Pesan dari Davos: Pentingnya Memulihkan Kepercayaan (Bagian 1)
JAKARTA, investortrust.id— Pentingnya memulihkan kepercayaan masyarakat dunia yang terus menurun terhadap institusi global dan para pemimpin politik dunia adalah pesan utama dari pertemuan lima hari di Davos, Swiss. Defisit kepercayaan yang dialami para pengelola institusi global dan pemimpin politik dunia harus segera diatasi guna menghindari petaka yang lebih besar. Pengelola institusi global dinilai hanya mengejar profit. Penggunaan artificial intelligence (AI) yang masif hingga mendisrupsi bisnis yang menyerap banyak tenaga kerja merupakan bagian dari praktik kapitalisme yang buas. Sedang para kepala pemerintahan dinilai hanya mengutamakan pemuasan nafsu kekuasaan pribadi dan kelompok dengan mengobarkan permusuhan hingga perang terbuka.
Pertemuan para pemimpin dunia pada World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, berakhir, Jumat (19/01/2024). Mengusung tema “Restoring Trust in a Divided World”, Memulihkan Kepercayaan di Dunia yang Terpecah, para pemimpin dunia berdiskusi serius tentang solusi yang harus segera diambil untuk memperbaiki keadaan. Kepercayaan antar-negara, kepercayaan masyarakat terhadap institusi, dan kepercayaan rakyat terhadap pemimpin negara harus dibangun dan dipulihkan kembali. Manusia yang tinggal di bumi yang sama harus bisa bekerjasama untuk mewujudkan kesejahteraan dan kedamaian bagi semua orang dan generasi yang akan datang.
Kepercayaan adalah aspek sangat fundamental yang harus mendasari kerja sama berbagai pihak. Hanya dengan landasan kepercayaan, dialog untuk mencapai stabilitas keamanan bisa tewujud serta berbagai kemajuan ekonomi global bisa tercapai. Agar kepercayaan bisa terbangun, para pemimpin korporasi dan pemimpin negara harus menunjung tinggi etika, menjunjung tinggi transparansi, kejujuran, tanggung jawab, serta tunduk pada semua peraturan dan produk hukum yang sudah disepakati.
Pertemuan WEF ke-54 di Davos tahun ini dihadiri lebih dari 60 kepala negara dan kepala pemerintahan serta sekitar 300 menteri, pemimpin politik, pemimpin korporasi, pemimpin masyarakat, dan lebih dari 3.000 peserta dari berbagai kalangan, termasuk aktivis lingkungan, pengelola lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan aktivis perempuan. Pertemuan dan dialog dari hati ke hati diyakini sebagai salah satu solusi untuk membangun kembali kepercayaan.
Di salah satu dinding di arena WEF terpampang tulisan besar untuk menyambut para tamu, yakni “Membangun Kembali Kepercayaan”. Meski tidak mudah, para peserta datang dengan optimisme. “Yang mengejutkan saya adalah komitmen para peserta untuk tetap optimistis membangun kembali kepercayaan yang sudah tergerus,” kata Agnès Callamard, Sekretaris Jenderal Amnesty International sebagaimana dikutip Reuters.
Rangkaian diskusi selama 200 pertemuan di forum yang didirikan Klaus Martin Schwab tahun 1971 itu berfokus pada empat isu utama, yakni masalah geopolitik yang tidak stabil, pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja, kemajuan AI, dan perubahan iklim yang ekstrem akibat global warming. Mereka menyadari, keempat isu yang saling terkait ini tidak mungkin selesai di Davos. Tapi, paling tidak, di benak para pemimpin politik dan bisnis sudah ada secuil kesadaran untuk memperbaiki keadaan.
Dalam menghadapi sejumlah ancaman serius di depan mata, demikian Sekjen PBB Antonio Guterres, negara anggota PBB seperti tidak berdaya. Ancaman nyata itu ditimbulkan oleh perubahan iklim ekstrem yang tak terkendali, pengembangan kecerdasan buatan yang terus meningkat, dan krisis geopolitik.
