Rupiah Melemah di Awal Perdagangan, Pasar Tunggu Data Tenaga Kerja AS
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Rupiah dibuka melemah pada awal perdagangan Selasa (2/9/2025). Data Bloomberg menunjukkan rupiah turun 18 poin atau 0,11% ke posisi Rp 16.437 per dolar AS pada pukul 09.08 WIB.
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, pelemahan rupiah masih bersifat terbatas karena tekanan terhadap dolar AS cenderung berkurang. Ia menilai indeks dolar Amerika Serikat (DXY) yang turun ke 97,6, mendekati posisi terendah 1 bulan, berpotensi memberi ruang penguatan rupiah dalam jangka pendek.
“Hari ini, USDIDR diperkirakan bergerak di kisaran Rp 16.410 hingga Rp 16.504 per dolar AS,” kata Andry dalam keterangan resmi, Selasa (2/9/2025).
Baca Juga
JISDOR Tunjukkan Rupiah Ditutup Melemah Tipis Perdagangan Senin 1 September 2025
Menurut Andry, pelemahan DXY dipengaruhi sikap hati-hati pelaku pasar menjelang rilis laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat pekan ini. Data tersebut menjadi pertimbangan utama Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Selain itu, investor juga mencermati data inflasi berbasis pengeluaran konsumsi pribadi atau personal consumption expenditure (PCE) yang dirilis Jumat pekan lalu. Data tersebut mengonfirmasi bahwa tekanan harga masih berlangsung, sehingga menambah ketidakpastian arah pemangkasan suku bunga. “Meski begitu, pasar memperkirakan sekitar 88% kemungkinan The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada akhir bulan ini,” ujar Andry.
Faktor ekonomi dankKebijakan AS
Dari sisi kebijakan fiskal, Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyampaikan keyakinannya bahwa Mahkamah Agung akan menguatkan penggunaan Undang-Undang Kewenangan Ekonomi Darurat Internasional 1977. Aturan ini dapat menjadi dasar penerapan tarif resiprokal secara lebih luas.
Bessent juga disebut tengah menyiapkan dokumen hukum untuk memperkuat keseimbangan perdagangan jangka panjang, termasuk langkah membatasi impor fentanyl. Kebijakan tersebut diperkirakan akan menambah ketidakpastian pasar global dalam jangka menengah.
Baca Juga
Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin (1/9/2025) ditutup melemah 1,21% ke level 7.736,07. Tekanan jual asing tercatat cukup signifikan dengan nilai jual bersih Rp 2,2 triliun.
Sementara itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah rupiah tenor 10 tahun naik 5,10 basis poin menjadi 6,41%. Yield obligasi pemerintah dolar tenor 10 tahun juga meningkat tipis 0,6 basis poin ke 5,1%. Kondisi ini mencerminkan sikap hati-hati investor terhadap ketidakpastian global yang masih tinggi.

