Rupiah Menguat di Akhir Oktober 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah menguat 15 poin pada akhir perdagangan Jumat (31/10/2025). Pada akhir bulan ini, rupiah menguat di level Rp 16.625 per US$.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi menjelaskan sentimen pemangkasan FFR oleh the Fed sebesar 25 basis poin (bps) ke 3,75%-4%. Namun, keputusan pemangkasan tersebut mengisyaratkan ketidakpastian.
Ketua the Fed, Jerome Powell menyebut pemangkasan pada Desember 2025 masih jauh dari pasti. Komentarnya, mendorong imbal hasil obligasi pemerintah dan indeks dolar AS yang lebih tinggi.
Baca Juga
Rupiah Menguat Tipis, Dolar AS Melemah Terhadap Sebagian Besar Mata Uang
Pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping tidak mendorong sikap analis mengenai potensi penurunan tarif perdagangan kedua negara. Trump menepis kemungkinan sanksi terhadap China atas pembelian minyak Rusia, yang menandakan sedikit gangguan pada pasokan global.
Dua presiden tersebut sepakat untuk memangkas tarif 10% atas impor yang terkait fentanil. Sementara itu, China sepakat membeli kedelai AS dan menghentikan sementara pembatasan ekspor logam tanah jarang.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan mengenai indeks manufaktur (PMI) China yang terkontraksi 49 pada Oktober. Ini menjadi level terendah dalam enam bulan dan di bawah ekspektasi.
Sementara itu, indeks saham Jepang, Nikkei tercatat naik 2,1% ke level 52.411. Saham Jepang melonjak ke rekor tertinggi baru dipimpin saham eksportir dan teknologi karena investor semakin optimis terhadap peluang AI dan stimulus fiskal agresif yang dilakukan Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi.
Baca Juga
Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0,2% ke level 8.164 akibat tertekan pelemahan di sektor industri serta properti dan real estate.
Investor tengah menantikan serangkaian rilis data ekonomi utama Indonesia pekan depan, termasuk PDB kuartal III 2025, inflasi, neraca perdagangan, dan data PMI. Indikator-indikator tersebut diharapkan memberikan gambaran mengenai bagaimana kebijakan pemerintah dan stimulus fiskal terbaru memengaruhi perekonomian secara keseluruhan.
Data imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun naik 3,0 bps menjadi 6,08%, sementara imbal hasil obligasi pemerintah USD tenor 10 tahun (INDON) naik 1,2 bps menjadi 4,9%.
Kepemilikan asing atas obligasi pemerintah per 30 Oktober 2025 tercatat sebesar Rp 880,5 triliun atau sekitar 13,62% dari total outstanding. Posisi perdagangan rupiah pada pukul 17.00 WIB, dengan kisaran perdagangan antara Rp 16.600 – 16.634 per US$.

