikan perang yang dipicu tindakan Hamas, 7 Oktober 2023. Saat Israel sedang merayakan hari besar keagamaannya, Hamas melancarkan serangann hingga menewaskan 1.200 orang dan menyandera 240 orang.
Israel kemudian membalas dengan mengepung dan mengebom Gaza. Jumlah korban tewas sudah lebih dari 25.000 orang. PM Israel Benyamin Netanyahu menegaskan, Israel Defense Forces (IDF) atau Angkatan Bersenjata Israel akan terus mengepung Gaza hingga Hamas lumpuh dan punah. “Menghentikan gempuran terhadap Hamas sama saja dengan membiarkan teroris mengancam rakyat kami,” ujar tokoh heroik itu.
Para pemimpin Israel mememiliki pandangan yang sulit dipahami para pemimpin negara-negara Arab. Sudah ribuan tahun bangsa Yahudi hidup di perantauan, jauh dari Promised Land atau Tanah Terjanji. Pembantaian masal, halocaust, orang Yahudi di Eropa oleh Adolf Hitler tahun 1941-1945 mendorong orang Israel diaspora untuk kembali ke Zion, Yerusalem, untuk mendirikan negara berdaulat.
Difasilitasi Inggris, Israel kemudian memproklamasikan kemerdekaan 10 Mei 1948. Kemerdekaan yang digagas oleh kaum Zionis itu memicu perang besar dengan Jordania dan negara-negara Arab. Sejak itu, Israel dengan negara-negara Arab tak pernah akur.
Meski berada di Asia, di tengah negara-negara Arab, Israel lebih dekat dengan Barat. Merujuk pada sejarah, kerajaan di Timur Tengah pernah ekspansi ke Eropa. Semangat ekspansi, demikian Presiden Israel Isaac Herzog, tak pernah padam. “Jika Israel tidak ada di antara negara Arab, Eropa akan menjadi yang berikutnya… dan Amerika Serikat juga akan menjadi yang berikutnya,” kata Herzog.
Masalah geopolitik, kata Sekjen PBB António Gutteres, menghambat negara-negara untuk bekerjasama dan bersatu mengatasi masalah global yang tengah dihadapi, yakni perlambatan pertumbuhan ekonomi, kemiskinan, perubahan iklim akibat pemanasan global, penyakit, kemajuan pesat teknologi, dan masalah ekonomi. Tidak heran jika masyarakat dunia kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah, institusi, serta sistem keuangan dan ekonomi.
Masalah geopolitik merupakan risiko utama yang memengaruhi perekonomian global yang sedang melemah. “Ketidakstabilan politik menambah ketidakpastian ekonomi,” kata Guterres.
Tidak mudah membangun kepercayaan yang sudah runtuh akibat keserakahan korporasi dan egosentrisme sejumlah negara yang tidak peduli terhadap masalah riil yang dialami masyarakat dunia seperti perubahan iklim ekstrem, kerusakan alam, penyakit, kemiskinan, penurunan pertumbuhan ekonomi, dampak buruk kecerdasan buatan, dan meluasnya misinformasi serta disinformasi. Upaya “Memulihkan Kepercayaan di Dunia yang Terpecah” (Restoring Trust in a Divided World) hanya bisa terwujud jika semua pihak memiliki komitmen yang sama dan menjunjung tinggi etika.
Seperti kata Sekjen PPB Antonio Guterres, membangun kembali kepercayaan tidak akan terjadi dalam semalam. Namun ia yakin, jika ada komitmen dan etika yang kuat dari semua pihak, kepercayaan akan tumbuh. (Primus Dorimulu)

