Pesan dari Davos: Artificial Intelligence sebagai Driving Force (Bagian 2)
DAVOS, investortrust.id -- Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi kosa kata yang paling banyak diucapkan para pemimpin politik dan bisnis di Davos. Sesi yang paling banyak pengunjung adalah sesi AI, ketika CEO Open AI Sam Altman dan CEO Microsoft Satya Nadella memberikan presentasi. Sam menjelaskan tentang kemajuan pesat ChatGPT yang mampu mengambil alih banyak tugas manusia.
Pemecatan dan perekrutan kembali Altman tahun lalu membuat presentasinya ditunggu banyak partisipan. Tahun 2023, kata Altman, adalah tahun yang sangat dinamis bahkan “liar” bagi perusahaannya. Kecerdasan buatan yang dihasilkan nyaris menyamai kecerdasan manusia.
Kecerdasan buatan diakui sebagai driving force atau penggerak perubahan. Bukan saja di bidang ekonomi, melainkan juga bidang politik, pertahanan, dan keamanan. Penggunaan AI yang luas membuka peluang bagi penipuan dan aneka kejahatan, termasuk kejahatan di bidang politik dan ekonomi. Rahasia pribadi dengan mudah ditembus oleh AI.
Penggunaan AI menyuburkan misinformasi dan disinformasi. Banyak pihak yang dirugikan akibat misinformasi dan disinformasi. Ada produk tidak bermutu yang merugikan konsumen. Banyak penipuan berkedok investasi yang merugikan masyarakat dan menimbulkan korban jiwa. Misinformasi adalah informasi yang disebarkan begitu saja karena si penyebar tidak paham bahwa konten yang disebarkannya tidak benar. Disinformasi adalah informasi salah yang sengaja disebarkan dengan tujuan tertentu.
Chief Executive Officer, OpenAI, Amerika, Sam Altman berbicara pada sesi Technology in a Turbulent World pada Pertemuan Tahunan World Economic Forum 2024 di Davos-Klosters, Swiss, Jumat, (19/01/2024). Foto: World Economic Forum/Benedikt von Loebell.
Penggunaan AI akan membuat bisnis lebih efisien dan pertumbuhan ekonomi akan lebih cepat. Tapi, penggunaan kecerdasan buatan secara masif dikhawatirkan menimbulkan pengangguran. Ketika pekerjaan manusia diambil alih mesin pintar, jumlah pengangguran akan meledak. Penggunaan AI menyuburkan hoaks, baik misinformasi maupun disinformasi.
Kecerdasan buatan, kata Maurice Lévy, Chairman Publicis Groupe, akan lebih “transformasional dibanding telepon seluler. “AI akan ada di mana-mana. Kita harus beradaptasi dan mengadopsi, dan melatih cara menggunakannya,” ujar Levy. Masyarakat tidak perlu menjadi ahli di bidang AI, namun harus menjadi ahli dalam menggunakannya.
AI bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti meski dalam beberapa tahun akan datang, adaptasi AI mungkin akan menyebabkan hilangnya lapangan kerja. Namun secara keseluruhan, demikian Lebvy, AI justru membawa dampak positif terhadap umat manusia. Kecerdasan buatan sudah terbukti meniadi driving force.
Sebagai driving force, AI membantu para pemimpin bisnis dan pemerintahan menavigasi ketidakpastian, memanfaatkan kekuatan ilmu pengetahuan dan kecerdikan, serta membuka kemungkinan baru di dunia yang berkembang pesat. WEF dan dan Oliver Wyman Forum menjelaskan, kecerdasan buatan generatif bakal menandai masa keemasan produktivitas. Potensi perekonomian global yang bakal dihasilkan kecerdasan buatan generatif sebesar US$ 20 triliun dan menghemat 300 miliar jam kerja setiap tahunnya.
Kemajuan kecerdasan buatan generatif bakal mengubah struktur perusahaan secara radikal, di antaranya mengancam puluhan juta lapangan kerja dan menciptakan kesenjangan antara karyawan. AI generatif adalah kecerdasan buatan yang dapat membantu manusia membuat konten, membantu manusia lebih kreatif, produktif, berpengetahuan, dan berwawasan luas.
Sejumlah pertanyaan diajukan dalam sesi pembahasan AI. Akankah kecerdasan buatan generatif mengantarkan manusia mencapai masa keemasan dilihat dari produktivitas atau justru menghancurkan jutaan mata pencaharian manusia di seluruh dunia? Apakah AI generatif mengarahkan manusia ke jalan baru untuk mencapai kepuasan pribadi atau malah membawa mereka ke jalan buntu dalam kesepian dan keterasingan? Akankah hal ini mengangkat umat manusia ke tingkat yang lebih tinggi atau justru menabur benih kehancuran kolektif manusia?
Meski tergantung pada siapa yang ditanya, jawaban atas semua pertanyaan itu adalah “ya”. Dalam 14 bulan pertama ChatGPT diluncurkan, manusia belum melihat keampuhan AI generatif dalam mengubah dunia. Namun, setelah periode itu, manusia bisa melihat dampak positif dan negatif terhadap individu, keluarga, kelompok sosial ekonomi, bisnis, industri, dan masyarakat. ChatGPT merevolusi tempat kerja dan menata ulang kehidupan pribadi.
Survei terhadap 4.700 CEO di lebih dari 100 negara yang dilakukan Price Water House (PwC) yang dirilis awal pertemuan di Davos menunjukkan, 14% CEO berpendapat bahwa mereka harus memberhentikan stafnya karena meluasnya penggunaan AI generatif. “Tidak ada satu wilayah pun dan satu industri pun yang tidak akan terkena dampak” AI, kata Julie Sweet, CEO perusahaan konsultan Accenture.
