Phishing dan Social Engineering Kuasai Serangan Siber Kripto, Ini Modus Terbarunya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kejahatan siber yang menyasar pengguna aset kripto terus berkembang dengan memanfaatkan rekayasa sosial (social engineering) dibandingkan membobol sistem teknologi. Platform perdagangan aset kripto INDODAX mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai maraknya modus phishing dan customer support (CS) palsu yang semakin sulit dikenali seiring pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Berdasarkan laporan keamanan Web3 dari Hacken, sepanjang kuartal I 2026 total kerugian akibat insiden keamanan di ekosistem Web3 mencapai sekitar US$ 482 juta. Dari jumlah tersebut, sekitar US$ 306 juta atau lebih dari 63% berasal dari serangan phishing dan social engineering, melampaui kerugian akibat eksploitasi smart contract maupun serangan teknis lainnya.
Chief Marketing Officer INDODAX, Aloysia Dian, mengatakan pola serangan siber saat ini lebih banyak menyasar kelemahan pengguna daripada sistem keamanan platform. Salah satu modus yang paling sering ditemukan adalah pelaku yang mengaku sebagai CS INDODAX untuk memperoleh informasi sensitif milik pengguna.
"Saat ini pelaku kejahatan siber tidak lagi hanya mencari celah pada sistem, tetapi juga mencari celah pada manusia. Modus CS palsu merupakan salah satu bentuk social engineering yang memanfaatkan rasa panik dan kepercayaan pengguna agar secara sukarela memberikan akses ke akun mereka," ujar Aloysia dalam keterangan tertulis dikutip Jumat (26/6/2026).
Baca Juga
INDODAX Gandeng Chainalysis Perkuat Keamanan dan Kepatuhan Industri Kripto
Menurutnya, perkembangan teknologi AI membuat modus penipuan semakin meyakinkan. Pelaku kini mampu membuat email, pesan instan, hingga komunikasi yang tampak profesional menggunakan AI generatif sehingga sulit dibedakan dengan komunikasi resmi perusahaan.
"Jika dahulu pesan penipuan relatif mudah dikenali karena banyak kesalahan penulisan, kini pelaku mampu membuat komunikasi yang sangat menyerupai pesan resmi perusahaan. Karena itu, kami selalu mengingatkan pengguna untuk melakukan verifikasi sebelum memberikan informasi apa pun terkait akun mereka," katanya.
Baca Juga
Dari Tren ke Strategi, INDODAX Nilai Pasar Kripto Kian Dewasa
Ancaman juga datang dari meningkatnya praktik QR phishing. Berdasarkan data Microsoft Threat Intelligence, volume serangan QR phishing meningkat sekitar 146% sepanjang kuartal I 2026, dari 7,6 juta serangan pada Januari menjadi 18,7 juta pada Maret. Dalam modus ini, pelaku mengarahkan korban menuju halaman login palsu melalui kode QR yang disisipkan dalam email atau dokumen yang tampak resmi.
Sebagai langkah mitigasi, INDODAX mengimbau pengguna untuk hanya menghubungi Customer Support melalui kanal resmi perusahaan, memastikan alamat situs yang diakses benar, serta mengaktifkan autentikasi berlapis (multi-factor authentication).
INDODAX juga menegaskan bahwa CS resmi tidak pernah meminta password, PIN, recovery code, maupun kode OTP, serta tidak pernah meminta pengguna mentransfer dana ke rekening pribadi. Selain itu, perusahaan menegaskan tidak memiliki layanan CS resmi melalui WhatsApp. Pengguna yang menerima pesan dari pihak yang mengaku sebagai CS INDODAX melalui WhatsApp diminta segera menghentikan komunikasi dan melakukan verifikasi melalui kanal resmi perusahaan.

