Pinhome Catat Tren “Tenor Stretching” KPR, Plafon Kredit Turun ke Bawah Rp 600 Juta
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Segmen kredit pemilikan rumah (KPR) menunjukkan dinamika baru sepanjang 2025. Platform properti seperti Pinhome mencatat adanya fenomena tenor stretching, yaitu kecenderungan perbankan menawarkan tenor KPR lebih panjang yang disambut positif oleh konsumen.
CEO & Founder Pinhome Dayu Dara Permata mengungkapkan, tren ini terlihat dari meningkatnya minat terhadap KPR dengan tenor 20 tahun atau lebih.
“Satu fenomena yang kami amati dari data internal Pinhome adalah adanya fenomena tenor stretching, yaitu kebijakan untuk baik dari sisi perbankan juga menawarkan program dengan tenor yang lebih panjang atau masa pinjam yang lebih panjang,” ujarnya, dalam Media Talk Show, di Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Di sisi bersamaan, hal tersebut disambut baik oleh konsumen dengan preferensi tenor 20 tahun bahkan lebih. Ini membantu meningkatkan approval rate KPR sekaligus meringankan cicilan bulanan bagi konsumen.
Data internal Pinhome menunjukkan, lanjut Dara, pertumbuhan signifikan terjadi apda dua tipe produk KPR, yaitu KPR bunga tetap (fix) sepanjang tenor serta skema fix and float.
Baca Juga
Properti Tetap Menarik di Tengah Kondisi Ketidakpastian, Ini Kata Pinhome dan Bank Muamalat
“Di kedua segmen produk tersebut tetap terjadi peningkatan, berarti 200% untuk tenor fix, serta sekitar 100% jadi double di fix and float,” katanya.
Di lain sisi, Pinhome juga mencatat penurunan rata-rata plafon kredit atau average ticket size KPR. Sempat meningkat dari Rp 700 juta ke Rp 720 juta, plafon KPR kini turun ke bawah Rp 600 juta. Menurut Dara, ada dua kemungkinan yang memicu tren ini.
“Pertama adalah konsumen mungkin membayar DP lebih tinggi. Tapi kemungkinan yang lebih adalah memang mereka membeli properti yang lebih murah dan sehingga tercermin di plafonnya juga yang sedikit menurun,” ucapnya.
Baca Juga
Dara melihat, kisaran harga properti di bawah Rp 1 miliar masih menjadi pilihan utama. Penurunan plafon ini juga mengindikasikan kehati-hatian konsumen. Mereka ingin memastikan cicilan tetap aman apabila terjadi perubahan kondisi ekonomi.
Dari sisi preferensi jenis properti, KPR rumah second atau residensial sekunder semakin diminati, terutama pada semester II 2025. Hal ini seiring meningkatnya inventori rumah second dan fleksibilitas harga dari pemilik properti individu.
“Diiringi dengan kesediaan untuk menurunkan harga dari sisi pemilik properti, ditandai dengan banyaknya properti berlabel dijual cepat, butuh uang, maka KPR di rumah second juga semakin diminati,” ujar Dara.
Menurutnya, secara musiman pada kuartal III 2025 masih didominasi KPR primer, sejalan dengan agresivitas promosi developer pada periode puncak penjualan properti. Namun pada kuartal IV 2025, segmen sekunder kembali menguat di tengah tantangan makroekonomi dan sikap wait and see masyarakat.
Selain KPR baru, tren KPR takeover juga menunjukkan peningkatan pada semester II 2025 dibandingkan semester I. Dara menjelaskan, konsumen memanfaatkan produk ini untuk pindah bank, mengubah tenor, mengganti skema konvensional ke syariah atau sebaliknya, hingga melakukan top up.
Strategi tersebut, juga menjadi cara konsumen menyiasati biaya transaksi akibat perubahan program KPR.
“Ketika ada perubahan program atau perpindahan dari satu bank ke bank yang lain, pasti ada biaya transaksi yang harus dibayarkan, karena mereka membutuhkan likuiditas, mereka upayakan biaya ini di cover dari KPR-nya itu sendiri,” kata Dara.