Ketika kerusakan iklim mulai terjadi, banyak negara justru tetap berupaya meningkatkan emisi karbon. “Planet kita masih menuju peningkatan suhu global sebesar tiga derajat. Kekeringan, badai, kebakaran, dan banjir melanda berbagai negara dan masyarakat,” ujar Guterres.
Bumi Kian Panas
Bumi kian panas membakar. Perubahan iklim ekstrem akibat pemanasan global merupakan kekhawatiran terbesar dunia setidaknya satu dekade ke depan. Dalam Laporan Risiko Global 2024 yang disampaikan WEF disebutkan, misinformasi dan disinformasi adalah risiko jangka pendek, dua-tiga tahun ke depan. Namun empat risiko paling parah dalam sepuluh tahun ke depan adalah cuaca ekstrem, perubahan penting pada sistem bumi, hilangnya keanekaragaman hayat dan runtuhnya ekosistem, serta kekurangan sumber daya alam. Polusi juga masuk dalam sepuluh besar risiko paling parah.
Yang memprihatinkan, laporan ini menunjukkan, kerja sama dalam menghadapi isu global yang mendesak akan semakin terbatas. Laporan ini menekankan pentingnya kolaborasi dan tindakan nyata mengatasi perubahan iklim dan kerusakan alam. Krisis perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati merupakan salah satu risiko paling parah yang harus dihadapi dunia. Kondisi ini tidak dapat diatasi hanya oleh satu negara.
Dunia baru saja melewati tahun terpanas dalam sejarah, 2023. Sumber penghidupan dan mata pencaharian hancur akibat gelombang panas yang membakar serta bencana banjir dan badai yang menyapu. “Jika kita tidak segera mengambil tindakan, ancaman ini akan semakin parah dan semakin mendekatkan kita pada kerusakan permanen yang menimpa masyarakat dan ekosistem,” kata Kirsten Schuijt, Direktur Jenderal World Wide Fund for Nature (WWF).
Laporan Risiko Global WEF tahun 2024 (The WEF Global Risks Report 2024) menunjukkan, dari lima kategori risiko, cuaca ekstrem menempati peringkat pertama. Sekitar 66% dari 1.500 ahli di dunia yang disurvei Global Risks Perception Survey (GRPS) menyatakan cuaca ekstrem adalah risiko paling tinggi. Kedua, 53%, adalah misinformasi dan disinformasi yang disebabkan oleh meluasnya penggunaan AI. Ketiga, 46%, adalah polarisasi kelompok sosial dan politik dan kondisi ini akan mengeras di tahun pemilu. Keempat, 42%, adalah krisis biaya hidup. Kelima, adalah cyber attack atau serangan cyber. Ada lagi risiko lainnya seperti perlambatan pertumbuhan ekonomi (33%), disrupsi rantai pasokan (25%), eskalasi ketegangan geopolitik yang berdampak pada perang terbuka, serangan terhadap infrastruktur vital (19%), dan sebagainya (lihat infografis).
Risiko lingkungan terus mendominasi lanskap risiko, dengan dua pertiga pakar global mengkhawatirkan kejadian cuaca ekstrem pada tahun 2024. Cuaca ekstrem, perubahan kritis pada sistem bumi, hilangnya keanekaragaman hayati dan runtuhnya ekosistem, kekurangan sumber daya alam, dan polusi mewakili lima dari 10 risiko paling parah yang diperkirakan akan dihadapi pada dekade mendatang.
WWF menyatakan keprihatinannya setelah melihat berbagai negara, terutama negara maju, kurang menunjukkkan komitmen untuk memenuhi target penurunan emisi karbon pada tahun 2030 berdasarkan Kerangka Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal, Perjanjian Paris dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB (The Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework, Paris Agreement and UN Sustainable Development Goals. WWF prihatin karena kecepatan dan skala tindakan tidak sesuai dengan perjanjian.
Perjanjian Paris bertujuan untuk menjaga peningkatan rata-rata suhu global jauh di bawah 2°C dari kenaikan suhu pra-industri dan mengupayakan untuk membatasi kenaikan suhu hingga 1,5°C di atas tingkat pra-industri. Untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5°C, emisi gas rumah kaca harus mencapai puncaknya paling lambat sebelum tahun 2025 dan menurun sebesar 43% pada tahun 2030.
Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030, yang diadopsi oleh negara-negara anggota PBB pada tahun 2015, mengacu pada 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). PBB dalam evaluasi terbaru menemukan adanya kemajuan di beberapa bidang, namun secara umum, SDGs berada dalam bahaya. Karena setengah dari 17 target SDGs menunjukkan penyimpangan, mulai dari penyimpangan sedang hingga berat.
Kegiatan bisnis berperan penting dalam mencapai tujuan yang ditetapkan oleh Kerangka Keanekaragaman Hayati Global dan Perjanjian Paris. Dengan menggunakan kerangka penetapan target, seperti Inisiatif Target Berbasis Sains dan Jaringan Target Berbasis Sains, dunia usaha dapat mengurangi dampak negatif terhadap iklim dan alam. Rangkaian Filter Risiko WWF dapat membantu perusahaan menilai dan mengurangi risiko terhadap alam. Lebih dari satu juta lokasi telah diunggah oleh lebih dari 10.000 pengguna terdaftar. Terdapat lebih dari satu juta tempat di dunia yang menunjukkan para pelaku bisnis lebih memahami dampak dan ketergantungan terhadap keanekaragaman hayati dan air.
Akibat perubahan iklim akan ada tambahan 14,5 juta kematian dan kerugian ekonomi global sebesar US$ 12,5 triliun di tahun 2050. Laporan bertajuk 'Mengukur Dampak Perubahan Iklim terhadap Kesehatan Manusia' —yang dikembangkan WEF bekerja sama dengan Oliver Wyman— menganalisis krisis iklim melalui sudut pandang baru dengan memberikan gambaran rinci mengenai dampak tidak langsung perubahan iklim terhadap kesehatan manusia dan perekonomian global.
“Dampak paling cepat dari kenaikan suhu bumi adalah kesehatan manusia dan sistem perawatan kesehatan global,” kata Shyam Bishen, kepala dari Pusat Kesehatan dan Kesehatan dan Anggota Komite Eksekutif di Forum Ekonomi Dunia. Menurut dia, kemajuan yang dicapai saat ini akan hilang kecuali langkah-langkah pengurangan emisi dan mitigasi yang penting ditingkatkan. Selain itu, ada tindakan yang tegas untuk membangun sistem kesehatan yang berketahanan iklim dan mudah beradaptasi.
Kepala Pusat Kesehatan dan Layanan Kesehatan World Economic Forum, Shyam Bishen berbicara di depan audiens saat sesi "Menatap Dunia Tanpa Antibiotik" pada Pertemuan Tahunan World Economic Forum 2024, (16/01/2024). Foto: World Economic Forum/Jakob Polacsek.
Laporan ini menjelaskan dampak perubahan iklim terhadap kesehatan dan biaya ekonomi terhadap sistem layanan kesehatan, yang diperkirakan akan bertambah US$ 1,1 triliun pada tahun 2050. Analisis ini didasarkan pada skenario yang dikembangkan oleh Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) mengenai kemungkinan besar kenaikan suhu rata-rata bumi, 2,5° hingga 2,9° C dibandingkan suhu pra-industri.
Banjir diketahui mempunyai risiko akut tertinggi terhadap kematian akibat perubahan iklim, yang menyebabkan 8,5 juta kematian pada tahun 2050. Kekeringan, yang secara tidak langsung terkait dengan panas ekstrem, merupakan penyebab kematian tertinggi kedua, dengan perkiraan 3,2 juta kematian.
Gelombang panas menimbulkan dampak ekonomi terbesar, yaitu sekitar US$ 7,1 triliun pada tahun 2050 karena hilangnya produktivitas. Polusi udara diperkirakan menjadi penyumbang terbesar terhadap kematian dini sekitar 9 juta orang per tahun.
