Pertumbuhan Kredit Perbankan Maret 2025 Melambat, NPL Terjaga di 2,17%
JAKARTA, investortrust.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, pertumbuhan kredit perbankan pada Maret 2025 tercapai sebesar 9,16% (yoy) menjadi Rp 7.908,4 triliun. Jumlah ini terhitung melambat jika dibandingkan periode sama tahun lalu yang menunjukkan pertumbuhan 12,4% (yoy).
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menjelaskan, pertumbuhan kredit periode ini didorong oleh kredit investasi yang tumbuh 13,36% (yoy), diikuti kredit konsumsi sebesar 9,32% (yoy). Sedangkan kredit modal kerja tumbuh sebesar 6,51% (yoy) per Maret 2025.
“Kinerja intermediasi perbankan tumbuh positif dengan profil risiko yang terjaga,” klaim Mahendra dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala KSSK II Tahun 2025 secara daring, Kamis (24/4/2025).
Baca Juga
Ini Alasan OJK Wajibkan Agunan untuk Pembiayaan Fintech Lending di Atas Rp 2 Miliar
Sementara itu, kualitas kredit cukup terjaga dengan rasio non performing loan (NPL) gross sebesar 2,17% dan NPL net sebesar 0,8%. Loan at Risk (LaR) juga relatif stabil pada periode yang sama, yakni 9,86% dari 9,77% pada Februari 2025.
Di sisi lain, dana pihak ketiga (DPK) perbankan tercatat tumbuh 4,75% (yoy) menjadi Rp 9.010 triliun, dengan giro, tabungan, dan deposito masing-masing tumbuh sebesar 4,01%, 7,74%, dan 2,89% (yoy).
Baca Juga
Literasi Keuangan Digital Masih di Bawah 50%, OJK: Jadi PR Bersama
Mahendra juga menilai, ketahanan perbankan terjaga kuat dengan tingkat permodalan atau capital adequacy ratio (CAR) pada Maret 2025 yang berada di level tinggi yakni sebesar 25,43%.
Likuiditas perbankan pada Maret 2025 juga dianggap memadai dengan rasio alat likuid/non-core deposit (AL/NCD) dan alat likuid/DPK (AL/DPK) masing-masing tercatat sebesar 116,05% dan 26,22%. Level ini, jauh di atas threshold masing-masing sebesar 50% dan 10%.
“Stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Hal tersebut didukung oleh permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, profil risiko yang terkelola, serta kinerja sektor jasa keuangan yang tumbuh positif,” simpul Mahendra.

