Mengapa Artificial Intelligence Ditakutkan Tokoh-Tokoh Dunia
JAKARTA, investortrust.id -- Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terus menjadi perbincangan dan masuk kategori isu yang sexy. Dalam pertemuan tahunan World Economic Forum, 15-19 Januari lalu, disrupsi AI merupakan masalah terbesar kedua global yang menjadi kekhawatiran para tokoh dan pemimpin bisnis di seluruh dunia yang disurvei oleh WEF. Salah satu pasangan calon presiden-wapres Indonesia juga mengusung seputar AI dalam visi-misinya.
Di forum WEF tersebut, Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen bahkan menyebut bahwa keprihatinan utama dalam dua tahun mendatang bukanlah konflik antarnegara atau perubahan iklim, tetapi disinformasi dan misinformasi yang dipicu oleh AI, yang diikuti dengan polarisasi dalam masyarakat. Risiko ini membatasi kemampuan dunia untuk mengatasi tantangan-tantangan global yang lebih besar.
Lagi-lagi, teknologi AI seperti pisau bermata dua, bermanfaat tapi sekaligus terkandung mudharat alias dampak negatif. Manfaat paling utama dari pemanfaatan AI adalah perannya dalam mendongkrak efisiensi produksi dan mendorong inovasi. Berdasarkan laporan McKinsey dan Noodle AI, penerapan AI bisa meningkatkan ekonomi global hingga US$ 13 triliun pada 2030.
Manfaat positif AI lainnya adalah membantu proses pengambilan keputusan karena kecanggihannya memproses data dalam jumlah besar dan membantu sistem pembelajaran di dunia pendidikan.
Sayangnya, manfaat positif itu lebih banyak menguntungkan negara-negara maju, karena mereka lah yang unggul dalam pengembangan AI, karena talenta-talenta digital yang dimiliki. Fenomena inilah yang bakal kian memperlebar kesenjangan ekonomi dan teknologi antara negara maju vs negara berkembang-miskin.
Survey WEF menunjukkan bahwa AI generatif akan meningkatkan efisiensi produksi (79% responden) dan inovasi (74%) di negara-negara berpendapatan tinggi pada tahun ini. Dalam lima tahun ke depan, 94% responden memperkirakan manfaat produktivitas ini akan menjadi signifikan secara ekonomi di negara-negara berpendapatan tinggi, dibandingkan dengan hanya 53% di negara-negara berpendapatan rendah.
Para responden meyakini bahwa AI akan meningkatkan kesenjangan ekonomi antara negara maju dan berkembang. Disrupsi akan kian memberikan dampak besar ke depannya.
Disrupsi AI juga menjadi malapetaka bagi pasar tenaga kerja. Ada pemisahanan antara produktivitas dan pengupahan yang bisa saja merugikan pekerja. AI juga bisa mengakibatkan relokasi aktivitas ekonomi.
Melebihi Ekspektasi
Salah satu momen yang melejitkan teknologi AI adalah kemunculan ChatGPT yang super cerdas. Aplikasi ini bisa mengerjakan apapun atas perintah penggunanya, mulai dari penterjemahan ke berbagai bahasa, pembuatan skripsi dan tesis, bikin puisi, dan berbagai tugas yang selama ini diperankan manusia. Model AI generatif ChatGPT bahkan lulus ujian lisensi dokter Massachusetts General Hospital (MGH).
AI adalah teknologi yang memungkinkan sistem komputer, perangkat lunak, program dan robot untuk berpikir dan bertindak secara cerdas layaknya manusia. Kecerdasan buatan dibuat melalui algoritma pemrograman yang kompleks. Sistem AI bekerja lebih cepat, akurat, dan minim kesalahan yang diakibatkan oleh kelelahan juga kecerobohan manusia.
Agar memiliki kecerdasan layaknya manusia, AI dibangun dengan beberapa program, di antaranya adalah machine learning, deep learning, natural language program, dan computer vision.
Konsep AI pertama kali ditemukan setelah Perang Dunia II oleh matematikawan Alan Turing pada 1947. Alan turing berpendapat, jika manusia bisa mengolah informasi, memecahkan masalah, dan membuat keputusan dari informasi, maka mesin pun pasti bisa melakukannya. Atas dasar pemikiran itu, pada 1950 Alan Turing membuat makalah seputar upaya membangun mesin cerdas.
Itulah titik tolak pengembangan AI yang kemajuannya sangat pesat hingga kini. Salah satu model AI yang sempat menghebohkan dunia adalah Deep Blue IBM yang mampu mengalahkan juara dunia catur Gary Kasparov pada 1997.
