Hindari Penipuan, Literasi Keuangan Digital Perlu Ditingkatkan
JAKARTA, investortrust.id – Bank Indonesia (BI) telah menggelar berbagai inisiatif kegitan untuk mendorong kemajuan sistem pembayaran digital pada optimalisasi QRIS di Indonesia. Kegiatan tersebut sangat dibutuhkan, karena ada gap antara tingkat literasi dan inklusi keuangan di Indonesia.
Demikian penjelasan Kepala Group Pengembangan UMKM dan Perlindungan Konsumen BI Diana Yumanita saat menghadiri gelar literasi keuangan digital melalui dialog inspiratif terkait optimalisasi quick response code Indonesian Standard (QRIS) yang diprakarsai AstraPay menggandeng Bank Indonesia (BI) di Jakarta, Kamis (13/6/2024).
Baca Juga
OJK Tekankan Pentingnya Literasi Keuangan Bagi Generasi Muda, Kunci Siapkan Masa Depan dengan Baik
“Salah satu kelebihan yang sudah bisa dirasakan adalah transaksi menggunakan QRIS dapat dilakukan di lintas negara, seperti Malaysia, Thailand, dan yang terbaru di Singapura,” ujar Kepala Group Pengembangan UMKM dan Perlindungan Konsumen BI Diana Yumanita di Jakarta, Kamis (13/6/2024).
Sering dengan perkembangan pesat pada sistem pembayaran digital, dia mengatakan, literasi keuangan digital menjadi tantangan yang harus diatasi. Hal ini bertujuan agar masyarakat dapat memahami manfaat dan hal-hal lain yang perlu diperhatikan dari penggunaan sistem pembayaran digital.
“Tanpa pemahaman yang memadai, masyarakat bisa rentan terhadap penipuan, penyalahgunaan data dan masalah keamanan lainnya,” kata Diana.
Saat ini, lanjut Diana, masih terdapat gap antara tingkat literasi dan inklusi keuangan di Indonesia. Sebelumnya, Gubernur BI, Perry Warjiyo telah mengarahkan kebijakan sistem pembayaran melalui penguatan literasi aset digital serta manajemen risiko bagi penyelenggara dan masyarakat.
Baca Juga
OJK: Literasi Keuangan Perempuan Lebih Unggul 50,33% dari Laki-Laki
“Sistem pembayaran digital di Indonesia diharapkan dapat semakin kuat, karena memberikan dampak positif bagi ekonomi nasional. Hal ini terlihat dari volume transaksi QRIS yang mencapai Rp 459,4 triliun pada 2023,” ucapnya.
Sementara itu, Komisaris AstraPay Peter Jacobs mengatakan, pemahaman terhadap literasi keuangan digital yang baik tentunya akan membantu masyarakat dalam memilih produk layanan digital, terhindar dari penipuan dan ancaman digital serta meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dari penyedia layanan digital.
Sementara tu, Chief Executive Officer (CEO) AstraPay, Rina Apriana menyebutkan, seiring dengan penerapan QRIS sebagai metode pembayaran di masyarakat, pihaknya terus memberikan pelayanan terbaik.
“AstraPay turut hadir mendukung optimalisasi penggunaan QRIS yang lebih masif untuk sejumlah merchant, khususnya bagi para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM),” ucap Rina.

