Rupiah Ditutup Menguat di Akhir Perdagangan Pekan Ketiga Oktober 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah ditutup menguat di akhir perdagangan Jumat (24/10/2025). Rupiah menguat 15 poin ke posisi Rp 16.630 per US$ dibandingkan penutupan Kamis (23/10/2025) yang sebesar Rp 16.645 per US$.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi menjelaskan penguatan rupiah ditopang oleh melemahnya indeks dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini dipengaruhi rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan, pekan depan. Pertemuan ini diharapkan menjadi tanda mencairnya perdagangan antara dua negara.
“Para pedagang juga bersikap hati-hati menjelang penundaan rilis indeks harga konsumen (IHK) AS untuk September,” kata Ibrahim.
Sementara itu, Partai Komunis China meluncurkan rencana ekonomi lima tahun yang baru. Rencana ini menekankan manufaktur canggih, kemandirian teknologi, dan permintaan domestik yang lebih kuat.
“Kerangka kebijakan tersebut memperkuat optimisme bahwa Beijing berkomitmen untuk mempertahankan pertumbuhan melalui reformasi struktural dan inovasi,” ujar dia.
Baca Juga
The Fed dan Geopolitik Jadi Ujian, Rupiah Masih Perkasa di Pasar 'Spot'
Bank Indonesia (BI) menyatakan akan menyesuaikan aturan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) terbaru bagi eksportir. Aturan ini memungkin menambah pasokan valuta asing (valas) sehingga mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.
Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juli Budi Winantya Ke depan, BI berkomitmen akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Intervensi akan dilakukan apabila diperlukan, tidak hanya di satu pasar saja, tapi juga melalui pasar spot, pasar forward domestik, maupun pasar offshore.
“Jadi prospek nilai tukar ke depan diharapkan stabilitasnya tetap terjaga,” kata Juli saat taklimat media di Bukittinggi, Jumat (24/10/2025).
Juli menjelaskan dengan ketidakpastian global, nilai tukar sebetulnya tetap stabil. Meski terjadi outflow dari non-residen, BI tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Untuk menjaga rupiah, BI menjual valas di pasar valas untuk mengurangi volatilitas nilai tukar. Itu dilakukan secara spot maupun forward, baik di dalam negeri dengan DNDG maupun di luar negeri melalui NDF.