Sistem AI juga bisa diterapkan di bidang medis, misalnya sistem bedah da Vinci. Sistem ini memanfaatkan teknologi robot untuk melakukan operasi yang lebih presisi, akurat, dan minim trauma pada pasien.
Dan kini, AI menjadi sistem super jenius yang dapat melakukan aktivitas manusia dengan hasil yang diluar dugaan dan ajaib. Menurut Alfian Akbar Gozali, dosen Telkom University, lompatan AI melebihi ekspektasi para pakar AI di seluruh dunia.
Ketakutan Tokoh Dunia
Terlepas dari manfaat besarnya, bahaya AI pun diingatkan oleh banyak para pesohor, termasuk penyanjung teknologi seperti Elon Musk, pendiri Tesla. Elon Musk bahkan menyebut AI dapat menyebabkan kehancuran peradaban.
Ketergantungan manusia terhadap AI terhadap berbagai aktivitas bisa membuat manusia lupa akan tugas-tugas sepele. Dia juga menyebut AI lebih bahaya dari nuklir. Pernyataan-pernyataan Elon Musk ini agak kontradiktif, jika mengingat produksi mobil canggihnya sangat bergantung pada AI.
Saking takutnya, Elon Musk dan lebih dari 33.000 pakar AI dunia menyerukan penghentian sementara selama enam bulan pada riset-riset AI raksasa. Menurut Alfian Akbar, mereka takut munculnya fenomena emergent ability dari AI generatif, yakni kemampuan yang muncul secara tiba-tiba dan tak terduga, yang bahkan tidak pernah diajari sebelumnya oleh manusia.
Yang lebih kontroversial justru kekhawatiran sosok yang selama ini dikenal sebagai bapak kecerdasan buatan, Geoffrey Hinton. Dia sempat bikin heboh mundur dari Google dan memperingatkan bahaya AI di masa depan, yang disebutkan bakal jauh lebih pintar melebihi kepintaran manusia. Bagi pria berusia 75 tahun itu, dampak AI bisa mengerikan.
Seperti juga pendapat Ursula, Hinton sepakat bahwa dampak dan risiko AI lebih berbahaya dibanding perubahan iklim.
Adapun pendiri Microsoft, Bill Gates, membayangkan kengeriannya jika AI kelak dipakai dalam sistem senjata dan untuk keperluan perang. Meskipun dia tetap percaya bahwa AI lebih banyak manfaatnya untuk berbagai kebaikan bagi umat manusia.
Bagaimana Indonesia?
Head of Education Ecosystem PT Telkom Indonesia Tbk, Sri Safitri dalam sebuah artikel menilai, Indonesia belum memiliki kapabilitas digital yang mencukupi untuk dapat bersaing di global, khususnya terkait AI. Sebagai salah satu negara dengan pengguna internet terbanyak dan memiliki prospek yang sangat baik masa depan, saat ini Indonesia baru berada di peringkat ke-50 dari 64 negara di peringkat Global AI Index. Jauh tertinggal dibanding Singapura yang berada di peringkat 3.
Global AI Index dikembangkan oleh Stanford University, dengan 5 parameter, yaitu kemajuan penelitian AI, kemajuan komersialisasi AI, kemajuan pendidikan AI, kemajuan regulasi AI, dan kemajuan kesadaran AI.
Selain itu, kata Sri Safitri, dalam Digital Competitiveness Ranking (DCR), Indonesia berada di peringkat 51 pada 2022. Peringkat ini mengacu pada tiga indikator, yakni pengetahuan, teknologi, dan kesiapan masa depan.
Sri Safitri berpendapat bahwa Indonesia harus segera menyiapkan talenta digital khususnya AI dan regulasi. Sejauh ini, pemerintah seperti kedodoran dalam membuat regulasi seputar kemajuan pesat digital, termasuk memagari ekses negatif yang mengiringi kemajuan digital.
Itu sebabnya, selain melengkapi regulasi, pemerintah harus banyak memberikan pelajaran kepada siswa sejak dini tentang AI atau membangun banyak startup AI, seperti ditempuh Amerika Serikat dan China.
Mengutip pernyataan Deputi BKPM Nurul Ichwan, selama ini pemerintah sering membuat roadmap industri yang disertai dengan roadmap teknologinya. Inilah yang membuat Indonesia akan selalu menderita ketergantungan teknologi dari negara lain. Jangan heran kalau nilai tambahnya pun dinikmati oleh negara lain pemilik teknologi. ***

