Rupiah Melemah pada Awal Perdagangan Selasa
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah terdepresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (24/2/2026). Rupiah melemah tipis 0,18% terhadap dolar AS pada pukul 09.19 WIB. Sejumlah mata uang negara mitra dagang Indonesia juga mengalami pelemahan pada hari ini. Yen Jepang melemah 0,25%. Pelemahan juga diikuti ringgit Malaysia sebesar 0,17%, dolar Singapura melemah sebesar 0,09%, dan baht Tailan melemah sebesar 0,21%, serta peso Filipina melemah 0,2%.
Rupee India menunjukkan penguatan terhadap dolar AS. Rupee menguat 0,11%. Apresiasi juga terjadi pada dolar Hongkong yang menguat 0,01%. Sementara itu, euro Uni Eropa melemah 0,05% dan poundsterling Britania Raya melemah 0,03%.
Baca Juga
Rupiah Menguat di Awal Pekan, Terbantu Ketidakpastian Tarif yang Menyeret Depresiasi Dolar AS
Kelapa Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun ke 4,03%, level terendah dalam hampir tiga bulan. Ini terjadi seiring munculnya kekhawatiran baru terkait disrupsi kecerdasan buatan (AI) terhadap perekonomian dan ketidakpastian kebijakan perdagangan Gedung Putih yang mendorong pasar beralih ke aset yang lebih aman.
Penurunan tajam saham di sektor layanan perangkat lunak dan pembayaran mencerminkan kekhawatiran bahwa kemajuan teknologi AI akan menggantikan berbagai industri secara tidak terduga, sehingga dana investasi beralih ke obligasi pemerintah AS. "Meski demikian, imbal hasil obligasi tenor pendek turun relatif lebih kecil karena pasar mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve," ucapnya dikutip Selasa (24/2/2026).
Baca Juga
Andry melihat sejumlah ekonomi utama Eropa dan Asia mempertimbangkan untuk menangguhkan implementasi perjanjian dagang yang telah disepakati dengan AS. Ini terjadi setelah pemerintahan Presiden AS, Donald Trump berupaya memberlakukan kembali tarif melalui berbagai skema darurat ekonomi terkait neraca pembayaran.
Langkah ini menyusul keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat (SCOTUS) yang membatalkan tarif berdasarkan International Emergency Economic Powers Act (IEEPA) pada Jumat lalu.
Indeks DXY bertahan di kisaran 97,8, memangkas pelemahan awal dan tetap berada dekat level tertinggi dalam satu bulan, seiring pasar global menilai kembali apakah perkembangan kebijakan perdagangan AS akan secara signifikan mengubah neraca pembayaran.
Pesanan baru barang manufaktur AS turun 0,7% dibanding bulan sebelumnya menjadi US$ 617,5 miliar (disesuaikan secara musiman) pada Desember 2025, setelah mencatat pertumbuhan tertinggi enam bulan sebesar US$ 621,9 miliar pada bulan sebelumnya, dan relatif sejalan dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan kontraksi 0,5%.

