Pertumbuhan Kredit Melambat, Bos BI Singgung Bank Parkir Dana di Obligasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) menyoroti melambatnya pertumbuhan kredit yang disalurkan oleh perbankan. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, perbankan semestinya tidak memiliki kendala terkait dengan likuiditas. Pasalnya ia mencatat Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) cukup tinggi, yakni 27,05% pada Juni 2025.
Perry meyakini, melambatnya pertumbuhan kredit justru disebabkan oleh perbankan yang memiliki memarkin dananya pada surat berharga atau obligasi.
"Permasalahannya adalah preferensi bank lebih suka menaruh preferensi alat likuid itu pada surat-surat berharga. Dan ya, terlalu berhati-hati dalam mendorong kredit, mengalokasikan alat likuid ke kredit," katanya dalam rapat dewan gubernur (RDG) BI secara daring, Rabu (16/7/2025).
Ia menambahkan, minimnya penawaran dari perbankan terhadap akses likuiditas ternyata di satu sisi dibarengi dengan menurunnya permintaan dari pelaku industri. Baginya, bank sentral menyadari terdapat banyak sektor hari ini belum mengalami pertumbuhan yang tinggi sehingga berdampak pada permintaan kredit itu sendiri.
Menurutnya sektor-sektor yang mendorong permintaan kredit tinggi biasanya memiliki orientasi ekspor. Sedangkan dari dalam negeri, sektor konstruksi, transportasi, perdagangan, serta jasa, biasanya menyumbang angka tertinggi untuk permintaan kredit.
"Nah ini tentu saja bersama dari Bank Indonesia, pemerintah dan juga dunia usaha tentu saja bersama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, kenapa dengan tadi suku bunga BI kita turunkan likuiditas terus kita tambahkan dalam dan juga dalam strategi operasi moneter kita," ungkapnya.
Untuk mengatasi melambatnya pertumbuhan kredit, Perry memastikan BI tidak hanya memangkas suku bunga BI Rate, melainkan suku bunga bank dengan tenor sampai 12 bulan akan ikut turun.
Baca Juga
Pada saat yang bersamaan, BI juga mendorong perbankan untuk mengalokasikan likuiditas kepada kredit khususnya bagi dunia usaha.
"Yuk kita sama-sama mendorong kredit. Dan mari kita bersama-sama mendorong pertumbuhan ekonomi untuk negara kita dan juga untuk kesejahteraan rakyat," tandas Perry.
Pertumbuhan Kredit Perbankan Melambat per Juni 2025
BI mencatat pertumbuhan kredit perbankan pada Juni 2025 melambat menjadi 7,77% secara tahunan (year on year/yoy), lebih rendah dibanding Mei 2025 yang tumbuh 8,43% yoy.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, perlambatan ini dipengaruhi oleh sikap perbankan yang lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit.
"Perkembangan ini dipengaruhi oleh perilaku bank yang cenderung berhati-hati dalam menyalurkan kredit," ujarnya.
BI mencatat pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang meningkat menjadi 6,96% yoy mendorong bank menempatkan dana pada surat berharga dibanding menyalurkan kredit ke sektor riil. Di sisi lain, permintaan kredit juga masih terbatas karena aktivitas ekonomi yang perlu terus diperkuat.
Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 12,53% yoy, diikuti kredit konsumsi sebesar 8,49% yoy, dan kredit modal kerja sebesar 4,45% yoy pada Juni 2025.
Sedangkan untuk pembiayaan syariah tumbuh 8,37% yoy. Namun, pertumbuhan kredit untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tercatat masih rendah, hanya 2,18% yoy.