Perubahan iklim juga akan memicu peningkatan bencana pada beberapa penyakit yang sensitif terhadap iklim, termasuk penyakit yang ditularkan melalui vektor, yang kemungkinan besar akan berdampak pada wilayah yang sebelumnya tidak terlalu terkena dampak seperti Eropa dan Amerika Serikat. Pada tahun 2050, tambahan 500 juta orang mungkin berisiko terkena penyakit yang ditularkan melalui vektor, demikian temuan laporan tersebut.
“Krisis iklim adalah krisis kesehatan, dan hal ini mendorong lingkaran setan penyakit, kehancuran ekonomi, dan penderitaan. Jelas dari laporan ini bahwa kita masih belum memahami dampak penuhnya,” kata Vanessa Kerry, CEO Seed Global Health dan Utusan Khusus WHO untuk Perubahan Iklim dan Kesehatan.
“Jika kita gagal mengambil tindakan, jumlah kematian tidak hanya akan sangat besar, namun kita juga berisiko kehilangan kemajuan yang telah dicapai selama beberapa dekade. Negara-negara yang paling tidak mampu menanggung guncangan ini – dan yang berkontribusi paling sedikit terhadap emisi global – akan mengalami dampak buruk,” tambahnya.
Laporan tersebut memperingatkan umat manusia akan perubahan iklim yang semakin memperparah kesenjangan kesehatan global. Perempuan, pemuda, lansia, kelompok berpendapatan rendah, dan masyarakat yang sulit dijangkau layanan kesehatan adalah kelompok yang paling terkena dampaknya.
Kawasan seperti Afrika dan Asia bagian selatan menghadapi peningkatan kerentanan terhadap dampak perubahan iklim yang diperburuk oleh keterbatasan sumber daya yang ada, infrastruktur yang memadai, dan peralatan medis penting, yang semakin mempersulit kemampuan mereka untuk mengatasi dan beradaptasi terhadap tantangan lingkungan hidup.
Terlepas dari temuan-temuan yang mengejutkan ini, penelitian terbaru menunjukkan bahwa masih ada waktu bagi para pemangku kepentingan global untuk mengambil tindakan tegas dan strategis melawan perkiraan ini dan memitigasi dampak perubahan iklim terhadap kesehatan.
Pesimisme terhadap upaya menurunkan emisi karbon diungkapkan juga Sekjen PBB António Guterres. Suhu bumi kian panas meningkat 3 derajad C. Kekeringan, badai, kebakaran, dan banjir melanda berbagai negara. “Sebelum menghadiri perundingan iklim PBB pada COP28 di Dubai, saya sendiri melihat penyusutan pemandangan Himalaya yang dramatis dan percepatan pencairan lapisan es di Antartika,” katanya.
Di Swiss, gletser menghilang di depan mata kita. Sebagian gletser hilang selamanya. Di sejumlah negara, 10% hilang dalam dua tahun terakhir. “Perubahan yang begitu cepat seharusnya meresahkan kita semua. Tapi, nyatanya, 2023 adalah tahun terpanas yang pernah tercatat,” papar Guterres.
Suasana di luar ruangan pada Pertemuan Tahunan World Economic Forum 2024 di Davos-Klosters, Swiss, (14/01/2024). Foto: World Economic Forum.
Sebagai dilaporkan media massa, demikian Guterres, industri bahan bakar fosil AS kembali menggelontorkan dana kampanye jutaan dolar AS untuk menjaga agar minyak dan gas tetap mengalir tanpa batas.
Kendati demikian, fakta menunjukkan, semakin banyak korporasi yang berinvestasi di bisnis ramah lingkungan. Mark Carney, utusan khusus PBB untuk urusan iklim dan keuangan mengungkapkan, dirinya yakin agenda pembangunan keberlanjutan tidak luput dari agenda para investor besar.
Mantan gubernur Bank of England itu mengatakan bahwa investasi energi bersih tumbuh 50% tahun 2023 menjadi US$ 1,8 triliun, meningkat dari US$ 1,2 triliun pada tahun 2022. Ada lonjakan besar dalam investasi energi ramah lingkungan, dan kendaraan listrik di seluruh rantai pasokan. (Primus Dorimulu) -- Bersambung.

