BSI Sukses Jaga Momentum Setelah Merger, Begini Rasio Keuangannya
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) sukses menjaga momentum positif kinerja bisnisnya setelah merger. Hal itu tercermin pada berbagai rasio keuangan perseroan yang makin kinclong.
“BSI mencapai level profitabilitas yang baru, didukung oleh perbaikan kualitas aset dan efisiensi biaya,” kata Direktur Utama BSI, Hery Gunardi dalam acara buka puasa bersama pemimpin redaksi media massa di Jakarta, Senin (18/3/2024).
BSI merupakan bank hasil merger antara PT Bank BRIsyariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri, dan PT Bank BNI Syariah. Merger ketiga anak usaha bank BUMN ini disetujui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 27 Januari 2021. BSI diresmikan Presiden Jokowi pada 1 Februari 2021.
Baca Juga
Pemegang saham BSI terdiri atas PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dengan kepemilikan masing-masing 50,83%, 24,85%, dan 17,25%. Sisanya merupakan pemegang saham dengan kepemilikan di bawah 5%.
Hery Gunardi mengungkapkan, setelah merger, bank yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan sandi saham BRIS itu menorehkan kinerja keuangan yang amat meyakinkan.
Pada 2021, laba bersih BSI tembus Rp 3,02 triliun, tumbuh 38,39% dibanding 2020 (year on year/yoy). Laba bersih BSI menjadi Rp 4,26 triliun pada 2022,melonjak 40,69% (yoy). Pada 2023, laba bersih BSI kembali melesat 33,90% (yoy) menjadi Rp 5,70 triliun.
Pertumbuhan laba bersih BSI, menurut Hery, diikuti pertumbuhan margin pendapatan sebesar 81,15% pada 2021 (yoy), 80,75% pada 2022 (yoy), dan 79,54% pada 2023 (yoy). Sejalan dengan itu, pendapatan berbasis biaya (fee based income) BSI tumbuh masing-masing 18,85%, 19,25%, dan 20,46%.
“Dengan demikian, pada periode tersebut, BSI mencatatkan compound annual growth rate (CAGR) untuk margin income dan fee base income masing-masing sebesar 10,96% dan 12,24%,”ujar dia.
Manajemen Risiko Prudent
Hery Gunardi menjelaskan, dari sisi biaya kredit (cost of credit), kebijakan manajemen risiko yang hati-hati (prudent) dan didukung fokus sektor pembiayaan yang sehat telah menciptakan kualitas pembiayaan yang lebih baik.
Dia menambahkan, cost of credit BSI pada 2020 mencapai 2,60%, turun menjadi 2,36% pada 2021. Cost of credit BSI kembali berkurang menjadi 1,97% pada 2022 dan turun lagi menjadi 1,14% pada 2023.
Baca Juga
Adapun dari sisi biaya dana (cost of fund/CoF), kata Hery Gunardi, perbaikan pada struktur dana murah (current account saving account/CASA) dan pertumbuhan akuisisi nasabah turut membantu perseroan terus menjaga pertumbuhan CoF.
“Pada 2020, 2021, 2022, dan 2023, CoF BSI melandai masing-masing dari 2,70% menjadi 2,03%, 1,62%, dan 2,13%,” tutur dia.
Rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio/CIR) BSI juga dalam tren yang baik. BSI memiliki CIR 53,74% (2020), 52,57% (2021), 51,01% (2022), dan 49,86% (2023). “CIR BSI masih berpotensi turun,” tandas dia.
