Pindar Dinilai Perlu Ditingkatkan untuk Dorong Kegiatan Produktif Masyarakat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Segara Research Institute menyatakan bahwa peran pembiayaan digital atau daring (pindar) dalam mendorong kegiatan produkif masyarakat perlu ditingkatkan.
Direktur Eksekutif Segara Research Institute Piter Abdullah mengungkapkan, hambatan terbesar bagi perkembangan pembiayaan digital bukan pada besarnya suku bunga, melainkan pada stigma yang disebabkan oleh keterbatasan pemahaman masyarakat atas pembiayaan digital.
"Dengan pertimbangan tersebut, dalam rangka mendorong pembiayaan digital, direkomendasikan hal-hal sebagai berikut, pertama adalah memperkuat kebijakan pembatasan suku bunga dengan kebijakan-kebijakan fiskal dan moneter yang dapat meningkatkan likuiditas perekonomian, yang pada gilirannya akan mendorong terbentuknya suku bunga yang efisien dan kompetifif," ujar Piter dalam acara Media Gathering Segara Research Institute Peluncuran Hasil Survei Potret Sumber Pembiayaan dan Perilaku Peminjam di Indonesia di Seribu Rasa, Menteng, Jakarta, Selasa (9/12/2025).
Baca Juga
Kemudian, dalam rangka perlindungan konsumen, Piter menjelaskan bahwa regulator hendaknya meningkatkan edukasi dan melakukan regulasi yang melarang praktik skema tadpole. Menurut Piter, regulasi tersebut hendaknya mendefinisikan secara tegas skema pembayaran yang dikategorikan sebagai skema tadpole.
"Misalnya, memasukkan porsi fee yang sangat besar di awal pinjaman secara tidak transparan dikategerikan sebagai skema tedpole yang merugikan nasabah," ungkap Piter.
Lebih lanjut, Piter merekomendasikan untuk meningkatkan upaya edukasi masyarakat terkait pambiayaan digital khususnya dalam membedakan pindar dan pinjol. Sehingga, stigma tentang pembiayaan digital dapat diminimalkan atau bahkan dihapuskan.
"Terakhir, meningkatkan penegakkan hukum dalam rangka perlindungan konsumen atas kasus-kasus pidana yang dilakukan oleh pembiayaan digital ilegal (pinjol)," jelas Piter.
Baca Juga
Sementara itu, Ketua Bidang Humas Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Kuseryansyah menuturkan bahwa pindar adalah jembatan yang realistis jika ingin menaikkan inklusi dari 75% menuju 90-100%. Terlebih menurut Kuseryansyah, pindar terbukti menjadi pilar akses keuangan baru.
"Temuan riset ini menunjukkan 29,37% responden memilih pindar, bahkan lebih dari 50% di provinsi besar," terang Kuseryansyah.
Kuseryansyah menambahkan, data tersebut mengonfirmasi transformasi besar perilaku masyarakat digital first borrowing. Dikatakan Kuseryansyah, pindar melengkapi, bukan menggantikan perbankan dan koperasi.
"Denga profil responden mayoritas 21-30 tahun dan pendapatan Rp 5 juta, pindar menjadi entry point ke layanan keuangan formal," pungkas Kuseryansyah.
Sebelumnya diberitakan, Survei Potret Sumber Pembiayaan dan Perilaku Peminjam di Indonesia pada Juni-Juli 2025 melaporkan bahwa terdapat ketergantungan responden yang tinggi pada sumber pembiayaan (tempat meminjam) kepada keluarga, pinjaman daring (pindar) dan teman pada saat mengalami defisit keuangan. Meminjam ke keluarga menjadi pilihan yang paling banyak digunakan oleh responden, yakni sebesar 39,05%, diikuti oleh pindar dengan 29,37% dan pinjam ke teman sebesar 19,74%.