Alangkah benar pernyataan Perdana Menteri Tiongkok Li Qiang di Forum WEF, Davos. Ia menyebut AI sebagai “pedang bermata dua”. Ada sisi manfaat yang luar biasa dalam meringankan tugas manusia. Tapi, di sisi yang lain, AI memiliki daya rusak yang tinggi jika disalahgunakan. AI bisa membuat disinformasi berkembang masif. Manusia harus mampu mengendalikan mesin pintar itu, bukan sebaliknya.
Tiongkok sudah menoreh kemajuan besar di bidang AI dan kini menjadi salah satu pusat pengembangan AI di dunia. Li mengimbau kerja sama antarnegara untuk melakukan riset bersama dan mengembangkan AI bersama. Degan kerja sama seperti itu, manfaatnya dinikmati bersama oleh semua umat manusia. Ia mengritik negara yang membatasi penggunaan teknologi dengan alasan hak cipta.
Agar AI tidak disalahgunakan, sejumlah negara sudah melahirkan undang-undang (UU) dan peraturan turunannya. Li mengaku, Tiongkok telah mengeluarkan peraturan sementara bagi AI generatif. Sedang Uni Eropa sudah mulai menerapkan UU AI dan itu lahir lewat negosiasi politik yang panjang.
Perlombaan global di bidang AI, kata Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, sudah dimulai. Ia memuji upaya 27 negara anggota Uni Eropa yang sudah menyepakati UU AI dan program yang menggabungkan superkomputer dengan kegiatan usaha kecil dan menengah. AI adalah peluang yang sangat signifikan jika digunakan dengan penuh bertanggung jawab.
Perancis, demikian Presiden Perancis Emmanuel Macron, sangat mendukung penerapan AI. Ia menyebut Perancis sebagai negara yang menarik dan kompetitif untuk pengembangan AI. Ia akan mendukung pengembangan AI dengan regulasi yang baik.
Kecerdasan buatan, kata Sekjen PBB António Gutteres, berpotensi sangat besar untuk menopang pembangunan berkelanjutan. Namun, peringatan IMF, teknologi ini kemungkinan besar memperburuk kesenjangan di dunia. Sejumlah perusahaan teknologi besar ditengarai sudah mengejar keuntungan dengan mengabaikan hak asasi manusia, privasi pribadi, dan dampak sosial.
Banyak peserta diskusi di WEF yang mengecam perusahaan besar yang mempelopori penggunaan AI. Mereka menilai akselerasi penggunaan kecerdasan buatan adalah agenda kaum kapitalis. Perlu panduan bersama agar penggunaan AI mendatangkan kemaslahatan, bukan sebaliknya.
Namun, ada suara lain yang optimistis. Kemajuan AI generatif tak perlu terlalu dikhawatirkan. CEO Salesforce Marc Benioff mengatakan, industri teknologi berupaya memastikan kecerdasan buatan yang dikembangkan cukup aman untuk menghindarkan dunia dari petaka seperti yang dialami kota Hiroshima yang menjadi korban bom atom AS. "Saat ini adalah momentum tetap bagi AI untuk melakukan lompatan besar," kata Benioff.
Merespons suara peserta WEF yang mengecam upaya mengakselerasi penggunaan AI, Presiden Argentina Javier Milei meminta para pemimpin bisnis dan politik untuk menolak sosialisme dan sebaliknya memegang teguh doktrin kapitalisme sebagai solusi mengakhiri kemiskinan umat manusia.
Peserta berfoto di sebuah photodrop dengan tema Artificial Intelligence pada Pertemuan Tahunan World Economic Forum 2024 di Davos-Klosters, Swiss, Jumat, (19/01/2024). Foto: World Economic Forum/Benedikt von Loebell.
“Hari ini, saya di sini untuk memberi tahu Anda bahwa dunia Barat sedang dalam bahaya,” kata Milei pada pidato perdananya di WEF. Menurut dia, Barat seharusnya membela nilai-nilai yang selama ini mereka kembangkan, bukan malah terkooptasi oleh visi dunia yang mengarah pada sosialisme dan kemiskinan.
Pemimpin sayap kanan Argentina itu menggambarkan dirinya sebagai seorang penganut “anarko kapitalis”. Hingga kini, ideologi politik dan ekonomi yang pertama kali dicetuskan oleh Murray Rothbard, tokoh gerakan libertarian Amerika tahun 1950-an itu cukup banyak diadopsi oleh negara kapitalis.
Menurut ideologi anarko-kapitalisme, negara tidak perlu dominan dalam mengurus semua hal untuk memenuhi hajat hidup rakyak. Semua hal yang sudah bisa dikerjakan oleh swasta diserahkan kepada swasta. Perdagangan harus free market dan para pelaku bisnis harus berkompetisi untuk memberikan yang terbaik kepada konsumen. Negara cukup menjamin regulasi yang baik dan lengkap serta melakukan penegakan hukum dengan konsisten dan adil.
Demokrasi, liberalisasi, dan rule of law (supremasi hukum) harus dijalankan bersama-sama. Jika ideologi ini berjalan seiring dengan rule of law yang baik, pelaku bisnis akan mendapatkan keuntungan optimal dan masyarakat akan memperoleh penghasilan yang baik. Hak individu dihormati negara. Yang penting, penerimaan negara dari pajak meningkat dan dengan penerimaan yang cukup, negara membantu warga yang miskin dan tertinggal. Orang kaya memberikan dana filantropis. (Primus Dorimulu) -- Bersambung.

